SOLO, MENARA62.COM – Sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kota Surakarta memperkuat tata kelola administrasi dan pengelolaan arsip kelembagaan melalui Workshop Kearsipan Sekolah Muhammadiyah. Kegiatan yang melibatkan satuan pendidikan jenjang TK hingga SMA/SMK/MA tersebut digelar di Aula Balai Muhammadiyah Kota Surakarta, Selasa (27/10/2026).
Workshop ini merupakan hasil kolaborasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) dengan Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta. Kegiatan menghadirkan Rudi Anton, SH, MH, sebagai narasumber dengan peserta para kepala tata usaha sekolah Muhammadiyah.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan tenaga administrasi sekolah dalam mengelola arsip secara tertib, sistematis, aman, dan berkelanjutan.
Sekretaris Majelis Pendidikan PDM Surakarta, Drs. Supraptono, M.Pd., mengatakan arsip memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pendidikan. Selain menjadi sumber informasi dan bukti administrasi, arsip juga merupakan dokumentasi perjalanan lembaga sekaligus instrumen pertanggungjawaban atas pelaksanaan program sekolah.
“Pengelolaan arsip yang baik akan mendukung efektivitas pelayanan administrasi dan memperkuat akuntabilitas lembaga pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Surakarta, Muhdiyatmoko, berharap workshop tersebut mampu memberikan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya kearsipan bagi sekolah Muhammadiyah.
Menurut dia, peserta perlu memahami tata cara penataan dokumen, pengelompokan arsip berdasarkan jenis dan fungsinya, hingga sistem penyimpanan yang memudahkan proses pencarian kembali ketika dokumen dibutuhkan.
Dengan sistem pengelolaan yang tepat, dokumen sekolah tidak hanya tersimpan dengan baik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang berbagai kebutuhan kelembagaan.
Dalam pemaparan materinya, Rudi Anton menekankan pentingnya penerapan sistem kearsipan yang efektif di lingkungan sekolah. Ia berharap peserta memperoleh wawasan praktis untuk membangun sistem administrasi yang lebih profesional dan bertanggung jawab.
Ia juga mengingatkan bahwa kearsipan tidak semestinya dipandang sebatas pekerjaan administratif. Lebih dari itu, pengelolaan arsip merupakan bagian dari budaya kerja yang mencerminkan ketertiban dan profesionalisme sebuah lembaga.
Penguatan sistem tersebut, lanjutnya, juga perlu diarahkan pada pengembangan kearsipan digital sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing sekolah.
Arsip Menjadi Penjaga Sejarah Pendidikan Muhammadiyah
Bagi sekolah Muhammadiyah, pengelolaan arsip memiliki dimensi yang lebih luas karena berkaitan dengan upaya merawat memori dan sejarah kelembagaan.
Dokumen pendirian sekolah, keputusan organisasi, program pendidikan, prestasi siswa, kegiatan persyarikatan, hingga catatan perkembangan lembaga merupakan jejak perjalanan pendidikan Muhammadiyah yang perlu dijaga.
Melalui sistem kearsipan yang tertata, seluruh dokumen tersebut dapat terdokumentasi secara sistematis dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, sejarah, kontribusi, serta dinamika perkembangan sekolah tidak terputus oleh pergantian kepemimpinan maupun perubahan zaman.
Workshop ini diharapkan menjadi momentum bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Surakarta untuk mengevaluasi sistem kearsipan yang telah berjalan, menyusun standar pengelolaan dokumen, serta membangun budaya tertib administrasi.
Penguatan kearsipan pada akhirnya bukan sekadar persoalan keteraturan dokumen. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan tata kelola pendidikan Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, profesional, dan berorientasi pada pelayanan.
Melalui arsip yang terjaga, sekolah Muhammadiyah diharapkan mampu memastikan administrasi tetap tertib, sejarah kelembagaan terdokumentasi, serta fondasi pengembangan pendidikan semakin kuat di masa depan. (*)
