TANGERANG, MENARA62.COM – Sebanyak 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana melaksanakan kegiatan Kuliah Peduli Negeri (KPN) di Perumahan Taman Asri, Cipadu Jaya, Tangerang, tepatnya di Balai Posyandu, pada Sabtu (16/5/2026). KPN adalah mata kuliah wajib yang harus diambil mahasiswa Prodi Public Relations, Marketing Communication, Broadcasting dan Digital Communication Fakultas Ilmu Komunikasi di bawah kepemimpinan Kaprodi Dr. Farid Hamid Umarella, M.Si. Tujuannya melatih mahasiswa agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan dapat berbagi ilmu melalui kegiatan sosial serta edukasi.
Program tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu sosial di lingkungan masyarakat, khususnya mengenai pentingnya kesadaran emosi, pencegahan kekerasan, serta diskriminasi di lingkungan sosial.
Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif melalui konsep talkshow, diskusi bersama warga, hingga berbagai permainan edukatif yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, hadir sebagai narasumber yakni Dra. P. Lestari Soeryawati yang memberikan pemaparan mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dalam membangun lingkungan sosial yang harmonis.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Peduli Negeri, Dr. Sabena, S.Ikom, M.Ikom dalam sambutan pengantarnya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari berbagai mata kuliah yang telah dipelajari mahasiswa selama perkuliahan. Jadi, KPN bukan hanya sekadar kegiatan sosial, tetapi juga menjadi wadah praktik nyata bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu komunikasi secara aplikatif di tengah masyarakat.
“Mahasiswa di sini belajar bagaimana peduli terhadap masalah sosial sekaligus mengaplikasikan pembelajaran yang mereka dapatkan selama kuliah. Mulai dari public speaking saat menjadi MC, teknik lobby dan negosiasi ketika berkoordinasi dengan RT dan RW, hingga kemampuan berpikir kreatif dalam mendesain spanduk dan media publikasi,” kata Sabena.
Ia menjelaskan, seluruh proses kegiatan dilakukan langsung oleh mahasiswa, mulai dari observasi lokasi, menentukan tema kegiatan, mencari narasumber, menyusun proposal, hingga pelaksanaan acara di lapangan. Seluruh proses tersebut menjadi pengalaman penting yang akan sangat berguna ketika mahasiswa memasuki dunia kerja nantinya.
“Mahasiswa harus memahami bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat, melakukan negosiasi, membangun kerja sama, bahkan menjalin hubungan dengan wartawan untuk publikasi kegiatan. Semua itu bagian dari pembelajaran praktis yang sangat dibutuhkan di dunia profesional,” lanjut Sabena.
Ia juga menuturkan bahwa mahasiswa dilatih untuk memahami berbagai persoalan sosial yang ada di masyarakat. Karena itu, pemilihan tema maupun lokasi kegiatan disesuaikan dengan isu-isu sosial yang relevan di lingkungan sekitar.
“Kekerasan, KDRT, diskriminasi, narkoba, hingga kelompok masyarakat termarjinalkan merupakan isu sosial yang harus dipahami mahasiswa komunikasi. Mereka dituntut peka terhadap kondisi masyarakat dan mampu memberikan edukasi sesuai kapasitas keilmuan yang dimiliki,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan pengabdian seperti ini menjadi bagian penting dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, mata kuliah Kuliah Peduli Negeri juga menjadi mata kuliah wajib yang harus diselesaikan mahasiswa sebelum dapat mengajukan skripsi.
“Kalau mata kuliah ini belum lulus, mahasiswa belum bisa mengambil skripsi. Karena melalui kegiatan inilah mereka benar-benar belajar praktik di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, selain melatih kemampuan komunikasi, kegiatan seperti ini juga mengajarkan mahasiswa mengenai manajemen acara, kepemimpinan, kerja sama tim, hingga pentingnya menghargai pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan. “Bagaimana mereka menyiapkan snack, nasi box, sertifikat untuk narasumber dan pihak lingkungan, itu semua bagian dari pembelajaran tentang menghargai orang lain dan membangun relasi sosial,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, warga terlihat antusias mengikuti rangkaian acara. Diskusi interaktif berlangsung aktif ketika peserta membahas persoalan kekerasan verbal, diskriminasi sosial, serta pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Melalui program Kuliah Peduli Negeri ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori komunikasi di ruang kelas, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial yang hadir langsung di tengah masyarakat.
Sabena berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama menjalankan KPN dapat menjadi bekal berharga ketika memasuki dunia kerja, terutama di bidang public relations, corporate social responsibility (CSR), media komunikasi, maupun event management.
“Harapannya ketika mereka lulus nanti, mereka sudah siap menghadapi dunia kerja karena sudah pernah praktik langsung. Mereka tidak kaget lagi ketika harus membuat event, berkomunikasi dengan masyarakat, atau membangun relasi dengan berbagai stakeholder,” katanya.
Sementara itu, dalam materinya, Lestari Soeryawati menekankan bahwa kesadaran emosi menjadi salah satu fondasi utama dalam menciptakan hubungan sosial yang positif. Menurutnya, banyak persoalan kekerasan maupun diskriminasi berawal dari ketidakmampuan seseorang dalam mengelola emosi dan memahami kondisi orang lain.
“Lingkungan yang sehat dimulai dari komunikasi yang baik. Ketika seseorang mampu memahami emosinya sendiri, maka ia juga akan lebih mampu menghargai orang lain dan menghindari tindakan kekerasan maupun diskriminasi,” ujarnya.
