34.4 C
Jakarta

15 Relawan SAR Muhammadiyah Ditempa di Gunung Telon

Baca Juga:

PURWOREJO, MENARA62.COM — Hutan dan perbukitan Gunung Telon menjadi ruang belajar yang jauh dari ruang kelas bagi 15 relawan SAR Muhammadiyah Jawa Tengah. Selama lima hari, mereka ditantang membaca medan, menentukan arah, bertahan dalam kondisi darurat, hingga menjalankan simulasi pencarian dan pertolongan.

 

Bukan sekadar untuk menaklukkan medan alam, latihan tersebut dipersiapkan untuk satu tujuan: memastikan relawan memiliki kompetensi ketika harus turun ke lokasi bencana atau operasi pencarian dan pertolongan.

 

Sebanyak 15 relawan dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) SAR Madya Jungle Rescue yang digelar Lembaga Resiliensi Bencana (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

 

Kegiatan berlangsung selama lima hari, Rabu (23/9/2026) hingga Ahad (27/9/2026), di kawasan Gunung Telon, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo.

 

Pemilihan Gunung Telon bukan tanpa alasan. Karakter hutan dan perbukitan di kawasan tersebut memberikan medan yang cukup untuk menguji kemampuan peserta dalam navigasi darat, pemahaman medan, survival, pencarian, hingga evakuasi.

 

Sekretaris MDMC Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Huda Khoirun Nahar, mengatakan peserta merupakan relawan yang sebelumnya telah memiliki dasar pengetahuan dan keterampilan SAR, khususnya di medan hutan dan rimba.

 

“Saat ini MDMC Jawa Tengah sedang melaksanakan Diklat SAR Madya hutan rimba. Kami sedang menempa para relawan Muhammadiyah yang sudah memiliki dasar hutan rimba agar dapat memperbaiki dan meningkatkan ilmunya,” kata Huda.

 

Menurut dia, peningkatan kompetensi penting karena Indonesia memiliki kondisi geografis dan tingkat kerawanan bencana yang membutuhkan kesiapan personel pencarian dan pertolongan.

 

Relawan yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian, kata Huda, dalam kondisi tertentu dapat menjadi unsur awal yang membantu penanganan sebelum dukungan dari tim lain datang.

 

“Sehingga lebih profesional dalam penanganan darurat bencana yang ada di Jawa Tengah maupun di Indonesia,” ujarnya.

 

Bukan Sekadar Mengandalkan Keberanian

 

Di medan SAR, kepedulian saja tidak cukup.

 

Seorang relawan harus mampu membaca situasi, memahami risiko, berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengambil keputusan, sekaligus menjaga keselamatan diri dan korban.

 

Karena itu, Diklat SAR Madya tersebut menggunakan pendekatan Competency Based Training (CBT) atau pelatihan berbasis kompetensi. Peserta ditempa melalui tiga aspek utama: pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

 

Materi tidak berhenti di ruang teori. Peserta langsung menghadapi simulasi dan latihan lapangan agar mampu menghubungkan konsep dengan kondisi nyata.

 

Materi yang diberikan antara lain Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, fikih kebencanaan, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) atau Medical First Response (MFR), manajemen perjalanan gunung dan hutan, pemahaman iklim dan medan, navigasi darat, komunikasi lapangan, hingga High Angle Rescue Technique (HART).

 

Peserta juga mendapatkan materi survival, botani dan zoologi praktis, Search and Rescue Explorer (E-SAR), serta pembinaan fisik.

 

Metode pembelajaran dipadukan melalui studi kasus, analisis operasi, simulasi, latihan berulang, praktik terpadu, pembelajaran kolaboratif, serta evaluasi melalui After Action Review.

 

Dengan pola tersebut, peserta tidak hanya dituntut mengetahui prosedur, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi yang membutuhkan ketepatan, kecepatan, koordinasi, dan keselamatan.

 

Ketika Peta Harus Bertemu Medan

 

Salah satu tantangan penting dalam pelatihan adalah navigasi darat.

