Dosen Penjas UMS Antar Indonesia Raih Emas Asian Para Games 2026

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Dosen Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Azlan Khoirur Rozikin, S.Pd., M.Or., turut mengantarkan atlet Indonesia meraih medali emas dan perak dalam ajang Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi UMS sekaligus menunjukkan kontribusi akademisi dalam pembinaan olahraga prestasi di tingkat internasional.

 

Azlan dipercaya menjadi pelatih Tim Nasional Indonesia cabang olahraga para atletik dalam kompetisi yang berlangsung pada 18–24 Oktober 2026 di wilayah Aichi-Nagoya, Jepang.

 

Dua medali tersebut diraih atlet Indonesia pada Rabu (21/10/2026). Medali emas dipersembahkan Karisma Evi Tiarani pada nomor lari 100 meter putri klasifikasi T63 dengan catatan waktu 14,59 detik.

 

Sementara itu, Saptoyogo Purnomo menyumbangkan medali perak pada nomor lari 100 meter putra klasifikasi T37 dengan waktu 11,35 detik.

 

Keberhasilan tersebut menambah catatan positif perjuangan atlet para atletik Indonesia di panggung Asia. Di balik pencapaian itu, peran pelatih menjadi salah satu elemen penting dalam mempersiapkan atlet menghadapi persaingan internasional.

 

Dosen UMS Berkontribusi dalam Pembinaan Atlet Nasional

 

Keterlibatan Azlan sebagai pelatih tim nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi UMS, khususnya Program Studi Pendidikan Jasmani. Kiprah tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi akademik dan ilmu kepelatihan dapat diterapkan secara langsung untuk mendukung peningkatan prestasi olahraga nasional.

 

Selain menjalankan tugas sebagai dosen, Azlan juga tercatat sebagai mahasiswa program doktor (S3) penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun akademik 2026/2027.

 

Peran sebagai akademisi sekaligus pelatih nasional membuka peluang untuk mempertemukan pengembangan ilmu olahraga dengan praktik kepelatihan di lapangan. Pengalaman dalam kompetisi internasional juga dapat memperkaya pemahaman mengenai strategi latihan, evaluasi teknik, pengembangan performa, serta pembinaan olahraga adaptif.

 

Kontribusi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem olahraga prestasi melalui pendidikan, penelitian, dan praktik kepelatihan.

 

Mengenal Klasifikasi T37 dan T63 dalam Para Atletik

 

Dalam cabang olahraga para atletik, huruf T merupakan singkatan dari track atau lintasan. Klasifikasi tersebut digunakan untuk nomor lintasan, termasuk lari, dengan mempertimbangkan jenis gangguan dan dampaknya terhadap kemampuan fungsional atlet.

 

Klasifikasi T37 diperuntukkan bagi atlet dengan gangguan koordinasi gerak yang memenuhi kriteria klasifikasi, termasuk sebagian atlet dengan cerebral palsy. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan, kontrol tubuh, serta koordinasi gerakan lengan dan kaki.

 

Pada nomor lari 100 meter, atlet kelas T37 perlu mengoptimalkan akselerasi, koordinasi langkah, dan kecepatan hingga garis finis.

 

Adapun klasifikasi T63 diperuntukkan bagi atlet dengan amputasi atau gangguan anggota gerak bawah yang memenuhi kriteria klasifikasi, umumnya amputasi tungkai di atas lutut pada satu sisi tubuh. Atlet menggunakan prostesis sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Kemampuan beradaptasi dengan prostesis, menjaga keseimbangan, menghasilkan akselerasi, dan mempertahankan efisiensi gerak menjadi aspek penting dalam menunjang performa.

 

Perbedaan karakteristik kedua klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa pembinaan para atletik membutuhkan pendekatan latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan individual atlet. Perencanaan program latihan, pengembangan kekuatan, evaluasi teknik, dan pengelolaan performa menjadi bagian penting dalam persiapan menghadapi kompetisi internasional.

 

Jadi Inspirasi Mahasiswa Pendidikan Jasmani

 

Prestasi yang diraih atlet Indonesia dengan dukungan tim kepelatihan menjadi inspirasi bagi mahasiswa Pendidikan Jasmani UMS untuk terus mengembangkan kompetensi profesional dan kapasitas keilmuan.

 

Pengalaman Azlan di tingkat internasional memperlihatkan bahwa lulusan dan akademisi bidang pendidikan jasmani memiliki peluang berkontribusi dalam berbagai bidang, termasuk kepelatihan, pengembangan ilmu olahraga, serta pembinaan atlet berprestasi.

 

Keberhasilan atlet para atletik Indonesia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara atlet, pelatih, organisasi olahraga, dan institusi pendidikan dalam membangun prestasi yang berkelanjutan.

 

Melalui kiprah Azlan Khoirur Rozikin, UMS turut mengambil bagian dalam perjalanan olahraga Indonesia di panggung Asia. Capaian tersebut diharapkan dapat mendorong sivitas akademika untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan olahraga nasional. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!