25.6 C
Jakarta

Era New Normal, Tahan Diri Keinginan Olahraga Bareng Komunitas

Must read

Wabah Masih Meningkat, Muhammadiyah Luncurkan Program Mentari Covid-19

    Yogyakarta,MENARA62.COM—Adanya perkembangan kasus wabah covid-19 yang terus meningkat di Indonesia, membuat Muhammadiyah tidak bisa tinggal diam. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah menganggap bahwa pandemi ini...

Provinsi Sulawesi Tenggara Ditetapkan Menjadi Tuan Rumah Rangkaian Peringatan HPN 2022

JAKARTA – Menara62.com - Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tetap akan menjadi tuan rumah rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Hanya saja, waktunya bergeser dari...

LLHPB PWA Jawa Tengah Adakan Sosialisasi Pandemi dan Kesehatan Lingkungan

Sukoharjo,MENARA62.COM - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Tengah ikut serta dalam pelatihan Manajemen Program yang diselenggarakan LLHPB Pimpinan...

Kunjungi Menteri KKP, Ketua YPLG ASMI Berjanji Dukung Kemajuan Kaum Perempuan

JAKARTA, MENARA62.COM – Masih kuatnya budaya patriarki membuat jumlah pemimpin dari kalangan perempuan di Indonesia masih rendah. Padahal jika diberikan kesempatan, perempuan bisa maju...

JAKARTA, MENARA62.COM – Olah raga menjadi salah satu aktivitas yang dapat mengusir rasa jenuh maupun kebosanan di saat kita menghabiskan sebagian waktu di rumah. Namun, kita tetap perlu memperhatikan beberapa hal yang aman dilakukan, khususnya di tengah masa pandemi.

Olah raga dapat dilakukan secara mandiri oleh diri sendiri tetapi masyarakat biasanya melakukannya dalam komunitas. Di tengah masa penyebaran virus SARS-CoV-2, ini menjadi tantangan bagi mereka yang biasa melakukannya secara berkomunitas. Namun, upaya adaptif dapat dilakukan sehingga yang dilakukan oleh warga dapat tetap aman dan produktif. 

Pendiri Komunitas Yoga Gembira Yudhi Widyantoro mengungkapkan bahwa komunitasnya melakukan secara mandiri saat pandemi. Namun komunitasnya dapat terhubung secara virtual. 

“Sebelum masa pandemi, di Taman Suropati Minggu pagi, ada minimal 100 orang yang melakukan kegiatan yoga,” ujar Yudhi di Media Center GTPPC19 (7/6).

Menurutnya, ada sesuatu yang hilang saat melakukan yoga sendiri. Yakni kebersamaan baik saat yoga maupun acara makan bersama usai yoga.

“Kami memiliki ‘ritual’ pintong, pindah tongkrongan,” ujar Yudhi dalam siaran persnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kebersihan perlu dijaga sebelum melakukan yoga, seperti matras yang digunakan dan kebersihan tangan.

Sedangkan bagi penggiat olah raga bersepeda, beberapa langkah perlu dipersiapkan. Menurut pesepeda Azrul Ananda, olah raga sepeeda mengalami perubahan besar. Salah satunya dengan pemanfaatan teknologi. Dengan bersepeda statis, kita dapat melakukan dengan bantuan virtual meskipun ini tidak sama ketika bersepeda dengan menikmati lingkungan. 

Langkah adaptif juga dilakukannya ketika bersepeda. “Memilih sendirian atau membatasi kelompoknya. Sebisa mungkin yang saling kenal. Tentu dengan normal baru,” ujar Azrul yang juga pendiri mainsepeda.com.

Azrul mengatakan sebaiknya dengan teman yang kita kenal karena kita mengenal mereka atau kebiasaan mereka. Olah raga bersepeda membutuhkan kepercayaan satu sama lain.

Berbeda dengan yoga, langkah adaptif juga sangat dibutuhkan dalam berolah raga sepeda. Selain dalam berkomunitas, persiapan diri juga perlu dilakukan. 

Menurutnya orang lebih sadar berolah raga di saat pandemi, namun ia berpesan untuk masyarakat yang memulai bersepeda untuk mengetahui etika bersepeda, misalnya penggunaan helm, pelindung buff dan formasi bersepeda. 

“Ayo olah raga dengan masker saling menjaga. Jangan langsung olah raga, disesuaikan dengan kemampuannya,” ujar Azrul melalui sambungan zoom.

Sementara itu, pelari Melanie Putria menyampaikan ini merupakan kesempatan untuk mengajak anak-anak atau anggota keluarga lain berolah raga di rumah. Mereka yang jenuh dan bosan di rumah dapat kembali aktif dan semangat dengan berolah raga. 

Ia sependapat dengan Yudhi, olah raga lari juga memiliki komunitas. Di saat pandemi seperti ini, mereka memiliki rasa rindu luar biasa untuk berlari bersama.

Menurut Melanie, pelari tetap harus membawa masker apabila melakukan aktivitas tersebut. Namun ia berpesan, “Jangan menggunakan masker saat berlari.”

Ia mengingatkan saat berlari dengan menggunakan masker berisiko kepada mereka yang memiliki riwayat sakit jantung bawaan atau penyakit respirasi lain. Masker dapat digunakan kembali setelah tidak berlari.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Wabah Masih Meningkat, Muhammadiyah Luncurkan Program Mentari Covid-19

    Yogyakarta,MENARA62.COM—Adanya perkembangan kasus wabah covid-19 yang terus meningkat di Indonesia, membuat Muhammadiyah tidak bisa tinggal diam. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah menganggap bahwa pandemi ini...

Provinsi Sulawesi Tenggara Ditetapkan Menjadi Tuan Rumah Rangkaian Peringatan HPN 2022

JAKARTA – Menara62.com - Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tetap akan menjadi tuan rumah rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Hanya saja, waktunya bergeser dari...

LLHPB PWA Jawa Tengah Adakan Sosialisasi Pandemi dan Kesehatan Lingkungan

Sukoharjo,MENARA62.COM - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Tengah ikut serta dalam pelatihan Manajemen Program yang diselenggarakan LLHPB Pimpinan...

Kunjungi Menteri KKP, Ketua YPLG ASMI Berjanji Dukung Kemajuan Kaum Perempuan

JAKARTA, MENARA62.COM – Masih kuatnya budaya patriarki membuat jumlah pemimpin dari kalangan perempuan di Indonesia masih rendah. Padahal jika diberikan kesempatan, perempuan bisa maju...

Lazismu Pulang Pisau bagikan daging segar bantuan qurban BPKH Indonesia

PULANG PISAU, MENARA62.COM - Lembaga Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pulang Pisau (01/08) menjalankan program Qurban untuk Ketahanan Pangan, yaitu...