SOLO, MENARA62.COM — Sebanyak 81 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti field trip edukatif di Ledok Sambi Ecopark, Pakem, Sleman, Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus penguatan karakter, kolaborasi, dan kepedulian lingkungan.
Mengusung tema “Synergy in Nature: Connect, Collaborate, Conquer”, kegiatan field trip dirancang untuk memadukan pembelajaran akademis dengan pendidikan karakter berbasis alam.
Para murid diajak berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar melalui pendekatan experiential learning. Suasana alam di kawasan lereng Gunung Merapi dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk mengasah daya kritis, merangsang imajinasi, membangun keberanian, sekaligus menyegarkan kembali motivasi belajar.
Koordinator Tim Kelas III SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Lusia Wahyu Purbowati, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas rekreasi, melainkan bagian dari pembelajaran holistik.
“Melalui tema Synergy in Nature, kami ingin mendorong para murid untuk saling terhubung (connect), membangun kerja sama yang solid (collaborate), serta mampu mengatasi berbagai tantangan (conquer) dalam kelompok kecil,” kata Lusia.
Menurut dia, aktivitas di alam terbuka juga menjadi kesempatan bagi murid untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan empati.
“Aktivitas di alam terbuka juga melatih murid berkomunikasi secara efektif dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama maupun lingkungan,” ujarnya.
Belajar Bertani hingga Menguji Keberanian
Kegiatan inti diawali dengan pembagian murid menjadi empat kelompok besar. Setiap kelompok didampingi dua fasilitator dari Tim Ledok Sambi dan secara bergiliran mengikuti empat permainan utama.
Petualangan pertama dimulai melalui wahana bajak sawah. Para murid memperoleh pengalaman sensorik dengan menginjakkan kaki di lumpur sembari memegang alat bajak tradisional.
Salah satu peserta, Labibah, mengaku senang sekaligus terharu karena dapat mempraktikkan secara langsung proses awal penanaman padi.
“Ternyata nasi yang dihidangkan di atas meja makan kita membutuhkan proses yang panjang dalam pengolahannya. Salute untuk para petani Indonesia,” kata Labibah.
Setelah belajar mengenai proses pertanian, para murid melanjutkan petualangan dengan mencoba flying fox. Aktivitas ini dirancang untuk menguji ketangkasan, mengikis rasa takut, serta menumbuhkan keberanian dan kepercayaan terhadap kemampuan diri.
Kegiatan kemudian berlanjut ke arena simulasi strategi melalui permainan gelgun. Dalam permainan tersebut, murid dilatih untuk fokus terhadap target, mengambil keputusan secara cepat di bawah tekanan, serta membangun koordinasi taktis bersama anggota kelompok dengan tetap menjunjung sportivitas.
Kekompakan Diuji Lewat Kano dan Keypunch
Tantangan berikutnya berlangsung di atas permukaan air melalui aktivitas kano dan kayak. Permainan ini mengasah keseimbangan tubuh, keselarasan irama gerak, dan komunikasi antarpeserta agar perahu dapat melaju stabil menuju titik tujuan.
Tantangan terakhir adalah keypunch, yakni permainan menginjak angka secara berurutan. Seluruh anggota kelompok harus berdiskusi dengan cepat dan menyusun strategi agar dapat melangkah secara presisi hingga misi terselesaikan tanpa melakukan kesalahan prosedur.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi bersama Tim Ledok Sambi dan guru pendamping. Dalam sesi tersebut, murid diajak mengevaluasi pengalaman yang telah mereka dapatkan selama mengikuti berbagai aktivitas.
Sebelum meninggalkan lokasi, seluruh murid kelas III SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo juga mendapatkan merchandise berupa tumbler.
Pemberian tumbler tersebut diharapkan dapat mendorong kebiasaan membawa bekal minuman dari rumah sekaligus menjadi bagian dari edukasi cinta lingkungan. Langkah itu juga ditujukan untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Melalui field trip tersebut, pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pengalaman berinteraksi dengan alam, menghadapi tantangan, dan bekerja dalam kelompok menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang diharapkan dapat diterapkan murid dalam kehidupan sehari-hari. (*)
