30.1 C
Jakarta

Gelar KPN, Mahasiswa Universitas Mercu Buana Edukasi Ibu-Ibu PKK Joglo Manfaatkan Media Sosial untuk Kembangkan Usaha

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Sebanyak 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana menggelar kegiatan Kuliah Peduli Negeri (KPN) di Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Kegiatan yang berlangsung di RPTRA Joglo pada Selasa (5/4/2026) ini mengusung tema Pemanfaatan Media Sosial untuk Mengembangkan Usaha Kerajinan Tangan di Era Digital dengan pemateri utama Dr. Gadis Octory yang dikenal sebagai pakar komunikasi sekaligus dosen Fakultas Ilmu Komunikasi UMB.

Program ini diikuti oleh ibu-ibu PKK dan dasawisma Kelurahan Joglo sebagai peserta utama. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa memberikan edukasi sekaligus pendampingan terkait strategi penggunaan platform digital guna meningkatkan pemasaran produk kerajinan. Materi yang disampaikan mencakup pembuatan konten menarik, pengelolaan akun media sosial, hingga teknik komunikasi pemasaran yang efektif.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut dosen pengampu mata kuliah KPN Dr. Sabena, S.IKom, M.IKom, Staf Kasie Kesra Kelurahan Joglo Ubaidillah dan Koordinator RPTRA Joglo Syahlevi.

Dalam sambutan pembukanya, Dr Sabena menyampaikan apresiasi kepada para peserta, khususnya ibu-ibu PKK yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan rumah tangga untuk mengikuti kegiatan ini. Ia juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang telah mempersiapkan kegiatan dengan baik, mulai dari latihan menjadi pembawa acara hingga pengelolaan teknis acara.

Ia menjelaskan bahwa Kuliah Peduli Negeri merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang bertujuan agar mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam kehidupan nyata. Mahasiswa dilatih berbagai keterampilan komunikasi, seperti negosiasi, koordinasi dengan masyarakat, serta kemampuan berbicara di depan umum.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga langsung terjun ke masyarakat. Mereka belajar bagaimana berinteraksi, bernegosiasi, hingga bekerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Ia juga membandingkan program KPN dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang umumnya berlangsung lebih lama. Meski memiliki durasi lebih singkat, KPN tetap menekankan pada kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, pengalaman mengikuti KPN menjadi nilai tambah bagi mahasiswa saat memasuki dunia kerja karena mencerminkan keterampilan praktis, kemampuan beradaptasi, serta jaringan sosial yang dimiliki.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kemampuan ibu-ibu PKK dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana pengembangan usaha. Dengan keterampilan tersebut, produk kerajinan tangan lokal diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan perekonomian keluarga.

Ajak Masyarakat Optimalkan Teknologi Digital

Sementara itu, dalam paparannya, Dr. Gadis Octory memberikan wawasan komprehensif mengenai pentingnya komunikasi digital (digital communication) di era modern. Ia membuka sesi dengan pendekatan ringan dan interaktif, mengajak peserta menyadari bahwa hampir seluruh aktivitas masyarakat saat ini tidak terlepas dari penggunaan handphone.

Dr. Gadis Octory S.IKom, M.IKom saat menyampaikan materi

Menurutnya, penggunaan perangkat tersebut seharusnya tidak hanya terbatas pada konsumsi hiburan, seperti menonton konten semata, tetapi juga bisa ditingkatkan ke level yang lebih produktif, yakni dengan menciptakan konten. Ia menekankan bahwa media sosial merupakan sarana komunikasi yang kini telah menggantikan banyak interaksi langsung, sehingga penting untuk dimanfaatkan secara maksimal.

Lebih lanjut, Dr Gadis menyoroti bahwa jejak digital (digital footprint) kini menjadi tolok ukur kredibilitas seseorang maupun sebuah usaha. Ketika seseorang atau produk dicari di internet, rekam jejak digital akan menjadi referensi utama bagi publik dalam menilai kualitas dan kepercayaan.

Ia juga mengajak peserta untuk mulai mengoptimalkan penggunaan media sosial seperti InstagramFacebook, dan TikTok. Berdasarkan interaksinya dengan peserta, ia menemukan bahwa sebagian besar sudah memiliki akun media sosial, namun belum dimanfaatkan secara optimal karena jarang digunakan untuk posting.

Dalam penjelasannya, ia memaparkan langkah-langkah sederhana dalam membuat konten yang efektif, antara lain, memulai dengan ide atau produk yang ingin ditampilkan, menentukan keunikan produk, menyusun narasi atau teks pendukung, serta menjaga konsistensi dalam mengunggah konten.

