25.6 C
Jakarta

Falsafah Lebah

Must read

95 Persen Masyarakat Minta Pemerintah Mahalkan Harga Rokok

JAKARTA, MENARA62.COM - Perhelatan Festival Pemilu Harga yang diselenggarakan oleh Center for Indonesia Strategic Development Initiative (CISDI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI),...

BATAN Tingkatkan Pemanfaatan Nuklir pada Bidang Pertanian dan Industri

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemanfaatan iptek nuklir dewasa ini terus berkembang dan banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya di bidang pertanian dan industri. Badan Tenaga Nuklir...

Musibah dan Semangat Membangun Minat Baca

Oleh: Ashari, SIP* Musibah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tidak peduli kaya miskin. Semua orang pasti mengalami musibah. Hanya yang membedakan, di...

KARSA Turi Dukung Kustini – Danang pada Pilkada Sleman 2020

SLEMAN, MENARA62.COM -  Sekitar 50 ibu-ibu dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi yang tergabung dalam kelompok KARSA menyatakan dukungannya pada pasangan calon bupati/wakil bupati...

Oleh Ashari, SIP*

Anda pasti tahu lebah kan ? (Jawa: tawon). Binatang ini luar biasa. Sampai-sampai dimuat dalam Al-Quran (An-Nahl). Kita bisa mencontoh perilaku lebah ini. Baik dalam rumah tangga, maupun dalam bekerja. Bahwa produktivitas kerja berbanding lurus dengan suasana kerja. Artinya, sentuhan-sentuhan (touch) kecil  yang berasal dari diri pribadi, baik dari pimpinan maupun dari sesama rekan kerja akan menjadi pemicu semangat. Sentuhan kecil ini akan menimbulkan sikap saling menghargai dengan tetap menempatkan pada posisinya masing-masing. Begitupun sebaliknya.

Kalau karyawan sudah seperti saudara sendiri, dihargai sebagai satu posisi yang sama, maka gaji yang mepet pun kadangkala tidak meresahkan mereka, karena mereka merasa nyaman bekerja. Penulis setuju, dengan syarat kalau pimpinan atau pihak manajemen juga merasakan hal yang sama. Artinya, tidak berlaku, ketika karyawan gajinya mepet, sementara pimpinan gajinya besar. Kondisi ini jelas timpang dan tidak seimbang, akhirnya bermuara kepada turunnya kepercayaan dan produktifitas kerja.

Maka di samping penerapan personal touch, ada baiknya kalau ibarat masakan ditambah sedikit bumbu biar enak, yakni mencoba menerapkan: Falsafah Lebah. Binatang yang masuk dalam kategori serangga ini, kalau kita cermati secara mendalam, mereka mempunyai pola kerja yang sistematis dan terjaga rapi. Job description atau gambaran kerjanya jelas, sehingga tidak tumpang tindih.

Mereka mempunyai divisi-divisi yang efektif. Ada yang bertugas mencari makan (konsumsi), ada bagian distribusi, ada yang tinggal di rumah membangun ‘istana’,  bahkan ada yang bertugas khusus sebagai keamanan, ketika posisinya terancam dari luar. Begitu indah dan rapinya system kerja lebah ini, dalam terminology agama Islam, ada ayat atau surat khusus yang menerangkan tentang lebah. Luar biasa.

Nilai lebih lebah :

Meski lebah (tawon) ini menghisap bunga, tetapi tidak merugikan, justru sebaliknya, mereka turut membantu proses penyerbukan bagi tanaman yang ditumpanginya. Mereka juga tidak mau mengganggu makhluk lain, termasuk kepada manusia. Kecuali kalau diganggu, maka lebah rela mati untuk mempertahankan diri.

Satu lagi contoh lebah yang baik untuk dijadikan teladan adalah semangat kerjasama. Lebah biasa membangun rumahnya yang besar dan kokoh, tetapi kalau sudah besar dan kokoh tidak ditempatinya sendiri, atau oleh dua tiga lebah saja, tetapi semua lebah mempunyai hak yang sama untuk berlindung disaat panas menyengat atau dikala hujan tiba. Visi lebah satu, membangun ‘istana’nya secara bersama-sama, tidak sendiri-sendiri. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.

Dari binatang kecil ini kita manusia yang diciptakan oleh Allah – konon mempunyai kelebihan di bidang ilmu pengetahuan (yang tidak dimiliki oleh binatang) sudah selayaknya kalau mengambil pelajaran (ibrah) dan hikmah dari sistem kerja lebah untuk bisa diterapkan, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi bias juga dalam perilaku bisnis di perusahaan, baik yang sedang merangkak atau yang sudah maju sekalipun.

