SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperluas perannya dalam pembangunan pendidikan nasional. Pada 2026, UMS mendapat tugas memantau dan mendampingi 252 sekolah SMP penerima Program Revitalisasi Sekolah di Jawa Tengah yang tersebar di 21 kabupaten/kota.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari implementasi konsep Kampus Berdampak, dengan perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan keahlian akademik untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Ketua Tim Pelaksana Pemantauan Program Revitalisasi Sekolah UMS, Ir. Nurhasan, M.T., mengatakan keterlibatan UMS merupakan bentuk kontribusi langsung perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan.
“Melalui keterlibatan langsung dalam program revitalisasi sekolah, UMS berupaya menghadirkan keahlian akademik dan profesionalisme sumber daya manusia perguruan tinggi untuk mendukung peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan,” ujar Nurhasan, Rabu (30/9/2026).
Program tersebut sebelumnya mencakup 133 satuan pendidikan jenjang SMP di Regional Jawa Tengah 1. Setelah mendapat tambahan penugasan dari kementerian, cakupan pendampingan UMS bertambah 119 sekolah sehingga mencapai 252 sekolah pada 2026.
Libatkan Dosen dan Alumni
Untuk menjalankan pemantauan awal, UMS melibatkan 18 personel yang terdiri atas satu ketua tim, dua koordinator, 14 fasilitator, dan satu tenaga administrasi.
Ketua tim, dua koordinator, dan satu fasilitator berasal dari dosen Program Studi Arsitektur. Sementara 13 fasilitator lainnya direkrut dari alumni Program Studi Arsitektur dan Teknik Sipil.
Tim tersebut sebelumnya juga terlibat dalam proses verifikasi dan validasi sekolah yang membutuhkan bantuan revitalisasi. Petugas turun langsung ke sekolah untuk memeriksa kondisi bangunan, kemudian hasil verifikasi disampaikan kepada kementerian sebagai bahan tahapan berikutnya.
Setelah itu, tim berperan sebagai reviewer dengan mendampingi sekolah menyiapkan dokumen perencanaan dan administrasi. Pendampingan dilakukan secara daring maupun luring hingga dokumen dinyatakan layak dan sekolah menandatangani perjanjian kerja sama.
Dokumen tersebut antara lain memuat jenis pekerjaan, volume, serta besaran dana revitalisasi yang diterima masing-masing sekolah.
Program revitalisasi menggunakan mekanisme swakelola. Seluruh dana hibah disalurkan langsung ke rekening bendahara sekolah, sedangkan pelaksanaan pembangunan dilakukan secara mandiri melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).
Dalam skema tersebut, perguruan tinggi dilibatkan sebagai tim pemantau untuk membantu memastikan pelaksanaan revitalisasi berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan pembangunan yang berkualitas.
“Alhamdulillah setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat, UMS terpilih menjadi pemantau revitalisasi 311 sekolah pada tahun 2025, dan 133 pada tahun 2026 di tahap awal ini,” kata Nurhasan.
Pantau 21 Kabupaten/Kota
Sebanyak 133 sekolah yang menjadi cakupan awal UMS tersebar di 21 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Wilayah tersebut meliputi Banyumas, Banjarnegara, Purworejo, Batang, Pemalang, Magelang, Klaten, Boyolali, Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Sragen, Semarang, Kudus, Jepara, Rembang, Pati, Blora, Kota Surakarta, Kota Semarang, dan Kota Tegal.
Pemantauan dilakukan secara periodik melalui kunjungan langsung ke sekolah. Tim memeriksa perkembangan pembangunan, kondisi faktual di lapangan, serta kesesuaian pelaksanaan dengan ketentuan dan target program.
Dalam rapat koordinasi terbaru, UMS mengevaluasi laporan pemantauan selama Agustus sekaligus perkembangan lapangan pada September 2026.
Data laporan fasilitator menunjukkan target rata-rata progres pada Agustus sebesar 9,51 persen. Sementara capaian rata-rata progres fisik mencapai 14,85 persen.
Progres tertinggi tercatat di Kabupaten Semarang dengan rata-rata 37,07 persen. Adapun rata-rata progres terendah tercatat di Kabupaten Sragen sebesar 6,74 persen.
Pada akhir Agustus, sebanyak 106 satuan pendidikan atau 80,92 persen tercatat memiliki deviasi positif terhadap target. Sebanyak 11 satuan pendidikan atau 8,40 persen berada pada deviasi sedang, delapan satuan pendidikan atau 6,11 persen pada deviasi tinggi, dan enam satuan pendidikan atau 4,58 persen berada pada deviasi rendah.
Perkembangan tersebut menunjukkan tren positif. Pada pekan pertama, sejumlah realisasi masih berada di bawah target. Kondisi kemudian berimbang pada pekan kedua dan mulai pekan ketiga hingga akhir Agustus, rata-rata realisasi Regional Jawa Tengah 1 berada di atas target.
Dari sisi anggaran, sebanyak 131 satuan pendidikan mengelola dana hibah dengan total Rp96,15 miliar. Hingga pekan keempat Agustus, dana yang telah terserap mencapai Rp14,17 miliar atau 14,74 persen.
Besaran serapan tersebut relatif sejalan dengan rata-rata progres fisik yang mencapai 14,85 persen.
Tambah 119 Sekolah
Hasil pemantauan juga digunakan untuk mengidentifikasi kendala sekaligus menyiapkan alternatif solusi yang dapat diterapkan pada periode berikutnya.
Sejumlah sekolah bahkan telah mencatat progres pembangunan lebih dari 50 persen pada September. Capaian tersebut berada di atas target yang ditetapkan.
Berdasarkan penilaian kinerja, kementerian kemudian kembali memberikan penugasan kepada UMS untuk memantau sekolah lainnya.
Tambahan tugas tersebut mencakup 119 sekolah SMP. Untuk mendukung penugasan baru, UMS menambah 14 personel yang terdiri atas satu koordinator dari dosen Program Studi Arsitektur, 12 fasilitator yang terdiri atas satu dosen Teknik Sipil dan 11 alumni, serta satu tenaga administrasi.
Dengan tambahan tersebut, total cakupan pendampingan UMS pada 2026 mencapai 252 sekolah dengan 32 anggota tim pemantau.
Nurhasan mengatakan tambahan penugasan tersebut menunjukkan keberlanjutan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam program revitalisasi sekolah.
“Ini merupakan bentuk keberlanjutan kolaborasi sekaligus pengakuan terhadap kontribusi UMS dalam mendukung pembangunan sektor pendidikan,” ujarnya.
Ia berharap sinergi perguruan tinggi dan pemerintah pusat dapat terus diperkuat sehingga program revitalisasi sekolah memberikan manfaat berkelanjutan bagi satuan pendidikan, tenaga pendidik, dan peserta didik.
“Melalui kolaborasi tersebut, UMS berupaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan pendidikan nasional,” tandas Nurhasan. (*)
