SOLO, MENARA62.COM – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah peta industri komunikasi digital. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tim dengan beragam keahlian kini dapat dilakukan oleh satu orang dengan bantuan teknologi AI. Namun, perubahan ini sekaligus menegaskan bahwa kreativitas, strategi komunikasi, literasi data, dan etika manusia tetap menjadi penentu daya saing profesional di era digital.
Dosen Ilmu Komunikasi bidang Komunikasi Digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Ahmada Auliya Rahman, S.I.Kom., M.Pd., menilai kehadiran AI bukan sesuatu yang bisa dihindari. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi justru membuka peluang besar bagi industri untuk bekerja lebih efektif, termasuk mengolah data dalam jumlah besar dan membaca pola komunikasi masyarakat sebagai dasar penyusunan strategi kampanye digital.
Meski demikian, pemanfaatan AI tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis. Pengguna harus memiliki literasi digital, pemahaman konteks, serta kesadaran etis agar teknologi tidak disalahgunakan untuk memanipulasi informasi dan membentuk opini publik secara tidak bertanggung jawab.
“Kebermanfaatan penggunaan AI tentu tergantung dengan siapa yang memberikan perintah kepada AI melalui prompt yang diberikan,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).
Ahmada mengibaratkan AI seperti pisau yang bisa memberikan manfaat sekaligus menimbulkan bahaya, bergantung pada siapa dan bagaimana alat tersebut digunakan. Karena itu, kecanggihan teknologi harus diimbangi tanggung jawab manusia terhadap setiap hasil yang diproduksi.
AI Ubah Kebutuhan Tenaga Profesional Komunikasi
Perubahan paling nyata terlihat pada kebutuhan tenaga profesional di industri komunikasi digital. Jika sebelumnya sebuah proyek membutuhkan tim yang terdiri atas tenaga kreatif, penulis, analis data, hingga pengelola media digital, kini sebagian pekerjaan tersebut dapat dibantu AI.
Kondisi ini membuat tenaga profesional yang hanya mengandalkan keterampilan produksi teknis berpotensi menghadapi persaingan semakin ketat. Sebaliknya, kemampuan menganalisis persoalan, merancang strategi, menentukan arah komunikasi, dan mengambil keputusan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.
Menurut Ahmada, tantangan lainnya adalah semakin sulitnya membedakan konten buatan AI dengan konten asli. Produk digital berbasis AI bahkan dapat dibuat menyerupai karya manusia sehingga berpotensi membingungkan masyarakat.
Meskipun pencantuman label penggunaan AI sudah dikenal, masih ditemukan konten yang tidak memberikan keterangan tersebut. Situasi ini menuntut masyarakat meningkatkan literasi digital agar tidak mudah menerima informasi mentah-mentah.
Masyarakat perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, dan menilai kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
Manusia Harus Tetap Memegang Kendali
Di tengah perkembangan tersebut, Ahmada menegaskan bahwa solusi menghadapi AI bukan dengan menolak kehadirannya, melainkan menempatkan teknologi sebagai asisten, bukan pengambil keputusan akhir.
“Menggunakan AI bukanlah hal yang salah, selama AI sebatas digunakan sebagai asisten saja bukan sebagai eksekutor. Sehingga dalam berbagai jenis industri komunikasi digital, manusia tetap harus yang melakukan eksekusi akhir produk yang dihasilkan,” katanya.
Prinsip ini menempatkan manusia sebagai pengendali utama dalam proses produksi komunikasi digital. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, mengembangkan ide, dan mengolah informasi. Namun, penilaian terhadap kualitas, ketepatan pesan, nilai, serta dampaknya kepada publik tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Pandangan tersebut juga menjadi pengingat bagi mahasiswa dan lulusan Ilmu Komunikasi agar tidak berhenti pada penguasaan berbagai perangkat AI. Mereka harus memperdalam kompetensi keilmuan supaya mampu memahami tujuan komunikasi, karakteristik audiens, strategi penyampaian pesan, hingga konsekuensi dari informasi yang dipublikasikan.
“Dalam menghadapi gempuran AI saat ini mahasiswa harus semakin meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenai keilmuan yang digelutinya,” ujar Ahmada.
Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan AI sebagai asisten untuk menghasilkan karya yang lebih berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan industri komunikasi digital. Kreativitas, ketajaman analisis, penguasaan strategi, literasi data, dan etika profesional justru menjadi pembeda yang tidak boleh diabaikan.
Di tengah teknologi yang semakin mampu mengambil alih pekerjaan teknis, kualitas sumber daya manusia tetap ditentukan oleh kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan setiap pesan yang disampaikan kepada publik. (*)
