BOYOLALI, MENARA62.COM — Bukan sekadar memahami teori, 75 calon jemaah haji KBIHU ARMINA Kartasura, Sukoharjo, diajak merasakan langsung gambaran perjalanan ibadah haji sebelum bertolak ke Tanah Suci.
Mereka mengikuti praktik ibadah haji di kawasan Wisata Edukasi Religi Qolbu, Boyolali, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan manasik yang mendapat dukungan Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id.
Dalam praktik tersebut, calon jemaah mengikuti simulasi perjalanan haji secara langsung, mulai dari maktab atau hotel menuju Mina, Arafah, Muzdalifah, kembali ke Mina, hingga Jamarat.
Tiga pembimbing manasik, yakni Ustaz Dr. Imron Rosyadi, Ustaz Afbintoro, dan Ustaz Mahfudz Furqoni, memberikan arahan pada setiap tahapan. Mereka didukung 17 pengurus lainnya.
Imron yang juga dosen Fakultas Agama Islam UMS mengatakan, praktik lapangan merupakan bagian penting dalam pembinaan calon jemaah. Sebab, pemahaman mengenai haji tidak cukup hanya diperoleh melalui teori.
“Pola pembinaan tersebut dilakukan agar calon jamaah tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga memiliki pengalaman praktik dan gambaran yang lebih nyata mengenai rangkaian perjalanan ibadah haji,” ujar Imron.
Simulasi dari Maktab hingga Jamarat
Ketua KBIHU ARMINA Kartasura, H. M. Yahya, mengatakan pemilihan Wisata Edukasi Religi Qolbu Boyolali bukan tanpa alasan.
Menurut dia, lokasi tersebut memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk menggambarkan rangkaian perjalanan jemaah haji selama berada di Tanah Suci.
“Tempat ini dipilih karena fasilitas untuk praktik hajinya cukup lengkap, sehingga peserta dapat memperoleh gambaran seperti ketika berada di Makkah,” kata Yahya.
Para calon jemaah kemudian mengikuti alur perjalanan yang telah disiapkan. Mereka mempraktikkan perpindahan dari maktab atau hotel menuju Mina, Arafah, Muzdalifah, kembali ke Mina, hingga menuju Jamarat.
Dengan mengikuti alur tersebut secara langsung, calon jemaah diharapkan tidak lagi sekadar membayangkan tahapan ibadah haji berdasarkan penjelasan di ruang pembelajaran.
“Dengan praktik secara langsung dan mengikuti alur perjalanan tersebut, peserta akan lebih mudah memahami bagaimana pelaksanaan ibadah haji nantinya di Makkah,” ujarnya.
Dari Teori ke Pengalaman Langsung
Praktik haji tersebut merupakan tahapan lanjutan dari pembinaan manasik yang dilakukan KBIHU ARMINA Kartasura.
Sebelumnya, para calon jemaah telah memperoleh materi teori, praktik ibadah umrah, serta kembali mendapatkan teori mengenai pelaksanaan ibadah haji.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan praktik haji secara langsung.
Bagi peserta, metode pembelajaran bertahap tersebut membantu mengubah materi yang semula bersifat teoritis menjadi pengalaman yang lebih mudah dipahami.
Husnun, salah seorang calon jemaah haji tahun 2027, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari rangkaian pembinaan tersebut.
“Alhamdulillah ikut manasik dan praktik haji bersama ARMINA mendapat ilmu tentang ibadah haji dan umrah yang komplit dan komprehensif. Para pembimbingnya berkompeten dan benar-benar membimbing kami dari nol. Dari tidak tahu apa-apa menjadi paham,” kata Husnun.
Ia juga mengapresiasi pelayanan panitia serta fasilitas yang diberikan selama program manasik.
“Para panitianya juga super sat-set memberikan pelayanan kepada jamaah. Fasilitasnya juga luar biasa, buku panduannya komplit. Terima kasih banyak ARMINA Kartasura,” ujarnya.
Calon jemaah lainnya, Betty, menilai simulasi di Boyolali membantu peserta memahami urutan perjalanan haji.
Menurut dia, fasilitas yang tersedia membuat peserta lebih mudah membayangkan kondisi perjalanan di Tanah Suci.
“Tempat untuk praktik haji lengkap seperti di Makkah. Mulai dari maktab atau hotel, ke Mina, Arafah, Muzdalifah, Mina lagi, terus ke Jamarat, dan seterusnya lengkap,” tutur Betty.
Ia menilai pengalaman praktik membuat materi yang sebelumnya disampaikan secara teori menjadi lebih mudah diingat.
“Kalau hanya mendengarkan penjelasan, mungkin kami masih sulit membayangkan urutannya. Namun, setelah melihat tempat dan mempraktikkan langsung, kami menjadi lebih paham harus mulai dari mana, ke mana, dan apa saja yang dilakukan dalam setiap tahapan,” katanya.
Bukan Sekadar Belajar Manasik
Bagi peserta lainnya, pembinaan di KBIHU ARMINA juga memiliki dimensi spiritual yang lebih luas.
Imam Mujahid mengatakan, mengikuti manasik bukan semata-mata untuk menghafalkan urutan perjalanan haji. Baginya, proses tersebut juga menjadi momentum untuk menata niat dan meningkatkan kualitas ibadah.
“Bagi saya dan istri, KBIHU ARMINA bukan hanya tempat belajar manasik, melainkan tempat menata niat dan memperbaiki cara beribadah,” ujar Imam.
Ia berharap pembinaan tersebut dapat menjadi bekal untuk menjalankan rukun, wajib, serta sunnah haji dengan lebih baik.
“Insya Allah, ikhtiar ini menjadi jalan kami menuju haji mabrur. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin,” katanya.
Dalam praktik tersebut, para pembimbing memberikan penjelasan pada setiap tahapan. Peserta tidak hanya diarahkan mengikuti alur perjalanan, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai tata cara ibadah serta berbagai hal yang perlu diperhatikan selama berada di Tanah Suci.
Dukungan LPPIK UMS dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan keislaman dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya calon jemaah haji.
Pembinaan diarahkan tidak hanya pada penguasaan tata cara ibadah, tetapi juga kesiapan fisik, psikis, mental, spiritual, kedisiplinan, kemandirian, dan kebersamaan jemaah.
Melalui kombinasi teori, praktik umrah, teori haji, dan praktik ibadah haji, KBIHU ARMINA Kartasura bersama LPPIK UMS berupaya memberikan pembekalan secara bertahap dan menyeluruh.
Praktik di Boyolali pun menjadi salah satu ikhtiar agar 75 calon jemaah memiliki pengalaman awal sebelum menghadapi perjalanan ibadah haji yang sesungguhnya.
Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan lebih siap menjalani setiap tahapan ibadah secara tenang, tertib, mandiri, dan sesuai tuntunan. (*)

