30.7 C
Jakarta

Bincang Cerdas (CADAS) Bersama Dhuha F. Mubarok,S.H. Tokoh Muda Muhammadiyah Bali.

Baca Juga:

DENPASAR, MENARA62.COM. Pandemi Covid 19 yang terjadi selama 2 tahunan telah banyak merubah segala rencana dan kegiatan yang seharusnya dilakukan banyak organisasi, pun-terjadi di tubuh perserikatan Muhammadiyah di Indonesia pada umumnya.

Memasuki tahun ketiga sejak terjadi pandemi covid 19, geliat organisasi Muhammadiyah semakin terasa dan banyak memberikan manfaat kepada masyarakat baik saat masih terjadi pandemi maupun saat ini yang sudah sedikit menghilang dan pulih.
Kondisi yang semakin membaik inipun terjadi di Muhammadiyah Bali.

Adalah Dhuha F. Mubarok,S.H. seorang kader Muda Muhammadiyah Bali yang sudah banyak berkiprah dalam dinamika pergerakan Muhammadiyah Bali. Baik melalui Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bali maupun Pimpinan Muhammadiyah Daerah dan Wilayah Bali.

Dalam sesi wawancara via WA, saya (penulis,red) mencoba mengajak berbincang cerdas atau yang disingkat CADAS sosok yang memiliki kegemaran traveling ini. Dengan sigap beliau memberikan respon ketika saya tawarkan untuk wawancara. Walau link berita yang saya kelola masih sangat amatir dan sekedar blogspot.

1. Apa pendapat Mas Duha terkait perkembangan Muhammadiyah Bali saat ini.

” Perkembangan Muhammadiyah di Bali secara umum cukup signifikan. Amal usaha Muhammadiyah masih bisa dikatakan eksis di tengah keterbatasan yang ada, bahkan mimpi memiliki perguruan tinggi mampu diwujudkan. Secara kaderisasi sayabmelihat terus bertumbuhan kader-kader potensial yang berproses dan diproses melalui Ortom-ortom. Ini menunjukkan gerbong besar organisasi bergerak dengan cukup baik. Dan masih banyak lagi indikator kemajuan lainnya.
Namun tentu saja ada sejumlah catatan yg perlu diatensi. Misalnya, bagaimana unsur-unsur organisasi Muhammadiyah belum bisa menghasilkan produk yang bermanfaat bagi umat dan masyarakat. Majelis tarjih misalnya, sejauh ini belum pernah membahas persoalan umat dan masyarakat yang perlu dikaji kaidah hukum fiqihnya. Atau majelis dakwah khusus, juga demikian. Belum ada telaah-telaah kritis yang dituangkan dalam paperwork terkait situasi sosial politik yg terjadi secara aktual dan faktual. Jika ingin Muhammadiyah lebih berkembang lagi, maka tradisi diskusi, literasi, aksi dan komunikasi harus ditumbuhkan secara lebih massif lagi.” Ucap Duha yang memperistri Suryani Fajarwati dan telah dikaruniai 3 orang ini.

2. Apakah Muhammadiyah Bali saat ini sudah mampu membaur dan memberi perannya pada masyarakat Bali?

” Menurut saya, Muhammadiyah Bali sudah berhasil menjadi bagian dan membaur dengan masyarakat Bali. Hal ini wajar, karena keberadaan Muhammadiyah di Bali memiliki sejarah yg cukup panjang dengan segala bentuk kontribusinya. Secara kelembagaan, Muhammadiyah sudah sangat bermanfaat bagi masyarakat Bali. Contohnya sederhana, lembaga2 yang dimiliki Muhammadiyah tidak pernah absen hadir di masyarakat, seperti Lazismu dan MDMC. Bagi saya peran2 seperti itu merupakan wujud pembauran dlm konteks kemanfaatan. Warga Muhammadiyah di Bali juga cukup sadar memainkan perannya di tengah masyarakat yg multikultural bukan sekadar plural.Multikultural di sini artinya ada saling memahami dan memberi manfaat, bukan sekadar paham jika berbeda. Jika masih perlu ditingkatkan, itu pasti. Semakin dalam membaur tentu akan semakin terasa manfaat Muhammadiyah bagi masyarakat.” Lanjut bapak dari 3 anak ini yaitu Bintang Levina Raniah, Tsani Afifah ArraHMI, Tsalisa Mahayu Kinasih memberikan jawaban.

3. Terkait kepemimpinan muhammadiyah Bali, bagaimana menurut mas Duha pimpinan muhammadiyah yang ideal? Apakah harus dari warga/kader muhammadiyah sendiri atau profesional yang bisa saja tidak pernah bersentuhan dengan muhammadiyah?

