SOLO, MENARA62.COM – Inovasi filter air berbahan daun bambu mengantarkan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id meraih juara pertama tingkat internasional. Melalui gagasan bertajuk BALFOGER, tim UMS menawarkan alternatif teknologi penyaringan air yang memanfaatkan material organik dan perekat ramah lingkungan.
Prestasi tersebut diraih dalam kategori Design Poster pada ajang The 2nd International Engineering Competition Mandalika Competition 2026. Inovasi ini berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap persoalan pencemaran air sekaligus upaya mencari alternatif material penyaring yang lebih ramah lingkungan.
Tim UMS dipimpin Naura Ayu Rafadani dari Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik (FT), bersama dua anggota, yakni Siska Ristiyana dari Program Studi Teknik Industri dan Satria Gemilang Kusuma Perdana dari Program Studi Teknik Mesin.
Naura menjelaskan, gagasan BALFOGER muncul dari keprihatinan terhadap persoalan pencemaran air yang semakin kompleks. Menurutnya, penggunaan filter konvensional juga perlu dikaji dari sisi dampak lingkungan, terutama terkait potensi residu partikel maupun sisa bahan kimia.
Kondisi tersebut mendorong timnya mengeksplorasi bahan organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai material penyaring air.
“Filter daun bambu ini kami pilih karena selain permasalahan pencemaran air yang kompleks, filter konvensional juga berpotensi mencemari air. Kami kemudian mengembangkan gagasan filter dari daun bambu dengan perekat bio-organik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan,” jelas Naura, Selasa (20/10/2026).
Daun Bambu Jadi Alternatif Material Penyaring
Selama ini, pemanfaatan bambu lebih banyak berfokus pada bagian batang untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kerajinan hingga material bangunan. Padahal, bagian daunnya juga berpotensi dikembangkan menjadi material penyaring air.
Untuk merumuskan inovasi BALFOGER, tim UMS melakukan kajian terhadap sejumlah jurnal internasional yang membahas potensi daun bambu sebagai bahan filter. Dari penelusuran literatur tersebut, mereka berupaya mengidentifikasi peluang pengembangan, khususnya pada penggunaan bahan tambahan dan perekat dalam proses penyaringan.
Gagasan awal pemanfaatan daun bambu sebagai filter berasal dari Siska, yang sebelumnya telah mempelajari potensi material tersebut. Ide itu kemudian dikembangkan bersama Naura dan Satria dengan menitikberatkan pada penggunaan perekat berbahan organik.
Keterlibatan mahasiswa dari tiga program studi berbeda turut memberikan perspektif lintas disiplin dalam merancang konsep inovasi. Masukan dari anggota berlatar belakang teknik mesin, misalnya, digunakan untuk mempertimbangkan bentuk dan desain filter yang sesuai dengan karakteristik material.
Proses penyusunan kajian hingga menjadi karya ilmiah berlangsung sekitar satu minggu. Dalam periode tersebut, tim berdiskusi untuk mengevaluasi kekurangan inovasi terdahulu dan merumuskan kemungkinan pengembangan BALFOGER.
Raih Juara Internasional, Prototipe Jadi Target Berikutnya
Meski sukses meraih juara pertama internasional, Naura menegaskan bahwa BALFOGER masih berada pada tahap kajian literatur. Tim belum melakukan praktik pembuatan filter maupun pengujian langsung untuk membuktikan kinerja penyaringan airnya.
Karena itu, pengembangan prototipe menjadi target penting berikutnya. Melalui pembuatan dan pengujian langsung, tim berharap dapat mengevaluasi kelayakan konsep, karakteristik material, serta potensi penerapannya dalam mengatasi persoalan pencemaran air.
“Harapannya, inovasi yang awalnya masih berbentuk paper ini bisa mendapat dukungan, termasuk pendanaan, sehingga dapat diwujudkan menjadi prototipe. Kami juga berharap inovasi ini bisa dilirik oleh pemerintah maupun pihak swasta karena berpotensi diterapkan dan memberikan manfaat bagi lingkungan,” ungkapnya.
Dukungan pendanaan dan kolaborasi dengan berbagai pihak diharapkan dapat membantu tim melangkah dari gagasan ilmiah menuju pengembangan teknologi yang dapat diuji secara nyata.
Ke depan, tim juga berharap BALFOGER dapat dikembangkan lebih lanjut dan berpeluang kembali berkompetisi di ajang internasional. Pengujian prototipe akan menjadi tahapan penting sebelum inovasi tersebut dipertimbangkan untuk penerapan yang lebih luas.
Konsisten Kembangkan Inovasi Berbasis Lingkungan
Ketertarikan Naura terhadap inovasi lingkungan telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama melalui keikutsertaannya dalam berbagai kompetisi Karya Ilmiah Remaja (KIR).
Minat tersebut terus berkembang ketika memasuki perguruan tinggi. Ia juga pernah terlibat dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang memperoleh pendanaan dengan mengangkat isu lingkungan.
Selain itu, Naura pernah mengikuti kompetisi esai di Bali yang mengangkat tema penanggulangan pembalakan liar. Berbagai pengalaman tersebut memperkuat ketertarikannya untuk menghasilkan gagasan yang berorientasi pada penyelesaian persoalan lingkungan.
Baginya, kompetisi bukan sekadar ajang meraih penghargaan, melainkan ruang untuk mengasah kemampuan riset, memperluas wawasan, dan mengembangkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
Prestasi tim UMS melalui BALFOGER pun menjadi langkah awal untuk membawa gagasan berbasis potensi alam menuju pengembangan yang lebih konkret. Meski masih membutuhkan pembuktian melalui pengujian, inovasi ini menunjukkan upaya mahasiswa dalam mengeksplorasi material alternatif untuk mendukung teknologi yang lebih memperhatikan keberlanjutan lingkungan. (*)
