26.2 C
Jakarta

Berbuka Puasa dengan Teh Manis, Sehatkah?

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Berbuka puasa dengan minuman dan makanan serba manis, seperti teh dan kolak menjadi tipikal masyarakat Indonesia. Tetapi bagaimana ditinjau dari segi kesehatan?

Akademisi dan Praktisi Gizi yang juga ketua Yayasan Masyarakat Sadar Sadar Gizi, dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK menjelaskan makanan atau minuman manis dengan kadar gula tinggi sebaiknya dihindari selama puasa. Karena jenis makanan dan minuman manis akan menjadi pemicu terjadinya inflamasi.

“Berbuka dan sahur, disarankan menjauhi makanan bergula tinggi, lemak jenuh dan trans yang tinggi seperti teh manis dan minuman manis lainnya serta aneka gorengan yang seringkali menjadi tipikal menu berbuka di Indonesia,” kata dr Tirta pada diskusi online Puasa: Sehat dan Menyehatkan, Rabu (23/4/2020).

Menu buka puasa lebih baik mengkonsumsi kurma dan buah-buahan yang banyak mengandung air untuk mensuplai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Seperti halnya ketika dalam kondisi normal, saat puasa konsumsi makanan dengan gizi seimbang lanjut dr Tirta sangat diperlukan untuk menjaga imun atau daya tahan tubuh. Terlebih dalam situasi pandemi seperti sekarang ini.

Adapun indikator seimbangnya makanan yang dimakan dapat dilihat dari variasi jenis dan warna yang terhidang dalam piring makan. Pastikan selalu menghadirkan protein (hewani dan nabati), sumber karbohidrat (makanan pokok, diutamakan yang mengandung serat tinggi seperti nasi merah, umbi, jagung atau nasi putih yang ditambahkan dengan aneka biji-bijian) serta sumber lemak baik yang bisa diperoleh dari alpukat dan minyak tak jenuh ganda lainnya.

Protein hewani kata dr Tirta akan mensuplai asam amino yang lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Karena itu pastikan selalu ada setidaknya 1- 2 porsi protein hewani.  Jenis white meat seperti unggas dan ikan merupakan pilihan terbaik.

Namun jika sulit, sebutir telur per hari menjadi jalan keluar yang paling baik untuk protein berkualitas. Protein yang menjalani proses fermentasi sangat baik untuk kesehatan saluran cerna. Tahu dan tempe lebih baik daripada kacang kedelai. Yogurt dan keju memiliki kelebihan daripada susu.

Tidak hanya zat gizi makro, zat gizi mikro juga sangat dibutuhkan. Memastikan dipiring kita memiliki sayuran dan buah dengan 5 warna berbeda akan menjadi penanda yang baik bahwa asupan vitamin dan mineral kita tercukupi.

Proses memasak mempengaruhi kualitas dan kuantitas vitamin dan mineral.  Sehingga perlu kita menghindari proses memasak yang rumit dan menggunakan bahan yang terlalu banyak.

“Fokus pada rasa asli sayuran dan masaklah sesingkat mungkin. Sayur bening bayam lebih baik daripada bayam yang disayur bobor (memakai santan). Daun ubi rebus lebih baik daripada gulai daun ubi tumbuk,” tukasnya.

Menurut dr Tirta, puasa memberikan efek medis yang baik bagi kesehatan. Sebab selama puasa tubuh akan menjalani metabolisme switch, mengubah penggunaan sumber energi dan memakai simpanan energi yang selama ini disimpan dalam bentuk lemak.

“Penggunaan sumber energi yang berbeda ini menjadi salah satu bentuk detoksifikasi yang memberi dampak metabolisme yang berbeda bagi tubuh,” tutupnya.

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!