Di hadapan warga dan pemuda Karang Taruna, Lestari menekankan bahwa tingginya kasus kekerasan di masyarakat menjadi persoalan serius yang perlu mendapatkan perhatian bersama, terutama di kalangan generasi muda. “Ketika saya diminta membahas tema ini, saya cukup kaget karena ternyata isu kekerasan dan diskriminasi memang menjadi perhatian bersama. Artinya kita semua harus punya mindset baru bagaimana mengurangi kekerasan di lingkungan kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga bisa hadir dalam bentuk verbal, psikologis, digital, hingga diskriminasi sosial yang sering kali tidak disadari masyarakat.
Menurutnya, media sosial menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya emosi yang tidak terkendali di kalangan anak muda saat ini. “Media sosial menjadi salah satu trigger anak muda memiliki emosi yang tidak terkendali. Setiap hari kita melihat kekerasan di televisi, media sosial, bahkan dalam percakapan sehari-hari,” katanya.
Dalam sesi diskusi, Lestari mengajak peserta memahami definisi kekerasan berdasarkan pandangan organisasi dunia seperti WHO dan PBB. Ia menjelaskan bahwa kekerasan merupakan penggunaan kekuatan fisik maupun kekuasaan secara sengaja yang dapat menyebabkan kerugian fisik, psikologis, hingga perampasan hak seseorang.
“Hak untuk dihargai, hak untuk merasa aman, hak untuk diakui sebagai manusia, itu semua bisa dirampas ketika seseorang mengalami kekerasan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kekerasan bukanlah takdir, melainkan pilihan yang dilakukan seseorang ketika tidak mampu mengendalikan emosi maupun menggunakan logika berpikir secara sehat. “Kita diberikan otak oleh Tuhan untuk berpikir secara logis, bukan hanya menggunakan emosi. Kekerasan itu bukan takdir, tapi pilihan,” tegasnya.
Dari berbagai jenis kekerasan yang kini marak terjadi di masyarakat, mulai dari kekerasan fisik, psikis, verbal, digital, ekonomi, hingga kekerasan sosial berbasis identitas, menurutnya, kekerasan digital menjadi salah satu bentuk yang paling sering ditemukan di era media sosial saat ini. “Ketika kita scrolling TikTok, Instagram, atau platform lain, hampir setiap hari ada kekerasan digital. Bullying, ujaran kebencian, fitnah, hingga diskriminasi terjadi terus-menerus,” katanya.
Ia juga menyoroti tingginya angka kekerasan yang melibatkan generasi muda. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam presentasi, sekitar 40 persen remaja pernah menjadi pelaku maupun korban kekerasan. “Banyak kasus tawuran maupun konflik di kalangan anak muda berakar dari regulasi emosi yang buruk. Semua ingin diselesaikan dengan kemarahan,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya pendidikan emosi sejak usia dini di lingkungan keluarga. Anak-anak perlu diberikan ruang untuk mengenali emosinya sendiri agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat secara mental.“Kalau anak sedang sedih atau marah, jangan langsung dimarahi. Tanyakan apa yang membuat dia kecewa. Dengan begitu mereka belajar mengenali emosinya sejak kecil,” jelasnya.
Selain keluarga, lingkungan pergaulan dan tekanan kelompok juga disebut menjadi faktor yang memengaruhi perilaku kekerasan pada remaja. Lestari menilai banyak anak muda terjebak dalam perilaku negatif karena dorongan kelompok maupun kebutuhan untuk diakui lingkungan sosialnya.
Ia juga mengingatkan bahaya kecanduan media sosial dan penggunaan telepon genggam yang berlebihan. Menurutnya, media sosial kini telah menjadi bentuk “canduan baru” yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
“Kalau sehari tidak pegang handphone lalu merasa hidup ada yang kurang, itu harus mulai diwaspadai. Kita jangan sampai menjadi budak media sosial atau AI. Kita yang harus mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Dalam pembahasan mengenai diskriminasi, Lestari menekankan bahwa perlakuan berbeda terhadap seseorang berdasarkan ras, agama, gender, status sosial, maupun identitas tertentu merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. “Semakin seseorang memiliki ilmu dan posisi sosial tinggi, justru harus semakin rendah hati. Tidak boleh merasa eksklusif,” katanya.
Ia mengajak peserta untuk mulai menghargai perbedaan dan menghilangkan kebiasaan memberi label negatif kepada orang lain. “Kadang tanpa sadar kita mengejek atau merendahkan orang lain hanya karena berbeda. Padahal semua agama mengajarkan untuk saling menghormati dan tidak melakukan diskriminasi,” jelasnya.
Lestari juga menjelaskan bahwa manusia secara alami memiliki kecenderungan membedakan kelompok sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup atau survival mode. Namun, menurutnya, kesadaran dan pengendalian diri menjadi kunci agar kecenderungan tersebut tidak berubah menjadi diskriminasi maupun kekerasan.
“Otak manusia memang otomatis melakukan kategorisasi, tapi kita harus sadar dan belajar mengontrol emosi serta cara berpikir kita,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan masyarakat diajak membangun lingkungan sosial yang lebih sehat, inklusif, serta bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pengalaman yang disampaikan peserta terkait persoalan sosial di lingkungan sekitar.
Kegiatan Kuliah Peduli Negeri ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran sosial sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan di lingkungan mereka.
