SOLO, MENARA62.COM – Minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang ke saluran air atau tanah ternyata dapat disulap menjadi produk bernilai ekonomi. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bagi anggota Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Desa Gawanan, Colomadu, Karanganyar.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat (P2M) Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Berbasis Pengembangan Persyarikatan. Kegiatan berlangsung pada Senin (2/11/2026) di kediaman Hidayah Adihaningrum, S.Pd., selaku ketua tim pelaksana, dan diikuti anggota PRA Gawanan.
Kegiatan diawali dengan tilawah bersama, kemudian dilanjutkan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membekali masyarakat dengan keterampilan mengolah limbah rumah tangga menjadi produk yang berpotensi menghasilkan pendapatan.
Ketua tim pelaksana, Hidayah Adihaningrum, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang banyak dijumpai dalam kehidupan rumah tangga. Berdasarkan pengamatan dan komunikasi dengan warga, sebagian besar ibu rumah tangga di Desa Gawanan belum mengetahui cara memanfaatkan minyak bekas memasak.
“Sebagai ibu rumah tangga, saya juga merasakan kebingungan ketika minyak bekas memasak akan diapakan. Setelah kami tanyakan kepada ibu-ibu di Gawanan, ternyata sebagian besar juga mengalami hal yang sama. Minyak jelantah biasanya hanya dibuang ke saluran air atau tanah,” ungkap Hidayah, Selasa (3/11/2026).
Melalui program hibah P2M tersebut, tim UMS berupaya memberikan pengetahuan dan keterampilan agar masyarakat mampu mengelola limbah rumah tangga secara mandiri. Selain mengurangi pencemaran, pemanfaatan minyak jelantah diharapkan membuka peluang usaha baru yang dapat menambah penghasilan anggota Aisyiyah.
Anggota tim, Dessy Ade Pratiwi, S.T., M.T., menambahkan bahwa pelatihan tersebut memiliki nilai pemberdayaan, terutama bagi ibu rumah tangga yang memiliki aktivitas di lingkungan domestik. Proses pembuatan lilin aromaterapi yang relatif sederhana dinilai memungkinkan keterampilan tersebut dikembangkan menjadi kegiatan produktif sehari-hari.
“Pesertanya adalah ibu-ibu, termasuk yang sudah lansia. Jadi, kegiatan ini juga bisa menjadi aktivitas sehari-hari yang bermanfaat. Harapannya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada pelatihan, tetapi bisa dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual dan menambah pemasukan bagi ibu-ibu,” jelas Dessy.
Lebih jauh, ia berharap produksi lilin aromaterapi dapat menjadi salah satu sumber pemasukan bagi PRA Gawanan. Dengan demikian, organisasi memiliki peluang memperoleh pendapatan tambahan dari kreativitas dan hasil produksi anggotanya, tidak hanya mengandalkan iuran anggota.
UMS Siapkan Pendampingan Kemasan dan Pemasaran
Program pemberdayaan tersebut dirancang tidak berhenti pada pelatihan produksi. Anggota tim lainnya, Nikmar’ati Khoiriah, S.Ak., menyampaikan bahwa tahap berikutnya diharapkan mencakup pendampingan pengemasan (packaging) dan pemasaran produk.
Menurutnya, tampilan kemasan yang menarik dan strategi pemasaran yang tepat menjadi faktor penting agar lilin aromaterapi hasil produksi anggota Aisyiyah dapat menjangkau konsumen lebih luas.
“Ini sebenarnya masih ada kelanjutannya. Hari ini baru pelatihan pembuatan, sehingga ke depan harapannya ada pelatihan packaging yang lebih kekinian dan pendampingan cara menjualnya. Ibu-ibu juga bisa diajari pemasaran melalui online shop atau difasilitasi untuk mengikuti kegiatan bazar yang diselenggarakan UMS,” tuturnya.
Nikmar’ati menjelaskan, salah satu keunggulan bahan baku produk tersebut adalah ketersediaan minyak jelantah yang dapat diperoleh dari rumah tangga tanpa biaya pembelian. Sementara itu, bahan tambahan seperti parafin dan essential oil dapat disesuaikan dengan kebutuhan produksi.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan usaha yang relatif ekonomis. Apabila didukung pengemasan dan pemasaran yang baik, produk lilin aromaterapi berpotensi menjadi sumber pendapatan alternatif bagi anggota PRA Gawanan.
Aisyiyah Gawanan Perluas Gerakan Peduli Lingkungan
Ketua PRA Gawanan, H. Mari Nugrahasih, S.Pd., menyambut positif pelatihan yang diberikan UMS. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan baru tentang cara mengolah minyak jelantah menjadi produk yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh anggota Aisyiyah.
“Kami sangat senang setelah menerima pelatihan pembuatan lilin dari minyak jelantah ini. Kami berusaha agar nantinya bersama rekan-rekan bisa mencoba dan mengembangkannya. Syukur-syukur, pembuatan lilin ini bisa mendatangkan keuntungan,” ungkap Mari.
Menurutnya, hal menarik dari pelatihan tersebut adalah kemampuan mengubah minyak jelantah yang sebelumnya berbau tidak sedap menjadi lilin dengan aroma lebih segar melalui penambahan pewangi khusus. Bentuk dan hiasan lilin yang dihasilkan juga memberikan daya tarik tersendiri.
Namun, Mari menegaskan bahwa manfaat utama kegiatan tersebut bukan semata-mata keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, keterampilan mengolah minyak jelantah menjadi produk bermanfaat diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
“Harapan kami yang terpenting adalah bisa menjaga lingkungan agar lebih bersih, asri, dan sehat. Minyak jelantah kalau dibuang sembarangan tentu bisa menimbulkan pencemaran. Alhamdulillah, melalui pelatihan ini, bahan yang sebelumnya kurang bermanfaat bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” jelasnya.
Ia menambahkan, PRA Gawanan sebelumnya telah menjalankan kegiatan pengumpulan barang bekas, seperti plastik, kardus, dan kertas. Pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi diharapkan memperluas gerakan pengelolaan limbah yang telah berjalan di lingkungan organisasi.
Mari berharap UMS dapat kembali menghadirkan program pemberdayaan serupa agar semakin banyak anggota Aisyiyah memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam memanfaatkan barang yang tidak terpakai.
Melalui program ini, UMS tidak hanya mendorong pengurangan limbah rumah tangga, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan kemandirian ekonomi masyarakat. Minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini memiliki peluang untuk menjadi produk kreatif yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus bernilai jual. (*)