 

Di atas peta, garis kontur dan simbol mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika harus diterjemahkan menjadi arah perjalanan di tengah hutan dan perbukitan, kemampuan tersebut membutuhkan ketelitian.

 

Gunung Telon menjadi laboratorium terbuka bagi peserta untuk menguji kemampuan itu.

 

Peserta dilatih menghubungkan informasi pada peta dengan kondisi nyata di lapangan. Mereka harus memperhitungkan arah, karakter jalur, pilihan rute, serta risiko keselamatan selama perjalanan.

 

Kemampuan tersebut menjadi penting dalam operasi pencarian. Kesalahan membaca medan dapat memengaruhi efektivitas pencarian sekaligus meningkatkan risiko bagi tim penolong.

 

Selain navigasi, peserta juga diperkenalkan dengan teknik pencarian melalui pendekatan E-SAR agar proses pencarian dapat dilakukan secara sistematis dan terkoordinasi.

 

Dilatih Bekerja sebagai Tim

 

Operasi SAR hampir tidak pernah menjadi pekerjaan satu orang.

 

Ada pembagian tugas, komunikasi, koordinasi, pengambilan keputusan, hingga pengendalian risiko yang harus berjalan secara bersamaan.

 

Karena itu, peserta tidak hanya diuji secara individu. Latihan kolaboratif dan simulasi dirancang untuk menguji kemampuan mereka bekerja sebagai satu tim.

 

Peserta dituntut mampu menganalisis situasi, mengenali kebutuhan, memperhitungkan risiko, dan menentukan langkah sesuai kondisi lapangan.

 

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian utama. Kondisi cuaca, medan, kemampuan personel, logistik, keselamatan korban, hingga keamanan tim penolong harus menjadi bagian dari pertimbangan sebelum sebuah tindakan dilakukan.

 

Memperkuat Jejaring SAR Muhammadiyah

 

Diklat tersebut juga menjadi ruang mempertemukan relawan dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah.

 

Bagi MDMC, jejaring lintas daerah penting untuk membangun pola komunikasi dan koordinasi ketika sebuah operasi membutuhkan dukungan personel dari wilayah lain.

 

Kesamaan pemahaman mengenai prosedur, komunikasi, pencarian, evakuasi, dan keselamatan diharapkan membuat relawan dari berbagai daerah lebih mudah bekerja dalam satu operasi.

 

Dengan demikian, pelatihan tidak hanya meningkatkan kemampuan individu, tetapi sekaligus memperkuat ekosistem SAR Muhammadiyah di Jawa Tengah.

 

Huda berharap seluruh proses pelatihan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang kelak menjadi penerima manfaat kerja kemanusiaan para relawan.

 

“Harapan kami, dengan pelaksanaan kegiatan ini, kami bisa memberikan yang terbaik kepada penerima manfaat nantinya,” ujarnya.

 

Dari Gunung Telon untuk Kesiapsiagaan

 

Lima hari di Gunung Telon pada akhirnya bukan sekadar agenda pelatihan.

 

Para relawan ditempa untuk memahami bahwa operasi SAR membutuhkan lebih dari keberanian. Ada kompetensi, disiplin, komunikasi, kerja sama, dan kemampuan mengambil keputusan yang harus terus diasah.

 

Sebab, ketika panggilan kemanusiaan datang, medan tidak selalu ramah. Hutan bisa rapat, jalur bisa terjal, cuaca dapat berubah, dan waktu bisa menjadi faktor penentu.

 

Karena itu, kemampuan SAR harus terus dipelihara melalui latihan, pengalaman, evaluasi, dan pembelajaran berkelanjutan.

 

Dari Gunung Telon, 15 relawan SAR Muhammadiyah Jawa Tengah membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman menembus hutan dan perbukitan.

 

Mereka membawa bekal untuk satu tugas yang jauh lebih penting: hadir dengan kompetensi ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. (AMM/*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!