Muhammadiyah adalah organisasi terbuka. Siapa saja yang sepakat dengan idiologi, visi-misi dan tujuan tentu berhak untuk mengkontribusikan dirinya bagi Muhammadiyah. Kepimpinan di Muhammadiyah sifatnya juga kolektif kolegial. Dengan demikian, saya memandang sah-sah saja profesional di luar Muhammadiyah ikut mengurus Muhammadiyah. Daripada potensi SDM seperti itu diambil oleh organisasi lain, sementara mereka punya komitmen memajukan Muhammadiyah Bali, kenapa tidak. Namun, tentu saja harus proporsional. Maksud saya, di level pimpinan idealnya mereka yang telah kenyang merasakan asam garam bermuhammadiyah. Karena pimpinan tdk sekadar menjalankan aktifitas organisasi semata, namun punya tanggung jawab menjaga ideologi Muhammadiyah sebagai jiwa organisasi. Agak riskan jika kemudian diisi oleh orang-orang yang belum paham betul tentang ruh dan anatomi Muhammadiyah. Bisa-bisa terjadi infiltrasi idiologi di luar Muhammadiyah. Ini risiko bagi saya.” Jawab sosok yang punya motto Kerja Formalitas, Ngopi Rutinitas.

” Bicara peluang. Semua yang punya potensi memiliki peluang yang sama. Tidak ada jalan tol dalam berkompetisi. Tidak ada karpet merah dalam berfastabiqul khairat. Semua harus diperjuangkan dan diupayakan. Nah, tentu saja dalam pandangan saya, kader muda yang telah dikader dan berproses di Muhammadiyah memiliki nilai lebih dibanding yang tidak sama sekali, dgn demikian peluangnya tentu lebih terbuka. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kader muda tersebut memanfaatkan dan memainkan peluang tersebut. Sy tidak setuju dengan adanya prievilege bagi mereka. Privielege hanya bisa didapatkan dari prestasi dan kerja mereka. Itulah filosofi proses tidak pernah menghianati hasil. Jalan menuju kepimpinan di Muhammadiyah itu sudah sedemikian rapi dan tertata. Nah tempuh saja sesuai prosedur dan berkompetisilah dgn sehat dan cerdas.” Tandas Duha salah satu komisioner Ombudsman RI Perwakilan Bali ini saat menjawab pertanyaan bagimana melihat peluang kader-keder muda yang terkader dari berbagai ortom sejak awal untuk menjadi pimpinan muhammadiyah Bali kedepan?

5. Menurut mas Duha bagaimana seharusnya pimpinan muhammadiyah membangun komunikasi dengan PDM-PDM dan Ortom-Ortom se-Bali?

” Komunikasi organisasi menjadi unsur penting dalam mengelola organisasi. Tanpa ada komunikasi yg sehat maka jalannya organisasi akan tersendat. Banyak pesan yg tidak terdeliver dengan baik, yang terjadi adalah miskomunikasi, ujung-ujungnya timbul friksi. Ini penyakit yang berbahaya bagi organisasi. Komunikasi yang sehat bisa dibangun dengan mengembangkan pola egaliterian. Jangan ada yang merasa paling berkuasa. Jangan sampai timbul pemahaman PDM adalah bawahan PWM di mana komando mutlak ada di tangan institusi atasnya seperti organisasi militer. Tidak, Muhammadiyah tidak seperti itu. Secara organisasi formal, komunikasi kelembagaan terwadahi melalui rapat dan musyawarah sesuai aturan organisasi. Namun itu sifatnya sangat formal dan terbatas. Dengan demikian komunikasi informal perlu dikembangkan
bukan sebagi wadah mengambil keputusan, namun lebih pada upaya saling menguatkan pemahaman dan memfasilitasi lalu lintas ide dan gagasan. Inilah wujud yg saya sampaikan di awal. Kembangkan budaya diskusi, literasi, aksi dan komunikasi. Jangan ada curiga terhadap forum-forum diskusi yg berkembang.” Papar aktivis kelahiran asli Malang ini.

Saat ditanya sebagai Panlih Muswil PWM Bali tahun depan, apa syarat2 terpenting seseorang yang bisa dianggap lolos sebagai calon PWM Bali? Dengan elegan dan runut Sarjana Hukum ini memberikan jawabannya.

” Secara formal, syarat untuk menjadi pimpinan Muhammadiyah sudah diatur dalam AD/ART Muhammadiyah, baik secara administratif maupun substantif. Namun di luar itu, bagi saya untuk bisa menjadi pimpinan Muhammadiyah Bali dia harus punya visi yang jelas, terukur dan visible. Memimpin organisasi besar selama lima tahun bukan hal yg mudah. Dia harus memiliki kompas pemandu agar tidak salah jalan. Dan itu harus dirumuskan sejak awal berbasis data. Kemudian dikompare dengan peluang, tantangan dan hambatan yang bakal terjadi. Sosok tersebut harus memiliki kemampuan melihat masa depan. Bukan dengan cara melihat bola kristal seperti ahli nujum. Tapi lewat data dan fakta saat ini. Kualifikasi lainnya sy pikir standard saja seperti syarat pemimpin pada umumnya.” Jawabnya singkat padat dan jelas.

Terakhir, harapan mas Duha terkait kepemimpinan PWM Bali nanti seperti apa?

” Harapan saya sederhana, wujudkan perintah Allah dalam surat Al Imran ayat 103.Karena mereka adalah golongan yg terpilih utk menjadi dirigen dlm ber-yad’una ilal khair dan ber-amar makruf nahy munkar. Agar, warga Muhammadiyah menjadi orang-orang yang beruntung.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!