Ia juga menekankan bahwa konten tidak harus sempurna atau estetis. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan konsistensi dalam membangun komunikasi dengan audiens. “Posting itu tidak harus bagus dulu. Yang penting ada, konsisten, dan punya cerita,” jelasnya.

Selain itu, ia memberikan contoh nyata tentang bagaimana aktivitas sederhana seperti hobi memasak dapat berkembang menjadi peluang bisnis jika didukung dengan konsistensi dalam membagikan konten. Dari sekadar membagikan aktivitas memasak, seseorang dapat membangun branding hingga akhirnya membuka usaha katering.

Dr. Gadis juga memperkenalkan konsep branding, yaitu proses membangun identitas yang mudah diingat oleh masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana produk-produk populer dapat melekat kuat di benak konsumen karena konsistensi dalam komunikasi dan pemasaran.

Penyerahan cinderamata kepada peserta KPN

Tak hanya itu, ia mendorong peserta untuk membangun komunitas kecil sebagai strategi meningkatkan jangkauan konten. Dengan saling mendukung melalui like, komentar, dan berbagi konten, pertumbuhan akun media sosial dapat lebih cepat berkembang.

Dalam era digital saat ini, lanjutnya, peluang untuk meraih penghasilan tambahan juga semakin terbuka, salah satunya melalui program afiliasi di platform e-commerce. Dengan membagikan tautan produk, pengguna bisa mendapatkan komisi dari setiap interaksi atau pembelian yang terjadi.

Dr. Gadis menegaskan bahwa digital marketing bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan di era modern. Ia menekankan bahwa siapa pun yang berani tampil, kreatif, konsisten, dan jujur dalam membangun komunikasi digital memiliki peluang besar untuk berkembang.

“Kami berharap ibu-ibu peserta mampu mengubah pola penggunaan media sosial dari sekadar konsumtif menjadi produktif, serta menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan nilai ekonomi dan kemandirian usaha,” tutup Dr Gadis.

Sebelumnya, Ketua Pelaksana KPN, Zahra menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuknyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Tidak hanya sebagai bagian dari proses akademik, tetapi juga sebagai wadah untuk mengimplementasikan ilmu yang dipelajari agar dapat memberikan manfaat langsung bagi mahasiwa dan masyarakat.

Adapun 10 mahasiswa peserta KPN tersebut adalah Rahmi Oktaviani, Tantri Wulandari, Annisa Putri, ⁠Maulidya, Amanda Pratiwi, Zahra, Anggun Lintang Cahyani, ⁠Fitri Handayani, ⁠Defina Paridah, dan ⁠Darrale Nurrizqina Wardhayat.

Para mahasiswa juga mengajarkan ketrampilan membuat gelang manik-manik kepada peserta dan membuat konten video sederhana dengan menggunakan aplikasi CapCut. Ibu-ibu dasawisma dan kader PKK sangat antusias mengikutinya. Mereka memperhatikan proses pembuatan gelang yang ditunjukkan secara langsung, mulai dari memilih manik-manik hingga merangkainya menjadi gelang yang menarik. Setelah itu, ibu-ibu dasawisma dan kader PKK turut mencoba membuat gelang mereka sendiri dengan berbagai kombinasi warna dan desain sesuai kreativitas masing-masing.

Pelaksanaan demonstrasi pembuatan gelang manik-manik dan pembuatan konten video ini dipandu oleh Maulidya dan Annisa Putri. Keduanya menunjukkan langkah-langkah secara langsung sehingga mudah dipahami dan diikuti oleh peserta.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan konten video sederhana. Peserta diajak merekam proses pembuatan gelang, lalu mengeditnya menggunakan CapCut dengan memanfaatkan template yang sudah tersedia. Cara ini dinilai lebih praktis dan mudah diikuti, terutama bagi peserta yang baru pertama kali mencoba mengedit video.

Menariknya, proses pembuatan gelang dilakukan bersamaan dengan pengambilan video. Hal ini membuat peserta dapat langsung memahami bagaimana aktivitas sehari-hari bisa dikemas menjadi konten yang menarik untuk dibagikan.

Melalui kegiatan ini, ibu-ibu dasawisma dan kader PKK tidak hanya mendapatkan pengalaman baru dalam membuat kerajinan tangan, tetapi juga belajar memanfaatkan teknologi sederhana untuk mendokumentasikan dan membagikan hasil karya mereka. Selain menambah keterampilan, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antar peserta.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!