31.9 C
Jakarta

Rumah Sendiri Rusak, Kader ‘Aisyiyah Tetap Buka Posko

Baca Juga:

NAGEKEO, MENARA62.COM — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 turut berdampak pada rumah Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Nagekeo, Istianah. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikannya untuk membantu warga yang membutuhkan.

 

Bersama keluarganya, Istianah justru mendirikan Posko ‘Aisyiyah Nagekeo secara mandiri di lingkungan rumahnya, RT 10 Alorongga, Kelurahan Baisatu, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

 

Rumah Istianah mengalami kerusakan sedang. Plafon rumah hancur dan sejumlah bagian dinding mengalami retakan. Beruntung, bangunan kos milik keluarganya yang berada di samping rumah utama relatif aman.

 

Bangunan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul relawan sekaligus pusat penerimaan dan penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak gempa.

 

“Kami terdampak juga, tapi ada keluarga dan saudara kita yang lebih memerlukan, yang lebih menderita dari kami,” ujar Istianah, Rabu (26/8/2026).

 

Menurutnya, situasi bencana membuat kelompok rentan menjadi pihak yang membutuhkan perhatian khusus. Bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan penyandang disabilitas memiliki kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

 

“Di kondisi bencana seperti ini, kelompok rentan menjadi yang paling membutuhkan perhatian. Karena itu, kami berusaha memastikan bantuan yang datang dapat segera disalurkan kepada mereka yang paling membutuhkan,” katanya.

 

Pinjam Dana agar Bantuan Tak Terlambat

 

Sejak awal bencana, PDA Nagekeo berkoordinasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan berbagai pihak untuk menjangkau kelompok rentan.

 

Bantuan awal datang dari Pemuda Peduli Nagekeo (PPN). Dana tersebut digunakan untuk membeli sembako, susu, popok, pembalut, kebutuhan ibu hamil dan menyusui, serta obat-obatan ringan.

 

Karena kebutuhan warga begitu mendesak, Istianah mengambil langkah lain. Ia berinisiatif meminjam dana kepada bendahara Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nagekeo agar bantuan dapat segera dibelanjakan sembari menunggu bantuan dari Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

 

“Kondisi sangat rentan dengan keadaan masyarakat di sini. Maka saya berinisiatif meminjam uang kepada bendahara IAI Nagekeo. Alhamdulillah, sebelum cairnya uang dari PPA, kami sudah bisa belanja dan menyalurkan bantuan,” tuturnya.

 

Posko ‘Aisyiyah Nagekeo kemudian menjadi salah satu titik persinggahan relawan dari berbagai daerah, termasuk Yogyakarta, Bandung, dan Sulawesi. Para relawan membawa bantuan menggunakan kendaraan dan menginap di bangunan kos milik keluarga Istianah.

 

Bantuan Menjangkau Puluhan Kilometer

 

Akses menuju sejumlah wilayah terdampak masih menjadi tantangan. Jalan sulit dilalui dan beberapa titik mengalami longsor.

 

Istianah bersama kader ‘Aisyiyah tetap mengupayakan bantuan sampai kepada warga. Untuk lokasi yang dapat dijangkau, bantuan diantar menggunakan mobil maupun sepeda motor.

 

Sementara untuk wilayah yang lebih jauh, bantuan dititipkan melalui relawan, LSM, dan pihak lain yang memiliki akses menuju kecamatan maupun desa sasaran.

 

Jangkauan bantuan bahkan mencapai sekitar 20 kilometer dari posko.

 

Tak sedikit pula pengungsi yang datang langsung ke Posko ‘Aisyiyah setelah mengetahui keberadaan bantuan melalui media sosial.

 

“Kadang ada pengungsi dari jauh datang yang mengungsi di pegunungan, karena lihat di media sosial, datang ke sini menangis-menangis meminta bantuan. Mereka tidak ada uang, sudah mengungsi, jadi butuh popok, butuh minyak, susu, maka kami kasih,” terang Istianah.

 

Kebutuhan semakin sulit dipenuhi pada beberapa hari pertama pascagempa. Banyak toko dan pusat perbelanjaan masih tutup sehingga Istianah harus mencari kebutuhan dari luar Kabupaten Nagekeo.

 

Barang-barang tersebut antara lain dipesan dari Ende dan Ngada melalui jaringan apotek yang dimilikinya.

 

“Pas hari ketiga bencana, kami belanja di luar kabupaten karena di sini belum ada yang buka. Ada yang di Ende, di Ngada. Kami kebetulan ada koneksi dengan apotek, sehingga kami pesan susu, minyak, dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.

 

Harga Kebutuhan Naik

 

Memasuki hari keempat, sejumlah toko mulai kembali beroperasi. Namun, meningkatnya permintaan karena banyak pihak melakukan pembelian untuk bantuan kemanusiaan turut mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan.

 

Istianah mencontohkan harga susu yang sebelumnya sekitar Rp42.000 meningkat menjadi Rp50.000.

 

Meski menghadapi keterbatasan, keluarga Istianah tetap terlibat dalam respons kemanusiaan. Keempat anggota keluarganya bahkan bergerak melalui posko yang berbeda.

 

Istianah bersama Posko ‘Aisyiyah, suaminya bergabung dengan Posko Laskar Manggala, putrinya menjadi koordinator Pemuda Peduli Nagekeo di wilayahnya, sedangkan putranya terlibat bersama WIS Indonesia.

 

Bagi Istianah, membantu warga terdampak merupakan bentuk pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas. Gempa memang berdampak pada keluarganya, tetapi kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk membantu warga yang membutuhkan.

 

“Ini adalah ketetapan Allah. Kita harus tetap bersabar dan bersyukur, tetap bersemangat dan terus berjuang,” ujarnya.

 

Ia berharap bencana segera berakhir sehingga masyarakat Nagekeo dapat memulihkan kehidupan dan kembali beraktivitas seperti biasa.

 

“Semoga bencana ini segera berakhir, sehingga masyarakat Nagekeo dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa,” pungkas Istianah.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!