SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id membekali guru Muhammadiyah di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, dengan keterampilan membuat makanan ringan (snack) dan kue sebagai bekal menghadapi masa pensiun. Pelatihan ini diharapkan membuka peluang usaha rumahan sekaligus mendorong para guru tetap produktif, mandiri, dan bahagia setelah purna tugas.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Dosen-Tendik Berkontribusi bertajuk “Pelatihan Perencanaan Keuangan Keluarga dan Membuat Makanan Kecil sebagai Modal Menyambut Masa Pensiun Berdaya dan Bahagia bagi Guru Muhammadiyah di Bayat, Klaten”.
Program yang dilaksanakan pada Sabtu (10/10/2026) ini menyasar para guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Kepala Sekolah dan Madrasah (K3SM) di Kecamatan Bayat. Tim pengabdian diketuai Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., dengan menghadirkan Umi sebagai pelatih praktisi.
Ketua tim pengabdian, Lusi Nuryanti, mengatakan pelatihan tersebut memberikan kesempatan kepada para guru untuk mempelajari keterampilan pengolahan makanan yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha mandiri.
“Praktik pembuatan snack dan kue ini memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengenal keterampilan pengolahan makanan yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan secara mandiri,” ujar Lusi, Rabu (21/10/2026).
Menurut dia, usaha kuliner rumahan menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk mengisi masa pensiun. Selain berpeluang menambah pendapatan, usaha ini relatif fleksibel karena dapat disesuaikan dengan waktu, kemampuan, dan sumber daya yang dimiliki masing-masing peserta.
“ Keterampilan ini dapat menjadi bekal untuk memulai usaha yang waktunya fleksibel, serta dapat disesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki masing-masing peserta,” jelasnya.
Peluang Usaha Kuliner hingga Pemasaran Digital
Lusi menilai produk makanan ringan dan kue memiliki peluang pasar yang cukup luas apabila dikelola secara tepat. Para guru dapat memulai pemasaran dari lingkungan terdekat, menerima pesanan untuk berbagai acara keluarga, hingga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Pembuatan snack dan kue memiliki peluang bisnis yang besar karena produk makanan dapat dipasarkan melalui berbagai saluran. Mulai dari penjualan ke tetangga sekitar, pemesanan untuk acara keluarga, hingga pemasaran digital memanfaatkan media sosial,” ungkapnya.
Meski demikian, keterampilan membuat produk saja belum cukup untuk membangun usaha yang berkelanjutan. Para peserta juga perlu memahami aspek pengelolaan bisnis agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik dan mampu bersaing di pasaran.
Karena itu, pelatihan turut menekankan pentingnya menjaga kualitas bahan dan produk, menerapkan kebersihan selama proses produksi, menggunakan kemasan yang menarik, serta menghitung biaya produksi secara cermat.
Pemahaman tersebut diharapkan membantu para guru merencanakan usaha makanan ringan secara lebih terarah, mulai dari proses produksi hingga penentuan harga jual.
Persiapan Pensiun Tak Hanya soal Keuangan
Pelatihan pembuatan snack dan kue ini dirancang terintegrasi dengan pembekalan perencanaan keuangan keluarga. Kombinasi keduanya diharapkan membantu para guru mempersiapkan masa pensiun secara lebih matang, baik dari sisi ekonomi maupun kesiapan menjalani perubahan aktivitas setelah berakhirnya masa kerja formal.
Lusi menegaskan, persiapan pensiun tidak cukup hanya dengan mengatur keuangan. Para guru juga perlu merencanakan aktivitas yang membuat mereka tetap aktif, produktif, dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri.
“Persiapan masa pensiun tidak hanya berkaitan dengan perubahan rutinitas harian, tetapi juga menyangkut kesiapan untuk menjalani kehidupan yang tetap aktif, produktif, dan bermakna,” tuturnya.
Ia berharap keterampilan baru yang diperoleh peserta tidak hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga sarana menjaga kesehatan mental dan memperluas interaksi sosial.
Melalui kegiatan ini, UMS mendorong para guru Muhammadiyah di Bayat agar memandang masa pensiun sebagai kesempatan untuk memulai aktivitas baru yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
“Kami berharap masa pensiun tidak dipandang sebagai akhir pengabdian, melainkan fase baru untuk terus mandiri dan berdaya,” pungkas Lusi. (*)
