SOLO, MENARA62.COM – Kesibukan mengejar kesuksesan dunia kerap membuat manusia lupa bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih panjang. Dalam Islam, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat untuk menanam amal sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Surakarta, HA Sukidi, M.Pd., dalam Pengajian Ahad Pagi Gajahan yang digelar di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Gajahan, Ahad (13/9/2026).
Di hadapan jamaah, Sukidi mengajak umat Islam menyelaraskan aktivitas kehidupan dengan orientasi akhirat. Menurutnya, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari kekayaan, jabatan, atau pencapaian duniawi, tetapi dari sejauh mana kehidupan dijalankan untuk memperoleh rida Allah.
“Dunia bukan tujuan akhir, tetapi perantara menuju kebahagiaan abadi di kampung akhirat,” menjadi salah satu pesan utama yang ditekankan dalam pengajian tersebut.
Ikhtiar Maksimal, Hasil Diserahkan kepada Allah
Sukidi menekankan bahwa orientasi akhirat bukan berarti umat Islam meninggalkan urusan dunia. Sebaliknya, setiap muslim tetap dituntut bekerja, berusaha, dan menjalankan tanggung jawab secara sungguh-sungguh.
Ikhtiar tersebut, kata dia, harus disertai kesabaran dan tawakal. Manusia berkewajiban melakukan usaha terbaik, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Sikap tersebut penting agar seseorang tidak mudah larut dalam kekecewaan ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan.
Dengan ikhtiar dan tawakal, usaha tetap dilakukan secara maksimal tanpa menjadikan hasil duniawi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Kesuksesan Tak Hanya Soal Materi
Dalam pengajian itu, Sukidi juga mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada ukuran kesuksesan yang semata-mata bersifat material.
Kesuksesan hakiki, menurutnya, berkaitan dengan rida Allah yang diperoleh melalui amal saleh, pemenuhan amanah, serta menjauhi dosa dan kemaksiatan.
Karena itu, aktivitas seperti bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, dan berinteraksi dengan masyarakat dapat bernilai ibadah selama dilakukan dengan niat yang baik serta tidak bertentangan dengan syariat.
Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan rezeki yang diperoleh berasal dari sumber yang halal.
Kekayaan yang diperoleh melalui cara yang haram, meskipun secara lahiriah terlihat melimpah, justru dapat menghilangkan keberkahan dalam kehidupan.
Berbuat Baik dan Jangan Merusak Bumi
Orientasi akhirat juga tercermin dalam hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan.
Sukidi mengajak jamaah memperbanyak perbuatan baik, termasuk membantu sesama, saling memaafkan, bersedekah, serta menjaga hubungan sosial.
Keimanan, menurut pesan yang disampaikan dalam pengajian, tidak cukup diwujudkan melalui ibadah ritual. Nilai keislaman juga harus terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Manusia juga memiliki tanggung jawab menjaga bumi dan menghindari berbagai bentuk kerusakan. Kehidupan yang baik harus dibangun dengan memperhatikan tatanan alam serta aturan Allah.
Karena itu, mengejar kepentingan pribadi dengan mengorbankan lingkungan maupun kepentingan masyarakat bertentangan dengan prinsip kehidupan yang membawa keberkahan.
Istiqamah di Tengah Tantangan Zaman
Sukidi turut mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah dan akhlak di tengah perubahan sosial dan budaya.
Salat, doa, tahajud, serta menghadiri pengajian dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga hati agar tidak mudah larut dalam kesibukan dunia.
Namun, istiqamah tidak hanya berarti konsisten menjalankan ibadah ritual. Sikap sabar menghadapi ujian, menjaga amanah, menghindari kemaksiatan, serta mempertahankan akhlak dalam kehidupan sosial juga menjadi bagian penting dari istiqamah.
Keluarga menjadi salah satu ruang utama untuk menerapkan nilai tersebut.
Tatanan keluarga yang dijalankan sesuai tuntunan agama, dengan tanggung jawab dan peran masing-masing anggota keluarga, diharapkan dapat menjadi fondasi terciptanya kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan.
Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Pesan utama Pengajian Ahad Pagi Gajahan tersebut bermuara pada pentingnya keseimbangan.
Umat Islam tidak diminta meninggalkan dunia, tetapi mengarahkannya agar menjadi sarana menuju tujuan akhirat.
Pekerjaan, usaha, pendidikan, kehidupan keluarga, dan aktivitas sosial tetap dijalankan dengan sungguh-sungguh. Namun, semuanya perlu ditempatkan dalam kerangka ibadah dan tanggung jawab kepada Allah.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada apa yang berhasil dikumpulkan selama hidup, tetapi juga pada amal yang ditinggalkan dan rida Allah yang diharapkan.
Melalui pengajian tersebut, jamaah diajak kembali menata orientasi hidup: berikhtiar dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki yang halal, memperbanyak kebaikan, menjaga lingkungan, istiqamah dalam ibadah, serta menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. (*)


