SOLO, MENARA62.COM – Paparan informasi digital yang semakin mudah diakses anak usia sekolah dasar menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan. Menjawab persoalan tersebut, dosen Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat literasi informasi bagi anak dan guru di Sanggar Belajar (SB) Kepong, Malaysia.
Upaya itu dilakukan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema PkM-KI bertajuk “Penguatan Literasi Komunikasi pada Komunitas Migran melalui Pendekatan Community Engagement: Peningkatan Kapasitas Guru Sekolah Dasar dalam Literasi Informasi.”
Program yang dilaksanakan pada Kamis (17/9/2026) tersebut melibatkan 39 anak dan guru SB Kepong. Tim pengabdian dipimpin Dr. Dian Purworini, S.Sos., M.M., bersama Rona Rizkhy Bunga Chasana, Riski Apriliani, dan Endang Wahyu Pamungkas.
Program dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mendampingi anak menghadapi beragam informasi dan konten digital. Pendekatan yang digunakan mengacu pada literasi digital berbasis Social Cognitive Theory, sehingga anak tidak sekadar memahami konsep literasi informasi, tetapi juga belajar mengamati, mempertimbangkan, dan mempraktikkan perilaku bermedia secara bijak.
Kenalkan Prinsip “SARING sebelum Sharing”
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembelajaran bersama anak-anak SB Kepong. Ketua tim pengabdian yang juga Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi UMS, Dian Purworini, memperkenalkan prinsip “SARING sebelum Sharing” sebagai langkah sederhana membangun kebiasaan literasi informasi.
“Anak-anak diajak memahami bahwa informasi yang ditemui melalui media sosial maupun ruang digital tidak selalu dapat langsung dipercaya atau dibagikan,” ungkap Dian, Sabtu (19/9/2026).
Melalui prinsip tersebut, siswa diajak membiasakan diri berhenti sejenak ketika menerima informasi. Mereka belajar mengenali informasi, memeriksa kebenarannya, serta mempertimbangkan dampaknya sebelum menyebarkan kepada orang lain.
Dian mengatakan, anak-anak saat ini semakin rentan terpapar berbagai jenis informasi bermasalah di ruang digital, termasuk misinformasi, disinformasi, malinformasi, hingga meme yang mengandung unsur perundungan atau bullying.
“Di era sekarang ini anak-anak semakin rentan terkena paparan konten yang misinformasi, disinformasi, dan malinformasi maupun meme yang mengandung bullying. Maka pengabdian ini diharapkan mampu memberikan tambahan bagi guru untuk menyelipkan pembelajaran terkait literasi ini kepada siswa,” jelasnya.
Literasi Informasi Dikemas Lewat Permainan
Agar materi lebih mudah dipahami anak, tim pengabdian menggunakan metode gamifikasi. Riski Apriliani dan Rona Rizkhy Bunga Chasana mengajak siswa bermain, bercerita, serta berdialog mengenai berbagai situasi yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Metode tersebut membuat pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui ceramah. Anak-anak diajak mengenali situasi ketika menerima informasi, menemukan konten digital, hingga berinteraksi dengan teman di ruang digital.
Dengan pendekatan tersebut, konsep literasi informasi diharapkan lebih dekat dengan pengalaman anak dan dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Setelah pembelajaran bersama siswa, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama guru dan pengelola SB Kepong.
FGD membahas pendampingan penggunaan Modul Literasi Informasi yang dikembangkan tim pengabdian. Modul tersebut berisi langkah-langkah untuk membantu guru mengintegrasikan materi literasi informasi ke dalam proses pembelajaran.
Kepala Sekolah SB Kepong, Afif, menyambut baik program yang dilakukan tim UMS. Salah seorang guru SB Kepong, Renggo, juga menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat sekaligus wawasan baru bagi para guru.
Menurut Renggo, SB Kepong sebelumnya belum memperoleh pendampingan secara khusus terkait literasi informasi bagi anak.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim pengabdian UMS turut menyerahkan Modul dan Poster Literasi Informasi kepada SB Kepong. Materi tersebut diharapkan dapat digunakan guru sebagai bahan pendampingan dalam kegiatan pembelajaran.
Program ini menggunakan pendekatan community engagement, dengan menempatkan guru dan siswa bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran dan keberlanjutan program.
Penguatan kapasitas guru menjadi salah satu strategi agar literasi informasi dapat terus diterapkan setelah program pengabdian selesai. Dengan demikian, pembelajaran literasi informasi diharapkan berkembang menjadi kebiasaan belajar anak dalam menghadapi derasnya arus informasi digital.
Melalui program tersebut, tim PkM FKI UMS berharap budaya literasi informasi yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab dapat tumbuh di kalangan anak-anak komunitas migran Indonesia di Malaysia. Pada saat yang sama, guru diharapkan semakin siap mendampingi anak menghadapi tantangan informasi di era digital. (*)
