SOLO, MENARA62.COM – Tafsir Surah Ad-Duha menjadi pintu masuk untuk menggali keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua MUI Kota Surakarta sekaligus Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Surakarta, Ustaz H Abdul Mutolib, M.Ag., dalam Pengajian Ahad Pagi di Gajahan, Pasarkliwon, Surakarta, Ahad (20/9/2026).
Pengajian yang berlangsung di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Gajahan itu diikuti jamaah dengan pembahasan utama mengenai Surah Ad-Duha serta perjalanan kehidupan Rasulullah SAW sejak masa kanak-kanak hingga menjadi sosok yang dikenal amanah dan sukses dalam berdagang.
Dalam kajiannya, Abdul Mutolib menjelaskan bahwa Surah Ad-Duha memiliki pesan kuat tentang pertolongan dan kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi kesulitan.
Menurutnya, kehidupan Rasulullah sejak kecil tidak terlepas dari berbagai ujian. Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir. Nabi kemudian kehilangan ibunya, Aminah, ketika masih kecil.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Rasulullah tumbuh tanpa kasih sayang. Allah memberikan sosok pengganti melalui kakeknya, Abdul Muthalib, kemudian pamannya, Abu Thalib.
“Anak yatim membutuhkan kasih sayang. Karena itu, jangan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan perhatian dan pendampingan,” demikian pesan yang ditekankan dalam kajian tersebut.
Anak Yatim Tak Cukup Hanya Dibantu Secara Materi
Abdul Mutolib juga mengaitkan pesan Surah Ad-Duha dengan kondisi anak yatim dan kaum lemah di tengah masyarakat.
Menurut dia, lembaga sosial, termasuk panti asuhan, memiliki peran penting dalam memberikan perlindungan, pendidikan, pendampingan, sekaligus dukungan ekonomi kepada anak yatim dan kelompok mustad’afin.
Bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membangun mental dan kemandirian sehingga mereka mampu keluar dari lingkaran kemiskinan.
“Yang dibutuhkan bukan hanya bantuan, tetapi bagaimana mereka memiliki pendidikan, pembinaan dan kesempatan untuk mandiri,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam pengajian.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun mental yang kuat agar keterbatasan ekonomi tidak diwariskan menjadi pola pikir dan ketidakberdayaan antargenerasi.
Kejujuran Nabi Jadi Kunci Kesuksesan Berdagang
Pembahasan kemudian berlanjut pada kehidupan Rasulullah SAW ketika memasuki usia muda. Nabi Muhammad dikenal memiliki akhlak mulia dan menjaga diri dari berbagai kebiasaan buruk masyarakat jahiliah.
Salah satu keteladanan yang mendapat perhatian adalah kejujuran Rasulullah dalam berdagang.
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang amanah. Kepercayaan tersebut kemudian menjadi modal penting ketika beliau menjalankan perdagangan yang dipercayakan oleh Siti Khadijah.
Abdul Mutolib menekankan empat karakter utama yang dapat diteladani dalam kehidupan dan dunia usaha, yakni sidq atau kejujuran, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau mampu menyampaikan informasi dengan benar, serta fathanah atau kecerdasan.
Keempat nilai tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa keberhasilan dalam usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencari keuntungan, tetapi juga karakter dan integritas.
Dalam kajian itu, kisah Nabi juga dikontraskan dengan kisah Fir’aun sebagai gambaran tentang dampak buruk kesombongan, ketidakadilan dan perilaku yang merugikan orang lain.
Kaya tetapi Tetap Sederhana
Pesan lain yang disampaikan adalah tentang hubungan antara kekayaan dan kesederhanaan.
Menurut materi kajian, Nabi Muhammad SAW tidak menempatkan kekayaan sebagai tujuan hidup. Meskipun memiliki kemampuan ekonomi, Rasulullah tetap menjalani kehidupan secara sederhana dan dikenal sebagai pribadi yang dermawan.
Sikap tersebut menjadi pelajaran penting di tengah budaya konsumtif. Kesederhanaan dinilai dapat membuat seseorang lebih siap menghadapi perubahan kondisi kehidupan dan tidak terjebak pada gaya hidup yang berlebihan.
Rasulullah juga dikenal memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat yang membutuhkan. Semangat berbagi dan bersedekah menjadi bagian penting dari keteladanan beliau.
Pengajian kemudian ditutup dengan doa serta ajakan kepada jamaah untuk terus meningkatkan keimanan, menjaga istiqamah dan memperbanyak amal sosial. Jamaah juga diarahkan untuk berpartisipasi dalam pengumpulan infak bagi kegiatan kemanusiaan.
Melalui tafsir Surah Ad-Duha, Abdul Mutolib mengajak jamaah melihat kembali perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi ujian, membangun ketangguhan mental, menjaga kejujuran, membantu anak yatim dan kaum lemah, serta menjalani kehidupan dengan sederhana dan penuh kepedulian. (*)

