32.7 C
Jakarta

Revitalisasi Inteligensia, BEM FAI UMS Soroti Peran Perempuan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Pendidikan tidak hanya soal mengejar prestasi akademik. Cara seseorang berpikir, bersikap, memimpin, dan mengambil peran di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Perspektif itu mengemuka dalam diskusi Revitalisasi Inteligensia yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (BEM FAI UMS).

 

Diskusi bertajuk “Perempuan dan Pendidikan: Meneguhkan Peran dalam Membangun Peradaban” tersebut berlangsung di Ruang A301 Gedung A FAI UMS Kampus 1, Senin (28/9/2026). Mahasiswa berprestasi, Nila Pinkan Nauntika, hadir sebagai pemantik diskusi.

 

Forum tersebut membicarakan kembali makna pendidikan sekaligus posisi perempuan dalam pembangunan peradaban. Pembahasan tidak berhenti pada pendidikan formal, tetapi berkembang pada persoalan pembentukan kesadaran, karakter, kepemimpinan, hingga cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Kepala Bidang Pengembangan Intelektual dan Keilmuan (PIK) BEM FAI UMS, Muhariq Faqih, mengatakan ruang intelektual perlu terus dihidupkan di lingkungan mahasiswa.

 

Menurut dia, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penerima pengetahuan. Mereka perlu memiliki ruang untuk mengolah informasi, mempertanyakan persoalan, berdialog, serta melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang.

 

“BEM FAI UMS ingin menghadirkan ruang diskusi yang membuat mahasiswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga berani berpikir, berdialog, dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Bagi kami, intelektualitas harus terus dihidupkan melalui ruang-ruang seperti ini,” ujar Muhariq, Selasa (29/9/2026).

 

Pendidikan Membentuk Cara Pandang

 

Dalam diskusi tersebut, Nila Pinkan Nauntika menekankan bahwa revitalisasi pendidikan perlu dimulai dengan mengembalikan pendidikan pada fungsi dasarnya.

 

Pendidikan, menurut dia, tidak semata-mata berkaitan dengan perolehan pengetahuan atau pencapaian akademik. Lebih jauh, pendidikan merupakan proses membentuk pola pikir dan sikap manusia dalam menghadapi kehidupan.

 

“Pendidikan juga sebagai proses membentuk pola pikir dan sikap manusia dalam menghadapi kehidupan,” jelas Nila.

 

Ia menjelaskan, pendidikan turut memengaruhi cara seseorang merespons berbagai persoalan di sekitarnya. Apa yang seseorang lihat, tonton, dan baca secara terus-menerus dapat membentuk pola pikir sekaligus memengaruhi cara memahami diri sendiri maupun lingkungan.

 

Karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun manusia yang tidak sekadar berpengetahuan, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap kehidupan sosial di sekitarnya.

 

Perempuan dan Ruang Pengetahuan

 

Nila juga menyoroti posisi perempuan dalam proses pembentukan generasi dan perkembangan pendidikan. Menurut dia, sejarah menunjukkan perempuan bukan sekadar penerima manfaat pendidikan, tetapi juga memiliki kontribusi dalam membangun ruang pengetahuan dan peradaban.

 

Ia mencontohkan Fatimah al-Fihri yang dikenal memiliki keterkaitan dengan pendirian Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko.

 

“Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pendidikan bukanlah fenomena baru. Perempuan telah mengambil bagian dalam membangun ruang pengetahuan dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan masyarakat,” kata Nila.

 

Meski demikian, perempuan yang hadir di ruang publik masih menghadapi pandangan yang mempertanyakan kapasitasnya, terutama ketika memasuki wilayah kepemimpinan.

 

Nila mengatakan perempuan kerap dituntut untuk menunjukkan kemampuan dan menyampaikan gagasan secara lebih kuat agar memperoleh ruang dalam kehidupan publik.

 

Dalam konteks kepemimpinan, ia menekankan bahwa kepemimpinan semestinya diawali dari kemampuan memperbaiki diri. Perubahan tidak cukup dilakukan dengan mengarahkan orang lain, tetapi harus dimulai dari perilaku dan keteladanan pribadi.

 

“Karakter yang baik menjadi salah satu dasar untuk membangun kehormatan dan kepercayaan,” tuturnya.

 

Tiga Relasi Pembentuk Karakter

 

Nila kemudian mengaitkan pembentukan karakter dengan keseimbangan tiga hubungan. Pertama, hubungan manusia dengan Allah atau hablum minallah. Kedua, hubungan manusia dengan sesama atau hablum minannas. Ketiga, hubungan manusia dengan ilmu pengetahuan atau hablum minal ‘ilm.

 

Ketiganya, kata Nila, saling berkaitan dalam membentuk pribadi yang memiliki kesadaran sekaligus tanggung jawab.

 

Melalui diskusi tersebut, BEM FAI UMS mendorong mahasiswa untuk melihat pembangunan peradaban sebagai proses yang membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan pengetahuan.

 

Pengetahuan, dalam perspektif forum tersebut, perlu diterjemahkan menjadi sikap, karakter, dan tindakan nyata. Dengan demikian, revitalisasi inteligensia tidak berhenti pada aktivitas berpikir, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali semangat belajar, berdialog, dan mengambil peran dalam kehidupan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!