31 C
Jakarta

Menghidupkan “State of Mind” berMuhammadiyah di Era AI: Catatan bagi Pemimpin Persyarikatan dan Amal Usaha

Baca Juga:

Oleh: Suyoto
(Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik, Mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah)

JAKARTA, MENARA62.COM – Di atas kertas, Muhammadiyah adalah sebuah raksasa. Organisasi ini memiliki aset yang luar biasa, jaringan yang menggurita dari pusat hingga ranting, reputasi brand yang kokoh, serta barisan kader yang terus tumbuh. Namun, dalam hukum sejarah, kebesaran fisik dan kelimpahan aset material sering kali menjadi jebakan kenyamanan (complacency trap) jika tidak dibarengi dengan kelincahan spiritual dan intelektual.

Di balik semua kemegahan infrastruktur itu, hal yang paling krusial sesungguhnya berada pada dimensi yang tidak berwujud: state of mind (kondisi mental/cara berpikir) dan framework (kerangka kerja) bermuhammadiyah yang hidup, yang terus disegarkan dan disempurnakan seiring dengan dinamika zaman.

Tantangan Era AI dan Disrupsi Eksistensial

Kita hari ini sedang berdiri di sebuah fajar zaman yang belum pernah ada padanannya dalam sejarah umat manusia: Era Kecerdasan Buatan (AI) dan Otomasi global. Sejarawan Yuval Noah Harari dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century mengingatkan bahwasanya disrupsi teknologi kali ini tidak sekadar mengancam lapangan pekerjaan, melainkan berpotensi menciptakan “the useless class” (kelas manusia yang tidak lagi berguna secara ekonomi dan struktural).

Menurut Harari, tantangan terbesar manusia modern bukanlah kelangkaan informasi, melainkan banjir informasi yang distorotif, hilangnya relevansi keterampilan manusia, dan ancaman peretasan terhadap kesadaran manusia itu sendiri oleh algoritma.

Di sinilah relevansi untuk menengok kembali pesan fundamental pendiri persyarikatan, K.H. Ahmad Dahlan, yang jauh-jauh hari telah mengingatkan tentang risiko kejutan zaman akibat ketidaksiapan berpikir:

“Kasihan, manusia itu sekiranya tidak mau mempelajari dengan teliti kedaan waktu sekarang ini, tentulah ia tidak akan mengetahui dunia tempat ia tinggal. Dia akan menjadi orang asing di rumahnya sendiri.”

Pesan Kyai Dahlan ini, sebagaimana dicatat oleh KH. R. Hadjid dalam Pelajaran K.H. Ahmad Dahlan adalah alarm keras bagi kita. Jika Muhammadiyah gagap membaca arah angin zaman baru ini, kita tidak hanya akan kehilangan relevansi dakwah, tetapi amal usaha kita bisa bertumbangan menjadi “museum sejarah” yang megah namun sepi fungsi.

Manusia sebagai Penentu, Bukan AI

Baru-baru ini, pidato kelulusan CEO AMD, Lisa Su, di Massachusetts Institute of Technology (MIT) memberikan refleksi menarik yang sangat relevan bagi para aktivis Muhammadiyah. Su menekankan pentingnya berani menghadapi tantangan tersulit, terus belajar, dan melihat teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai enabler—pengungkit potensi manusia untuk memecahkan masalah besar dunia. Manusia adalah penentu arah, bukan teknologi, termasuk AI.

Pesan dari panggung MIT itu sejatinya senafas dengan esensi Islam Berkemajuan yang menjadi ruh Muhammadiyah. Bagi para pemimpin persyarikatan di semua level dan para nakhoda Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), ada kebutuhan mendesak untuk melakukan internalisasi dan revitalisasi state of mind ini.

Bermuhammadiyah tidak boleh sekadar menjadi rutinitas birokrasi, melainkan sebuah kesadaran tiga dimensi yang utuh: beriman, beramal, dan berorganisasi demi mewujudkan rahmatan lil ’alamin dalam segala zaman dan lingkungan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, dalam sebuah pidato ideologisnya menegaskan:

Muhammadiyah digerakkan bukan sebagai organisasi kering tanpa jiwa. Muhammadiyah adalah gerakan pemikiran, gerakan praksis sosial yang di dalamnya memuat spiritualitas yang hidup. Menghadapi modernitas dan teknologi, kita tidak boleh hanyut, tetapi kita harus mampu memberi ruh dan arah moral pada kemajuan tersebut.”

