BANDUNG, MENARA62.COM – Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Haryadi SE MM mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah pesatnya penggunaan layanan paylater. Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi Kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Rabu (10/06/2026).
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Dompet Tipis tapi Hati Tetap Tenang di Tengah Era Paylater”, Yudi menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan paylater di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026, jumlah rekening pengguna paylater mencapai 31,76 juta dengan nilai penggunaan secara nasional sebesar Rp56,3 triliun.
Menurut Yudi, kemudahan transaksi digital yang ditawarkan berbagai platform sering kali menciptakan ilusi kenyamanan. Namun, di balik kemudahan tersebut, kata Yudi, banyak orang terjebak dalam lingkaran utang yang berujung pada tekanan finansial, konflik keluarga, hingga gangguan ketenangan batin.
“Masalah utama kita sering kali bukan karena kurangnya rezeki dari Allah, melainkan karena hilangnya kendali atas keinginan kita sendiri,” ujar Yudi.
Dia menjelaskan bahwa paylater menjadi menarik karena menawarkan tiga hal yang sangat disukai manusia, yakni kemudahan, kecepatan, dan kepuasan instan. Sayangnya, ketiga faktor tersebut kerap mendorong seseorang mengambil keputusan finansial tanpa mempertimbangkan kemampuan ekonomi yang sebenarnya.
Yudi juga meluruskan anggapan bahwa Islam melarang seluruh bentuk utang. Menurutnya, Islam memperbolehkan utang dengan syarat yang ketat. Misal adanya kebutuhan yang benar, bebas dari unsur riba, akad yang jelas, dan kemampuan untuk melunasi kewajiban tersebut.
“Yang merusak ketenangan bukanlah utang itu sendiri, tetapi kebergantungan terhadap utang untuk memenuhi gaya hidup serta adanya unsur riba yang menyertainya,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa akar kegelisahan finansial sering muncul ketika keinginan lebih besar daripada kemampuan, sedangkan gaya hidup melampaui penghasilan yang dimiliki. Kondisi tersebut kemudian mendorong seseorang mencari jalan pintas melalui fasilitas kredit dan paylater.
Oleh karena itu, Yudi mengajak masyarakat untuk mengkalibrasi ulang makna ketenangan sejati. Dia menegaskan bahwa ketenangan hidup tidak ditentukan oleh besarnya saldo rekening, tingginya limit paylater, ataupun banyaknya barang yang dimiliki. Sebaliknya, ketenangan lahir dari kedekatan dengan Allah SWT, rasa syukur, dan kemampuan menjalani hidup sesuai dengan kemampuan.
“Mengingat Allah, bersyukur atas apa yang dimiliki, dan hidup sesuai dengan kemampuan merupakan fondasi ketenangan yang sesungguhnya,” katanya.
Yudi juga mengingatkan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan meliputi hal-hal mendasar, seperti makanan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal. Sementara itu, keinginan sering kali dipicu oleh gengsi, tren, fear of missing out (FOMO), dan gaya hidup berlebihan.
Sebagai langkah praktis, dia menawarkan tiga “perisai spiritual” untuk menghadapi tekanan finansial. Pertama, qanaah atau merasa cukup atas rezeki yang diberikan Allah. Kedua, syukur atas nikmat yang telah dimiliki. Ketiga, sabar dalam menunda kesenangan demi kemaslahatan yang lebih besar.
“Kalau hari ini kita belum mampu membeli sesuatu, bukan berarti kita gagal. Bisa jadi Allah SWT sedang mengajarkan kita untuk menunggu waktu yang tepat,” pungkas Praktisi Bisnis dan Keuangan Mikro Islam ini. (FA)