Tingkah laku lebah memiliki korelasi dan relevansi yang patut untuk dikedepankan. Upaya membangun ‘istana’ dalam perusahaan, bisa saja runtuh dan hancur berkeping-keping, manakala pimpinan tidak belajar menerapkan falsafah lebah ini. Keuntungan yang diperoleh sudah selayaknya didistribusikan secara adil. Pengertian adil, memang tidak harus sama. Kita sebagai manusia yang dikarunia akal budi bisa sukses dengan menerapkan pola personal touch ini. Artinya sadar bahwa kalau sejatinya kita  bisa besar seperti sekarang ini adalah karena kerjasama, bantuan orang lain. Tidak ada sukses yang absolut.

Jika kita tarik di sebuah perusahaan kecil atau sedang, maka pembagian ‘kue’ yang tidak adil akan menimbulkan kasak-kusuk di lingkungan karyawan. Ini adalah masalah internal perusahaan, tetapi kalau tidak segera dicari jalan keluar, akan bereskalasi kepada rendahnya produktivitas. Apalagi kalau perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa yang menuntut pelayanan yang ramah namun cepat. Masalah tersebut tetap akan mengganggu.

Perusahaan yang tidak menerapkan job dengan jelas kepada karyawannya, akan mengakibatkan biaya tinggi. Dalam prakteknya mereka akan sungkan untuk mengerjakan pekerjaan yang bukan bagiannya. Padahal sering kita jumpai dalam perusahaan ada pekerjaan yang ditangani secara khusus, tetapi tidak sedikit yang bisa dikerjakan secara bersama-sama. Job yang ngambang juga menyebabkan karyawan menjadi ragu dan canggung dalam bekerja. Bagi mereka yang merasa mendapatkan job lebih banyak, akan merasa iri hati (meski kadang hanya dipendam), sementara honor yang diterima sama. Lama-lama makan hati. Ini jelas kontra produktif.

Nilai lebih lain (value added ), lebah tidak mau menganggu makhluk lain. Ini memberikan pelajaran, seberapa besar keingingan perusahaan untuk melakukan akselerasi program dalam rangka mengingkatkan omset dan pendapatan, tidak etis kalau semua itu dilakukan dengan cara-cara yang tidak ksatria. Menginjak perusahaan lain dengan cara yang kotor atau menjadi provokator, tipu sana tipu sini. Maka biarkanlah perusahaan lain berkembang seperti biasanya, anggap mereka adalah kompetitor kita, sebagai pemacu untuk lebih maju lagi.

Konklusi :

Terlebih di era pandemi covid-19 yang belum tahu kapan berakhir. Maka dibutuhkan kerjasama, saling melengkapi satu sama lain, untuk bisa bertahan hidup (life survival). Bahkan jika mungkin dapat berprestasi di era pandemi. Akhirnya, mari kita adop untuk kita teladani koloni lebah ini dalam kehidupan sehari-hari.

*Mengajar di SMP Muhammadiyah Turi Sleman DIY//opini pribadi

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

95 Persen Masyarakat Minta Pemerintah Mahalkan Harga Rokok

JAKARTA, MENARA62.COM - Perhelatan Festival Pemilu Harga yang diselenggarakan oleh Center for Indonesia Strategic Development Initiative (CISDI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI),...

BATAN Tingkatkan Pemanfaatan Nuklir pada Bidang Pertanian dan Industri

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemanfaatan iptek nuklir dewasa ini terus berkembang dan banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya di bidang pertanian dan industri. Badan Tenaga Nuklir...

Musibah dan Semangat Membangun Minat Baca

Oleh: Ashari, SIP* Musibah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tidak peduli kaya miskin. Semua orang pasti mengalami musibah. Hanya yang membedakan, di...

KARSA Turi Dukung Kustini – Danang pada Pilkada Sleman 2020

SLEMAN, MENARA62.COM -  Sekitar 50 ibu-ibu dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi yang tergabung dalam kelompok KARSA menyatakan dukungannya pada pasangan calon bupati/wakil bupati...

Biasakan Mengambil Risiko Sedang

Oleh: Ashari, SIP* Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, sisi positif yang dapat kita ambil adalah munculnya aneka usaha baru. Baik skala rumahan alias...