Aktualisasi yang Agile di Sektor Pendidikan dan Kesehatan

Revitalisasi ini menuntut aktualisasi yang lincah (agile) yang disesuaikan dengan lingkungan sosial, alam, dan problem kesejarahan di wilayah masing-masing. Dua pilar utama Muhammadiyah—lembaga pendidikan dan rumah sakit—harus memimpin di depan.

1. Sektor Pendidikan: Melampaui Literasi Konvensional

Bagi lembaga pendidikan Muhammadiyah, tantangan hari ini bukan lagi sekadar memberantas buta aksara atau menyediakan gedung sekolah yang layak. Tantangannya adalah bagaimana mentransformasi kurikulum agar tidak usang di hadapan kemajuan teknologi.

Sekolah dan universitas Muhammadiyah harus terbuka total terhadap penggunaan teknologi, termasuk AI, sebagai alat bantu belajar. Namun di saat yang sama, kita harus menanamkan karakter, etika, empati, dan daya kritis—dimensi kemanusiaan mendalam yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin (algoritma).

2. Sektor Kesehatan: Mewujudkan Ekosistem Inklusif

Sementara itu, bagi Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM), state of mind baru berarti bergeser dari sekadar pusat pengobatan (kuratif) menjadi pusat ekosistem kesehatan berbasis komunitas (preventif-promotif). Penggunaan Big Data, telemedicine, dan efisiensi manajemen berbasis AI harus diintegrasikan demi memberikan layanan yang inklusif, cepat, sekaligus tetap humanis.

Membongkar Sekat Sektoral Melalui Sinergitas

Di sinilah peran krusial pimpinan persyarikatan. Pimpinan tidak boleh bergerak dalam sekat-sekat linier atau ego sektoral. Sinergitas antara lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan Muhammadiyah harus diciptakan secara sadar dan sistemik.

* Lembaga Pendidikan Muhammadiyah harus menjadi penyuplai riset, inovasi teknologi kesehatan, dan SDM unggul berkarakter bagi rumah sakit.
* Rumah Sakit Muhammadiyah harus menjadi laboratorium hidup (living laboratory) bagi pengembangan ilmu kesehatan, uji coba teknologi keperawatan, dan pengabdian masyarakat.

Sinergi lintas majelis dan AUM ini adalah jawaban konkret Muhammadiyah untuk menyelesaikan problem struktural bangsa Indonesia di bidang kualitas SDM dan ketahanan kesehatan di abad ke-21.
Penutup: Muhammadiyah sebagai Learning Organization

Pada akhirnya, agar state of mind dan framework bermuhammadiyah ini tidak membeku menjadi dogma yang kaku, Muhammadiyah harus menempatkan dirinya secara sadar sebagai sebuah learning organization (organisasi pembelajar) .

Sebuah organisasi pembelajar tidak pernah merasa puas dengan kejayaan masa lalu. Ia dicirikan oleh lima disiplin utama (Sengean):

* Kapasitas anggotanya untuk terus mengasah ketajaman pribadi (personal mastery).
* Kemampuan merefleksikan dan membongkar asumsi serta mentalitas lama (mental models).
* Merumuskan visi masa depan bersama (shared vision).
* Belajar secara kolektif (team learning).
* Kemampuan berpikir sistemik (systems thinking) untuk melihat gambaran besar.

Sebagai learning organization, Muhammadiyah harus memiliki kepekaan ekosistem. Artinya, para pimpinan dan kader harus mampu melihat keterkaitan erat antara dinamika kecerdasan buatan global, kebijakan nasional, dan realitas sosial lokal. Ketika perubahan eksternal terjadi begitu cepat, kecepatan belajar internal organisasi kita harus jauh lebih tinggi daripada kecepatan perubahan itu sendiri.

Dengan memperlakukan persyarikatan dan seluruh amal usahanya sebagai ruang belajar dan ijtihad yang tiada henti, Muhammadiyah tidak akan pernah menjadi fosil sejarah. Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan yang agile, inovatif, dan selalu relevan memberikan solusi—sebuah gerakan Islam Berkemajuan yang terus memproduksi rahmat bagi semesta alam.

Jakarta, 10 Juni 2026

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!