UMS Dampingi SD Muhammadiyah 24 Surakarta Wujudkan Zero Waste School

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong pembentukan budaya sekolah ramah lingkungan melalui program pendampingan pengelolaan sampah terpadu di SD Muhammadiyah 24 Gajahan Surakarta. Program ini diarahkan untuk membangun kesadaran warga sekolah dalam mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.

 

Melalui program bertajuk “Pemberdayaan Sekolah Menuju Zero Waste melalui Edukasi Pengelolaan Sampah Terpadu di SD Muhammadiyah 24 Surakarta”, tim pengabdian masyarakat UMS mengenalkan konsep Zero Waste School sebagai langkah membangun lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

 

Kegiatan yang dilaksanakan Selasa (13/10/2026) tersebut merupakan bagian dari skema Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) dengan dukungan pendanaan internal UMS.

 

Tim pengabdian terdiri atas Herry Purnama, Rini Kuswati, Nur Hidayati, Haryo Bhaskoro, dan Rafi Amani Muflih Rahardi.

 

Herry Purnama menjelaskan, konsep Zero Waste School tidak sekadar mengajak warga sekolah menjaga kebersihan, tetapi membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari.

 

“Warga sekolah mendapatkan edukasi mengenai konsep Zero Waste School, yaitu upaya membangun sistem dan kebiasaan sekolah untuk mengurangi sampah sejak dari sumber, memilah sampah sesuai jenisnya, memanfaatkan kembali material yang masih bernilai, serta mengolah sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir sebagai residu,” terang Herry, Rabu (4/11/2026).

 

Dalam pendampingan tersebut, tim UMS memberikan edukasi melalui empat aspek utama, yakni pengurangan sampah, pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, dan pengelolaan sampah anorganik.

 

Pada aspek pengurangan sampah, warga sekolah didorong membiasakan diri membawa tumbler dan kotak makan sendiri serta mengurangi penggunaan barang sekali pakai.

 

Sementara itu, dalam praktik pemilahan, peserta diperkenalkan pada pengelompokan sampah organik, anorganik bernilai guna, dan residu. Pemisahan sejak awal dinilai penting agar proses pengolahan sampah berikutnya dapat berjalan lebih efektif.

 

Sampah Organik Diolah Jadi Kompos dan Maggot

 

Salah satu perhatian utama program ini adalah pengolahan sampah organik, terutama sisa makanan dan bahan organik basah yang banyak dihasilkan dari aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.

 

“Perhatian khusus diberikan pada pengolahan sampah organik, mengingat sisa makanan dan bahan organik merupakan salah satu jenis sampah yang banyak dihasilkan dari aktivitas sehari-hari,” tambah Herry.

 

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim UMS memperkenalkan sejumlah teknologi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah, mulai dari pencacahan sampah organik, pengomposan (composting), hingga budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

 

Melalui pencacahan dan pengomposan, sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang selanjutnya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman dan mendukung penghijauan sekolah.

 

Adapun budidaya maggot BSF diperkenalkan sebagai alternatif pengolahan sampah makanan dan bahan organik basah. Larva BSF dapat membantu mengurangi volume sampah organik sekaligus menghasilkan biomassa yang memiliki nilai guna.

 

Untuk sampah anorganik, warga sekolah diajak memilah material yang masih memiliki potensi pemanfaatan dan daur ulang, seperti botol plastik, kertas, kardus, serta berbagai material bernilai lainnya.

 

Pengelolaan sampah anorganik juga diperkuat melalui pengenalan aplikasi SMOGRA sebagai salah satu sarana pendukung agar pengelolaan sampah di lingkungan sekolah lebih tertata.

 

Bentuk Duta Lingkungan, Bangun Kebiasaan Berkelanjutan

 

UMS juga menekankan bahwa keberhasilan Zero Waste School tidak cukup hanya melalui penyuluhan atau kegiatan sesaat. Diperlukan sistem yang memungkinkan seluruh warga sekolah terlibat dan menjalankan pengelolaan sampah secara konsisten.

 

Karena itu, pengembangan tim pengelola sampah, pembentukan Duta Lingkungan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) pemilahan, serta monitoring rutin menjadi bagian penting dari pendampingan.

 

Pendekatan tersebut diharapkan membuat pengelolaan sampah menjadi budaya bersama, bukan sekadar program tambahan di sekolah.

 

Tim pengabdian juga menegaskan bahwa Zero Waste School bukan berarti sekolah harus langsung terbebas sepenuhnya dari sampah. Perubahan perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan kesadaran warga sekolah, pembiasaan mengurangi sampah, tersedianya sistem pemilahan, hingga kemampuan mengolah sampah secara mandiri.

 

Melalui program ini, SD Muhammadiyah 24 Surakarta diharapkan mampu mengembangkan lingkungan pendidikan yang lebih bersih, sehat, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

 

“Perubahan menuju Zero Waste School tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan mengurangi sampah, memilah dengan benar, dan mengolah sampah organik secara konsisten merupakan fondasi penting untuk membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan,” tutup Herry.

 

Kolaborasi UMS dan SD Muhammadiyah 24 Surakarta tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi berlanjut menjadi pendampingan berkelanjutan dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan dapat diterapkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!