YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Pakar Teknologi Informasi, Prof Fathul Wahid ST, MSc, PhD menandaskan Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) yang sedang populer saat ini tidak sedang dalam proses menghapus profesi. Namun Akal Imitasi hanya mengubah cara kerja profesi tersebut agar bisa lebih efisien.
Fathul Wahid, Guru Besar Bidang Ilmu Sistem Informasi UII ini mengungkapkan hal tersebut pada Kuliah Umum Jurusan Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta, Selasa (23/6/2026). Saat ini, ada kekhawatiran lulusan informatika masih dibutuhkan di dunia kerja.
Sebab, kata Fathul, saat ini Akal Imitasi (AI) sudah mampu menulis kode, membangun aplikasi, merancang situs web. Bahkan AI sudah bisa menyelesaikan tugas yang dahulu dikerjakan programmer profesional.
Fathul yang juga Dosen Jurusan Informatika UII mengingatkan agar mahasiswa jurusan informatika tidak perlu khawatir. Sebab AI hanya mengubah cara kerja profesi tersebut agar bisa lebih efisien.
Fathul menambahkan lulusan informatika lulusan jurusan informatika perlu membangun portofolio nyata, memilih bidang spesialisasi yang jelas, serta membiasakan diri menjadi pembelajar sepanjang hayat. “Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, kemampuan belajar sering kali lebih penting daripada sekadar penguasaan satu alat tertentu,” kata Fathul.
Pekerjaan yang bersifat rutin, kata Fathul, repetitif, dan mudah diprediksi memang semakin banyak diotomatisasi. Di antaranya, boilerplate code, dokumentasi sederhana, hingga kueri dasar kini dapat dikerjakan dalam hitungan detik oleh AI.
“Namun kemampuan memahami kebutuhan pengguna, merancang arsitektur sistem, menimbang risiko, mengambil keputusan teknis, serta memastikan kualitas hasil tetap membutuhkan manusia,” tandas Fathul yang mantan Rektor UII ini.
Menurut Fathul, fondasi keilmuan menjadi kunci kesuksesan lulusan informatika. Algoritma, struktur data, arsitektur sistem, logika komputasi, dan pemahaman data adalah bekal yang tidak lekang oleh perubahan teknologi. Mereka yang menguasai fondasi dapat mempelajari alat baru dalam hitungan hari, bukan tahun. AI kemudian berfungsi sebagai pengungkit produktivitas yang membuat pekerjaan selesai lima hingga sepuluh kali lebih cepat, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir.
Pada saat yang sama, tambah Fathul, kualitas insani justru semakin bernilai. Empati terhadap pengguna, kreativitas dalam mendefinisikan masalah, pertimbangan etis, kemampuan komunikasi, serta kolaborasi lintas disiplin adalah keunggulan yang belum mampu ditiru mesin.
Lulusan informatika juga perlu membangun portofolio nyata, memilih bidang spesialisasi yang jelas, serta membiasakan diri menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, kemampuan belajar sering kali lebih penting daripada sekadar penguasaan satu alat tertentu.
“Kabar baiknya, peluang masih terbuka sangat lebar. Indonesia masih menghadapi kesenjangan adopsi teknologi di berbagai sektor. Dunia usaha, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga UMKM membutuhkan solusi digital yang relevan dengan konteks lokal. Di sinilah ruang kontribusi terbesar generasi informatika masa kini,” kata Fathul.
Fathul mengingatkan agar jangan bersaing dengan AI dalam mengerjakan apa yang bisa diotomatisasi. “Gunakan Akal Imitasi untuk memperkuat kemampuan. Sebab masa depan bukan milik mereka yang menolak AI, melainkan mereka yang mampu mengarahkan dan memanfaatkannya,” katanya. (*)

