30.4 C
Jakarta

Seharusnya Orang Pintar Lebih Cerdas dan Bijaksana

Baca Juga:

(Antara Ilmu, Akal, dan Integritas Moral)

 

Oleh: Dr. Risman Muchtar, M.Si

 

JAKARTA, MENARA62.COM – Dalam pandangan umum, orang yang berpendidikan tinggi, terlebih yang bergelar akademik hingga profesor, sering diasosiasikan dengan kecerdasan dan kebijaksanaan. Namun realitas menunjukkan bahwa kepintaran intelektual tidak selalu berbanding lurus dengan kejernihan berpikir, kedalaman spiritual, maupun kematangan sosial.

 

Tidak sedikit orang berilmu yang justru terjebak dalam sikap tidak rasional, emosional, bahkan destruktif dalam ruang publik.

Pernyataan-pernyataannya tidak lagi mencerminkan keluasan ilmu, tetapi lebih menyerupai luapan kepentingan, fanatisme, atau dorongan hawa nafsu.

 

Padahal dalam Islam, ilmu bukan sekadar akumulasi pengetahuan, melainkan cahaya yang seharusnya menuntun manusia kepada kebenaran dan kebijaksanaan.

 

Allah ﷻ berfirman:

_“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”_ (QS. Fathir: 28)

 

Ayat ini menegaskan bahwa indikator utama orang berilmu bukan hanya kepintaran, tetapi rasa takut kepada Allah (khasyiah) yang melahirkan kehati-hatian dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.

 

*Ketika Ilmu Tidak Melahirkan Kecerdasan*

 

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan orang pintar gagal menjadi benar-benar cerdas dan bijaksana:

 

1. Fanatisme Golongan: Penjara Akal Sehat

 

Fanatisme yang sempit menjadikan seseorang kehilangan objektivitas. Ia tidak lagi menilai berdasarkan kebenaran, tetapi berdasarkan siapa yang berbicara.

 

Fenomena ini dalam istilah klasik sering disebut sebagai _ta‘ashshub_ , yaitu keberpihakan buta yang menutup pintu kebenaran. Dalam kondisi ini, akal tidak lagi berfungsi sebagai alat pencari kebenaran, melainkan menjadi alat pembenaran.

 

*Ibnu Khaldun* dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa fanatisme kelompok (_’ashabiyyah_ ) bisa menjadi kekuatan sosial, tetapi sekaligus berpotensi merusak keadilan dan objektivitas jika tidak dikendalikan oleh nilai kebenaran.

Akibatnya, orang pintar bisa berubah menjadi sempit cara pandangnya, bahkan menolak kebenaran hanya karena datang dari luar kelompoknya.

 

2. Arogansi Intelektual: Kesombongan yang Membutakan

 

Kesombongan adalah penyakit klasik yang menghancurkan ilmu. Merasa paling benar dan paling pintar justru menjadi tanda dangkalnya kedewasaan intelektual.

 

*Al-Ghazali* dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai dengan kerendahan hati akan melahirkan kibr (kesombongan), yang justru menjauhkan seseorang dari kebenaran.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

_“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar zarrah.”_

(HR. Muslim)

 

Arogansi intelektual membuat seseorang:

 

– Enggan menerima kritik

– Meremehkan orang lain

– Berbicara tanpa kehati-hatian

– Mengedepankan emosi daripada argumentasi

 

Padahal, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula kerendahan hatinya.

 

3. Syahwat Keduniaan: Ketika Nafsu Mengalahkan Akal

 

Salah satu penyebab paling serius rusaknya kecerdasan adalah dominasi hawa nafsu. Ketika orientasi hidup bergeser kepada kepentingan duniawi (harta, jabatan, popularitas, atau syahwat) maka akal kehilangan independensinya.

 

Allah ﷻ berfirman:

_“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”_

(QS. Al-Jatsiyah: 23)

 

Dalam kondisi ini:

 

– Ilmu dijadikan alat legitimasi kepentingan

– Kebenaran dikompromikan demi keuntungan

– Integritas dikorbankan demi kekuasaan

 

Akal yang seharusnya memimpin, justru tunduk pada nafsu. Maka benar adanya ungkapan: ketika syahwat naik, akal sehat turun.

 

Kecerdasan Sejati: Sinergi Akal, Hati, dan Moral

 

Kecerdasan sejati bukan hanya soal kemampuan berpikir logis, tetapi juga tentang:

 

– Kejernihan hati (qalb)

– Kekuatan moral (akhlaq)

– Kedewasaan spiritual (iman)

 

Dalam perspektif Islam, orang cerdas adalah mereka yang mampu menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kebenaran, bukan sebagai alat untuk membenarkan diri.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

_“Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”_

(HR. Tirmidzi)

 

Ini menunjukkan bahwa kecerdasan sejati adalah kecerdasan yang berorientasi pada tanggung jawab moral dan kesadaran akhirat, bukan sekadar kecakapan intelektual.

 

Penutup: Dari Pintar Menuju Bijaksana

 

Menjadi pintar itu penting, tetapi menjadi bijaksana jauh lebih penting. Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kerusakan, sementara ilmu yang dipandu oleh iman akan melahirkan peradaban.

Karena itu, tantangan terbesar bagi orang berilmu bukanlah bagaimana menambah pengetahuan, tetapi bagaimana:

 

– Menjaga kejernihan hati

– Mengendalikan ego

– Menundukkan hawa nafsu

– Dan tetap setia pada kebenaran

 

Pada akhirnya, yang dibutuhkan umat ini bukan sekadar orang pintar, tetapi orang pintar yang jujur, rendah hati, dan berintegritas.

 

Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!