SOLO, MENARA62.COM — Pohon selama ini kerap dipandang sekadar pelengkap lanskap. Padahal, di balik satu batang pohon tersimpan fungsi ekologis yang dapat dihitung: mulai dari menyerap karbon, membantu menurunkan suhu, hingga memberikan manfaat bagi kualitas lingkungan.
Persoalannya, seberapa besar manfaat tersebut?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melalui pelatihan i-Tree Training: Mengukur Kinerja Ekologis Pohon Vegetasi Lanskap untuk Arsitektur dan Kota Berkelanjutan, Senin (28/9/2026).
Untuk pertama kalinya, Prodi Arsitektur UMS mengenalkan perangkat analisis ekologis pohon i-Tree kepada mahasiswa dan dosen. Pelatihan berlangsung sehari penuh di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah UMS dan diikuti sekitar 100 peserta.
Dosen Prodi Arsitektur UMS sekaligus PIC kegiatan, Dr. Ir. Indrawati, M.T., mengatakan pelatihan tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami manfaat pohon secara konseptual, tetapi mampu mengukurnya secara kuantitatif.
“Selama ini kita paham bahwa pohon bermanfaat untuk menyerap karbon, menurunkan suhu, serta menyediakan oksigen. Namun, besaran angkanya secara spesifik jarang diketahui,” ujar Indrawati.
Melalui i-Tree, kata dia, manfaat ekologis pohon dapat dianalisis berdasarkan data sehingga keberadaan vegetasi dapat menjadi bagian yang lebih terukur dalam proses perancangan arsitektur maupun kawasan.
Menurut Indrawati, pendekatan tersebut penting agar keputusan pembangunan tidak serta-merta mengorbankan vegetasi yang sudah ada.
“Hal ini penting agar dalam perancangan arsitektur dan kawasan, penebangan pohon tidak dilakukan secara gegabah,” katanya.
Pertama Kali Masuk Kurikulum Arsitektur UMS
i-Tree merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk menganalisis manfaat ekologis pohon dan dikembangkan dengan dukungan USDA Forest Service di Amerika Serikat.
Di UMS, pelatihan tersebut menjadi momentum awal untuk mengintegrasikan i-Tree ke dalam pembelajaran di Prodi Arsitektur, khususnya pada mata kuliah Urban Landscape dan Islamic Urban Landscape.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana menata ruang terbuka atau menentukan vegetasi dalam desain, tetapi juga memahami konsekuensi ekologis dari keputusan desain tersebut.
Pendekatan ini membuat pohon tidak lagi diposisikan sekadar sebagai elemen estetika.
Vegetasi dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari infrastruktur ekologis kota yang memiliki fungsi terhadap lingkungan.
UMS Siapkan Pengukuran Pohon di Kampus
Pelatihan tersebut tidak berhenti pada ruang seminar.
Sebagai tindak lanjut, Prodi Arsitektur UMS merencanakan pengukuran kinerja ekologis pohon secara langsung di lingkungan Kampus 2 UMS.
Data lapangan tersebut nantinya dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus pengembangan kajian mengenai vegetasi dan keberlanjutan lingkungan kampus.
Di saat yang sama, tim peneliti UMS juga tengah mengembangkan riset kalkulator serapan karbon untuk jenis pohon beriklim tropis di Indonesia.
Langkah tersebut dinilai penting karena karakter vegetasi dan iklim Indonesia berbeda dengan lokasi awal pengembangan basis data i-Tree.
“Aplikasi i-Tree berbasis iklim subtropis karena basis pengembangan awalnya dari Amerika Serikat. Sehingga kami di UMS sedang mengembangkan riset kalkulator pohon khusus iklim tropis agar dapat diadaptasi dan diimplementasikan secara optimal di seluruh Indonesia,” jelas Indrawati.
Arsitektur Tak Cukup Sekadar Membangun
Bagi Prodi Arsitektur UMS, teknologi pengukuran ekologis tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas cara pandang calon arsitek terhadap pembangunan.
Bangunan yang dirancang dengan baik, menurut Indrawati, tidak semestinya hanya dinilai dari bentuk, fungsi, dan kekuatan fisiknya. Dampaknya terhadap lingkungan juga perlu diperhitungkan.
Karena itu, kemampuan membaca dan mengukur manfaat vegetasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum mereka memasuki dunia profesi.
“Arsitektur UMS memiliki visi unggulan arsitektur Islam yang berkelanjutan,” kata Indrawati.
Ia berharap mahasiswa dan alumni Arsitektur UMS nantinya tidak hanya menghasilkan bangunan yang memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga mampu menjaga kualitas lingkungan di sekitarnya.
“Harapan kami, melalui aplikasi ini para mahasiswa saat belajar maupun alumni saat berprofesi nanti tidak hanya sekadar membangun fisik yang bisa menurunkan kualitas lingkungan. Namun, mereka juga memiliki pendekatan untuk memperbaiki dan menjaga keseimbangan ekosistem agar arsitektur dan kotanya benar-benar berkelanjutan,” ujarnya.
Pelatihan i-Tree tersebut sekaligus menandai upaya Prodi Arsitektur UMS membawa isu keberlanjutan dari sekadar wacana ke dalam praktik pembelajaran.
Sebab, sebelum sebuah pohon ditebang atas nama pembangunan, ada manfaat ekologis yang semestinya lebih dulu dihitung. Begitu pula sebelum sebuah kota dibangun, ada ekosistem yang perlu dipertimbangkan.
Di situlah arsitektur berkelanjutan dimulai: bukan hanya dari bagaimana bangunan didirikan, tetapi dari bagaimana lingkungan tetap dipertahankan. (*)


