25.6 C
Jakarta

Benarkah RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Jauh dari Nilai Agama dan Norma Sosial?

Must read

Wabah Masih Meningkat, Muhammadiyah Luncurkan Program Mentari Covid-19

    Yogyakarta,MENARA62.COM—Adanya perkembangan kasus wabah covid-19 yang terus meningkat di Indonesia, membuat Muhammadiyah tidak bisa tinggal diam. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah menganggap bahwa pandemi ini...

Provinsi Sulawesi Tenggara Ditetapkan Menjadi Tuan Rumah Rangkaian Peringatan HPN 2022

JAKARTA – Menara62.com - Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tetap akan menjadi tuan rumah rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Hanya saja, waktunya bergeser dari...

LLHPB PWA Jawa Tengah Adakan Sosialisasi Pandemi dan Kesehatan Lingkungan

Sukoharjo,MENARA62.COM - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Tengah ikut serta dalam pelatihan Manajemen Program yang diselenggarakan LLHPB Pimpinan...

Kunjungi Menteri KKP, Ketua YPLG ASMI Berjanji Dukung Kemajuan Kaum Perempuan

JAKARTA, MENARA62.COM – Masih kuatnya budaya patriarki membuat jumlah pemimpin dari kalangan perempuan di Indonesia masih rendah. Padahal jika diberikan kesempatan, perempuan bisa maju...

Aksi menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi aksi yang viral beberapa minggu terakhir ini. Sosial media dipenuhi berita dan tautan tentang info tersebut, lengkap dengan infografis yang cukup menarik perhatian.

RUU ini dicurigai akan memidanakan orangtua yang “memaksa” anaknya menggunakan hijab, melanggengkan seks bebas dan LGBT, mempromosikan aborsi dan pelacuran, yang jauh dari nilai agama dan norma sosial bangsa. Benarkah demikian?

“Tidaklah benar jika RUU ini dikatakan melegalkan aborsi, seks bebas, pelacuran, maupun LGBT, juga sampai mengancam akan mempidanakan orangtua yang ingin anaknya menerapkan ajaran agamanya. Jadi, tidak benar RUU ini jauh dari nilai-nilai norma sosial apalagi keagamaan,“ jelas Vitria Lazzarini Latief,Psikolog Senior Consultant Global Leadership Indonesia.

Nafas dari RUU ini menurut Vitria, untuk mencegah tindak kekerasan, upaya untuk memperbaiki korban kekerasan, bukan sekedar menghukum pelaku tindak kekerasan. Berangkat dari perspektif korban dan untuk pemulihan korban.

Kecurigaan

Gelombang penolakan RUU terjadi karena adanya kecurigaan tidak mendasar, tidak tepat menyimpulkan, serta tidak mengutip draft RUU yang sesungguhnya. RUU sebagai suatu rancangan disusun dengan sangat komprehensif, tak hanya soal pemidanaan, RUU ini membahas upaya pencegahan lintas sektoral, penanganan yang terintegrasi dan komprehensif, rehabilitasi pelaku, pemulihan serta ganti rugi untuk korban.

Menurutnya, RUU ini juga ingin memastikan agar korban dengan disabilitas didengar laporannya dan mendapatkan fasilitas penunjang yang mudah untuk mereka akses.

Jika dikatakan RUU ini sebagai buah pengaruh dari Barat, Vitria juga mengatakan itu tidaklah benar. RUU ini bertujuan untuk melengkapi  UU yang sudah ada, karena berdasarkan pengalaman korban dan proses pendampingan, UU yang ada saat ini belum mampu sepenuhnya melindungi korban.

“Jadi, cari tahulah info mengenai RUU Penghapusan Kekerasan Seksual  yang dapat diunduh di halaman resmi DPR RI. JIka ada yang tidak disepakati, diskusikan dan cari jalan keluar bersama. Letakkan kaca mata Anda sejenak. Gunakanlah kaca mata korban dan keluarganya. Tanggalkan sepatu Anda, pakailah sepatu korban dan keluarganya. Di situlah Anda dapat melihat dan merasakan luka mendalam yang sulit dipulihkan, tanpa adanya dukungan dan kepedulian dari semua pihak. Semoga tak lama lagi korban terjamin haknya melalui pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual,” ujarnya.

 

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Wabah Masih Meningkat, Muhammadiyah Luncurkan Program Mentari Covid-19

    Yogyakarta,MENARA62.COM—Adanya perkembangan kasus wabah covid-19 yang terus meningkat di Indonesia, membuat Muhammadiyah tidak bisa tinggal diam. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah menganggap bahwa pandemi ini...

Provinsi Sulawesi Tenggara Ditetapkan Menjadi Tuan Rumah Rangkaian Peringatan HPN 2022

JAKARTA – Menara62.com - Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tetap akan menjadi tuan rumah rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Hanya saja, waktunya bergeser dari...

LLHPB PWA Jawa Tengah Adakan Sosialisasi Pandemi dan Kesehatan Lingkungan

Sukoharjo,MENARA62.COM - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Tengah ikut serta dalam pelatihan Manajemen Program yang diselenggarakan LLHPB Pimpinan...

Kunjungi Menteri KKP, Ketua YPLG ASMI Berjanji Dukung Kemajuan Kaum Perempuan

JAKARTA, MENARA62.COM – Masih kuatnya budaya patriarki membuat jumlah pemimpin dari kalangan perempuan di Indonesia masih rendah. Padahal jika diberikan kesempatan, perempuan bisa maju...

Lazismu Pulang Pisau bagikan daging segar bantuan qurban BPKH Indonesia

PULANG PISAU, MENARA62.COM - Lembaga Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pulang Pisau (01/08) menjalankan program Qurban untuk Ketahanan Pangan, yaitu...