31.6 C
Jakarta

Abdul Mu’ti: Diskursus Teroris Penting, Tapi Seberapa Penting untuk Masyarakat

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM–Sekertaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu‘ti mengatakan, diskursus tentang terorisme ini sangat penting.

“Ini diskusus yang sangat penting. Persoalan berkaitan terorisme ini tidak seluruhnya instan. Begitu baca ayat terus jadi teroris. Bahkan sebaliknya, mereka melihat kondisi yang dihadapi, kemudian mencari pembenaran,” ujar Abdul Mu‘ti ketika memberi sambutan dalam peluncuran buku Reformulasi Ajaran Islam, Jihad, Khilafah, dan Terorisme di Gedung Pusat Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Kamis (16/3/2017) Malam.

Menurut Abdul Mu‘ti, kekuatan moderat perlu dikembangkan. Kelompok moderat harus bisa menjelaskan tentang posisi moderat.

“Studi atas kajian agama tentang teroris, perlu juga melihat kajian sosiologi,” ujarnya.

Menurut Abdul Mu‘ti, perasaan dalam ancaman, bisa jadi salah satu sebab orang jadi radikal. Ancaman teroris ada, tapi seberapa serius ancaman itu ada.

Apalagi, menurut Abdul Mu‘ti, keseriusan aparat, tidak selalu linear dengan keseriusan masyarakat. Jadi siapa sesungguhnya yang berada dalam ancaman, apakah hanya aparat atau masyarakat.

Menurut Abdul Mu‘ti, pendekatan keamanan tidak selalu pas untuk menyelesaikan masalah terorisme, tapi perlu social security. “Kesenjangan sosial, perasaan diperlakukan adil, bisa jadi sebab yang tidak bisa dinafikan sebagai sebab mereka jadi teroris,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Ma’arif Institute Muhammad Abdullah Darraz mengatakan, peluncuran buku ini sebagai langkah kecil, kontribusi organisasi masyarakat untuk melawan terorisme dengan legitimasi agama.

“Mudah-mudahan upaya kecil ini ada manfaatnya bagi langkah melawan terorisme,” ujarnya.

Abdillah Toha, komisaris penerbit Mizan mengatakan, Mizan sudah menerbitkan lima buku dengan tema Muslim progresif.

“Ini menemukan momentum ketika pemahaman tentang Islam yang benar jadi problem. Sehingga ada orang yang menyalahkan orang Islamnya, ada yang menyalahkan Islamnya, ini tentu tidak benar,” ujarnya.

Namun, menurut Abdillah Toha, perbedaan dalam Islam sesungguhnya merupakan hal yang wajar dan harus dijaga. “Yang terpenting kita harus saling menghormati,” ujarnya.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!