33.9 C
Jakarta

Akademisi UMY Kritik Aksi Simbolik Lingkungan

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya lewat aksi seremonial dan kegiatan simbolik semata. Dibutuhkan perubahan paradigma, penguatan gerakan sosial, hingga keberanian mempengaruhi kebijakan publik agar kelestarian lingkungan benar-benar terwujud.

Hal tersebut disampaikan dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, David Efendi, dalam International Seminar bertajuk “From Grassroots to Policy: Young Women’s Leadership in Advancing Eko-Livelihood for Sustainable and Just Societies” yang digelar Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah di UMY, Sabtu (16/5/2026).

Menurut David, persoalan lingkungan saat ini tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan sosial dan pola pembangunan ekonomi yang kerap mengabaikan aspek ekologis.

“Kecenderungan kita hari ini selalu berpikir tentang ekonomi, tetapi melupakan ekologi. Padahal sustainability economy harus berjalan seimbang dengan sustainability ecology,” ujarnya.

David yang juga menjabat Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai, konsep Islam transformatif yang diperkenalkan cendekiawan Moeslim Abdurrahman relevan dalam membangun gerakan lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, Islam transformatif lahir dari kegelisahan terhadap kemiskinan dan ketidakadilan sosial, sehingga dakwah tidak hanya berbicara soal kesalehan ritual, tetapi juga keberpihakan kepada kelompok marjinal dan pembangunan gerakan sosial.

“Semangat itu relevan dengan pengembangan green Al-Ma’un movement yang menempatkan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari nilai keislaman dan gerakan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Dalam seminar tersebut, David juga menyoroti rendahnya literasi lingkungan masyarakat yang menyebabkan persoalan ekologis terus berulang, mulai dari sampah plastik hingga kerusakan hutan.

“Masalah lingkungan tumbuh begitu cepat setiap saat, tetapi respons kita sering kali terlalu kecil. Karena itu kita tidak cukup hanya berhenti pada aksi simbolik seperti menanam pohon atau membersihkan sungai. Yang lebih penting adalah bagaimana mendorong perubahan kebijakan,” tegasnya.

Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan karena memiliki kedekatan dengan aktivitas keseharian masyarakat.

“Perempuan adalah khalifah fil ardh. Dari bangun tidur sampai kembali tidur, perempuan memiliki ruang besar untuk membangun kesadaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

David mencontohkan persoalan sampah plastik yang terus meningkat setiap hari sebagai tantangan sosial yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk komunitas perempuan muda.

Karena itu, ia mendorong Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah memperkuat gerakan lingkungan berbasis komunitas yang dimulai dari langkah sederhana namun berdampak nyata.

“Menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Tidak selalu harus menghentikan proyek besar. Kegiatan kecil tetapi konsisten dan berdampak justru bisa menjadi gerakan sosial yang kuat,” katanya.

Selain itu, David juga mengusulkan pemberdayaan perempuan melalui pengembangan bibit tanaman dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan ekologis dan ketahanan ekonomi.

“PPNA harus mendukung gerakan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Target akhirnya adalah menciptakan kelestarian semesta,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!