32 C
Jakarta

Dosen FK UMS Raih Best E-Poster ISMOAC

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Prestasi membanggakan kembali diraih sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UMS, dr. Adam Fauzi Akbar, M.Biomed., berhasil meraih penghargaan Best E-Poster kategori Systematic Review/Original Article dalam ajang The 4th Indonesia Scientific Meeting in Obstetric Anesthesia and Critical Care (ISMOAC) 2026.

 

Penghargaan tersebut diraih melalui penelitian yang mengkaji tren global pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam bidang perawatan kritis obstetri. Kompetisi ilmiah tersebut berlangsung pada 10–13 Mei 2026 di Surakarta dan diikuti puluhan peserta dari berbagai institusi kesehatan dan pendidikan di Indonesia.

 

ISMOAC merupakan forum ilmiah tahunan yang mempertemukan para dokter spesialis anestesi dengan fokus pada anestesi obstetri dan perawatan kritis kehamilan. Selain simposium dan workshop, forum ini juga menjadi ajang kompetisi ilmiah yang menampilkan berbagai hasil penelitian terbaru di bidang kesehatan ibu.

 

Adam menjelaskan, pada tahap awal terdapat sekitar dua puluh peserta yang mengikuti kategori poster ilmiah. Setelah melalui proses seleksi, hanya beberapa karya terbaik yang lolos ke babak final untuk dipresentasikan di hadapan peserta kongres yang terdiri atas dokter spesialis, akademisi, dan guru besar.

 

“Awalnya peserta yang mengikuti kategori ini sekitar dua puluhan. Setelah seleksi, tersisa beberapa finalis yang kemudian melakukan presentasi. Dari situ dipilih satu karya terbaik untuk dipresentasikan di depan kongres,” ujarnya, Senin (8/6/2026).

 

Penelitian yang mengantarkannya meraih penghargaan berjudul Artificial Intelligence in Obstetric Critical Care: A Global Bibliometric Study of Research Trends. Studi tersebut menyoroti perkembangan penelitian AI dalam bidang perawatan intensif obstetri di berbagai negara.

 

Menggunakan metode bibliometrik, Adam memanfaatkan data publikasi ilmiah yang bersumber dari basis data Scopus melalui fasilitas langganan UMS. Data tersebut kemudian dianalisis dan divisualisasikan menggunakan perangkat lunak bibliometrik untuk memetakan tren penelitian, kolaborasi ilmiah, serta fokus kajian AI dalam kesehatan ibu.

 

“Awalnya terdapat sekitar 3.000 publikasi yang kami identifikasi, kemudian setelah proses penyaringan menjadi sekitar 2.100 artikel yang dianalisis lebih lanjut,” ungkapnya.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam bidang obstetric critical care mengalami peningkatan signifikan sejak 2005 dan terus berkembang hingga mencapai puncaknya pada 2025. Tren tersebut diperkirakan masih akan terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi dan kebutuhan layanan kesehatan berbasis data.

 

Menurut Adam, salah satu fokus utama penelitian AI di bidang kesehatan ibu saat ini adalah penanganan preeklamsia, yakni kondisi tekanan darah tinggi pada ibu hamil yang berpotensi berkembang menjadi eklamsia dan menyebabkan komplikasi serius.

 

Dari hasil pemetaan bibliometrik yang dilakukan, topik preeklamsia menjadi tema penelitian yang paling dominan dibandingkan dua penyebab utama kematian ibu lainnya, yakni perdarahan pascapersalinan dan sepsis.

 

“AI banyak digunakan untuk memprediksi risiko dan luaran kesehatan pada kasus preeklamsia. Data yang dianalisis meliputi usia ibu, usia kehamilan, tekanan darah, hasil laboratorium, proteinuria, hingga kemungkinan komplikasi dan lama perawatan,” jelasnya.

 

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa perkembangan AI dalam bidang kesehatan ibu masih didominasi negara-negara maju seperti Amerika Serikat, China, dan Inggris. Namun demikian, Indonesia mulai menunjukkan perkembangan yang menjanjikan dengan tercatat memiliki sekitar 45 publikasi ilmiah pada bidang tersebut.

 

Adam menilai tantangan terbesar pengembangan AI di Indonesia tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada penguatan ekosistem riset yang melibatkan berbagai pihak. Menurutnya, keberhasilan negara-negara maju dalam mengembangkan AI tidak lepas dari kolaborasi antara perguruan tinggi, industri teknologi, pemerintah, lembaga pendanaan, dan tenaga kesehatan.

 

“Ke depan, pengembangan AI tidak bisa dilakukan sendiri oleh akademisi atau klinisi. Dibutuhkan kolaborasi multisektor antara universitas, industri, pemerintah, dan lembaga pendanaan agar inovasi yang dihasilkan dapat berkembang dan diterapkan secara nyata,” katanya.

 

Ia berharap Indonesia mampu mengambil peran lebih besar sebagai pengembang teknologi AI di bidang kesehatan, bukan sekadar menjadi pengguna. Upaya tersebut dapat dimulai dengan memperkuat budaya penelitian di kalangan klinisi serta meningkatkan kualitas pengelolaan data kesehatan.

 

“Harapannya, klinisi di Indonesia juga menjadi peneliti. Dengan data yang kuat dan kolaborasi yang baik, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi developer dan pengembang teknologi AI di bidang kesehatan,” pungkasnya.

 

Prestasi yang diraih Adam Fauzi Akbar menjadi bukti kontribusi akademisi UMS dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Selain mengharumkan nama institusi, penelitian tersebut juga membuka peluang pemanfaatan AI yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu di masa depan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!