31.5 C
Jakarta

UMS Jadi Co-Anchor Konsorsium TBC, Ini Perannya

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Upaya mempercepat eliminasi tuberkulosis (TBC) di Kota Surakarta memasuki babak baru. Sebanyak 12 perguruan tinggi di wilayah Surakarta, Jawa Tengah, akan bergabung dalam konsorsium penanggulangan TBC yang diinisiasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VI Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan Kota Surakarta.

 

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id ditunjuk sebagai co-anchor konsorsium tersebut bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) yang akan berperan sebagai anchor atau pemimpin konsorsium.

 

Pembentukan konsorsium dibahas dalam audiensi yang berlangsung di Balai Kota Surakarta, Jumat (25/9/2026). Dalam pertemuan itu, UMS diwakili Pusat Studi Tuberculosis and Health Disorder Control Program (TBHDCP).

 

Ketua Pusat Studi TB HDCP UMS, Noor Alis Setiyadi, S.K.M., M.K.M., Ph.D., mengatakan audiensi tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan komitmen antara LLDikti Wilayah VI dan 12 perguruan tinggi di Surakarta.

 

Menurut dia, konsorsium dibentuk untuk memperkuat dukungan akademik terhadap program Pemerintah Kota Surakarta dalam mempercepat eliminasi TBC.

 

“Konsorsium ini digagas sebagai bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Kota Surakarta dalam mempercepat eliminasi penyakit tuberkulosis melalui mobilisasi sumber daya akademis dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Noor Alis, Rabu (30/9/2026).

 

Tak Sekadar Forum Perguruan Tinggi

 

Noor Alis menjelaskan, audiensi juga menjadi ruang untuk menyamakan persepsi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah mengenai urgensi pembentukan konsorsium.

 

Ia menilai penanggulangan TBC membutuhkan koordinasi yang lebih kuat karena berbagai sumber daya akademik selama ini tersebar di masing-masing institusi.

 

“Pembentukan konsorsium ini merupakan langkah strategis memperkuat kolaborasi penanggulangan TBC di Kota Surakarta,” katanya.

 

Menurut Noor Alis, persoalan yang hendak dijawab konsorsium tidak hanya berkaitan dengan penelitian. Ada sejumlah kesenjangan koordinasi institusi akademik, mulai dari fasilitas pendukung, akses dan jejaring lapangan, kepemimpinan penelitian atau intervensi, hingga penerjemahan hasil penelitian menjadi rekomendasi bagi pengambilan keputusan.

 

Karena itu, konsorsium dirancang bukan sekadar forum keanggotaan perguruan tinggi. Konsorsium akan menjadi mekanisme untuk mengorkestrasi kepakaran, sumber daya, kebutuhan program, hingga peluang pendanaan.

 

“Dengan mekanisme tersebut, kapasitas yang sebelumnya tersebar dapat dikonsolidasikan menjadi kemampuan kolektif untuk menghasilkan penelitian, inovasi, intervensi, dan bukti kebijakan yang relevan bagi penanggulangan TBC,” ujarnya.

 

UMS Fokus Konsolidasi Riset dan Inovasi

 

Dalam struktur konsorsium, UNS akan menjadi anchor, sedangkan UMS berperan sebagai co-anchor.

 

Posisi tersebut menempatkan UMS pada peran penting dalam mengonsolidasikan riset multidisiplin sekaligus mengembangkan inovasi yang dapat mendukung penanggulangan TBC di Surakarta.

 

Noor Alis menegaskan UMS siap mengambil peran tersebut dengan memperkuat kapasitas riset dan jejaring kolaborasi.

 

“Kami berkomitmen untuk melakukan penguatan riset multidisiplin, inovasi, dan jejaring kolaborasi,” tegasnya.

 

Melalui konsorsium ini, kekuatan 12 perguruan tinggi diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri. Kepakaran akademik, sumber daya penelitian, jejaring lapangan, dan kebutuhan pemerintah daerah dapat dipertemukan untuk menghasilkan intervensi serta rekomendasi berbasis bukti dalam penanggulangan TBC di Kota Surakarta. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!