SOLO, MENARA62.COM — Film tak hanya menjadi medium hiburan. Bagi Muhammad Farhan, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, film juga bisa menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Gagasan itu mengantarkan Farhan meraih Juara 1 Lomba Review Film “Panjat Pintar 2.0” yang diselenggarakan Tempo Institute. Dalam kompetisi tingkat nasional tersebut, Farhan mengulas film drama Indonesia Pangku yang tayang di platform streaming Netflix.
Ulasan Farhan menarik perhatian dewan juri karena tidak berhenti pada pembahasan alur, sinematografi, maupun aspek naratif film. Ia menghubungkan cerita dalam Pangku dengan fenomena sosial yang tengah menjadi perbincangan publik.
Salah satunya adalah perdebatan mengenai fenomena “cowok provider” yang ramai di media sosial.
Berangkat dari Perdebatan “Cowok Provider”
Farhan mengatakan gagasan tulisannya bermula dari keresahan ketika melihat perdebatan warganet mengenai standar finansial dalam relasi laki-laki dan perempuan.
Menurut dia, perdebatan tersebut kerap berkutat pada persoalan teknis, seperti siapa yang membayar ketika berkencan atau bagaimana kriteria finansial pasangan. Dari situ, Farhan mencoba melihat persoalan yang lebih mendasar mengenai peran laki-laki dalam relasi sosial.
“Di media sosial orang sering meributkan hal-hal kecil, seperti siapa yang membiayai saat berkencan atau kriteria finansial pasangan. Padahal fenomena yang jauh lebih fundamental adalah krisis peran qawwam atau kepemimpinan pada laki-laki,” ujar Farhan, Sabtu (19/9/2026).
Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep qawwam dalam perspektif Islam serta bagaimana film Pangku merepresentasikan persoalan peran laki-laki dalam konteks sosial masa kini.
“Dalam ajaran Islam, prinsip Ar-rijalu qawwamuna ‘alan-nisa’ telah mengatur secara jelas bagaimana tanggung jawab, etika, dan peran laki-laki seharusnya. Film Pangku ini secara tepat merefleksikan krisis peran tersebut dalam konteks sosial masa kini,” katanya.
Tonton Film Dua Kali, Riset Selama Sepekan
Untuk menyusun ulasan, Farhan tidak sekadar mengandalkan kesan setelah menonton film. Ia menyaksikan Pangku sebanyak dua kali sambil mencatat berbagai detail yang dianggap relevan dengan argumentasi yang ingin dibangun.
Proses penyusunan tulisan dilakukan secara bertahap selama sekitar satu minggu. Farhan mengaku membutuhkan waktu untuk mengendapkan gagasan sekaligus memastikan argumentasi yang disampaikan tetap tajam dan objektif.
“Saya tipe penulis yang suka mencicil naskah. Kalau dihitung total durasi penulisan sekali duduk mungkin sekitar lima jam, tetapi proses pengendapan ide dan penyusunan argumennya saya lakukan dalam rentang waktu satu minggu agar analisisnya bisa lebih matang,” ujarnya.
Hasilnya, ulasan tersebut mampu membawa Farhan menjadi pemenang dalam kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai latar belakang.
Farhan mengaku sempat terkejut ketika namanya diumumkan sebagai juara. Ia menilai kompetisi tersebut berlangsung ketat, terlebih ajang diselenggarakan oleh Tempo Institute.
Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan keterampilan komunikasi untuk membaca karya budaya sekaligus menghubungkannya dengan persoalan sosial.
Dorong Mahasiswa Berani Berkarya
Bagi Farhan, kemenangan tersebut bukan sekadar pencapaian dalam sebuah kompetisi. Ia berharap pengalaman mengikuti lomba dapat mendorong mahasiswa lain untuk lebih berani menguji kemampuan melalui karya.
Ia pun mengajak mahasiswa tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya tujuan ketika mengikuti kompetisi.
“Kuncinya sederhana, berani mencoba dan ikutan lomba terlebih dahulu. Jangan terlalu pusing memikirkan menang atau kalah. Hal yang paling utama adalah kita memiliki keberanian untuk menghasilkan karya nyata, serta terus mengasah kemampuan diri melalui proses latihan dan evaluasi yang konsisten,” tutur Farhan. (*)
