30.1 C
Jakarta

Haedar Nashir: Isra Mi’raj Hidupkan Kesalihan Bangsa

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM – Momen Isra Mi’raj tak boleh lepas konteks dan hanya jadi perayaan semata. Melainkan nilai Isra Mi’raj dapat diaktualisasi untuk kehidupan kebangsaan dan spiritualitas pribadi yang lebih salih.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Jum’at (16/1) dalam Refleksi Isra Mi’raj 1447 Hijriah.

Isra Mi’raj menurut Haedar juga merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang muslim. Sebab peristiwa ini menjadi mukjizat ‘di luar nalar’ manusia pada umumnya.

Oleh karena itu, dari peristiwa Isra Mi’raj dapat dijadikan kesempatan untuk membangun relasi ketuhanan oleh warga dan pemimpin bangsa. Sekaligus menguatkan tauhid, iman, dan takwa sehingga membangkitkan jiwa salih.

Kesalihan diri diharapkan Haedar menjadi rambu-rambu penghalang bagi manusia ketika muncul hasrat berbuat buruk seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, berbuat jahat, perilaku buruk, berkata kasar dan perbuatan tak pantas lainnya.

“Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah,” katanya.

Relasi murakabah merupakan kesadaran spiritual mendalam bahwa seorang hamba merasa terus diawasi. Jika relasi ini hidup dalam jiwa warga bangsa dan pemimpin, diharapkan hasrat untuk berperilaku buruk tidak jadi dilakukan.

Isra Mi’raj Cermin Keteladanan Otentik bagi Elit dan Warga Bangsa

Selain itu, Haedar berharap momen Isra Mi’raj menjadi titik tolak untuk menggali keteladanan Nabi Muhammad. Terlebih saat ini warga bangsa, termasuk umat beragama dan pemimpin atau elit bangsa miskin keteladanan.

“Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj untuk belajar terus menerus menampilkan (keteladanan) yang otentik,” tuturnya.

Haedar meminta pemimpin bangsa menjadikan Isra Mi’raj jadi cermin untuk berkata dan bertindak yang seksama. Sehingga warga bangsa menaruh hormat dan percaya, serta membangun ‘rasa’ memiliki teladan dari pemimpin mereka.

Sementara bagi elit agamawan, Haedar mengajak supaya selaras antara ajaran dengan tindakan. Pada elit agamawan, ajaran-ajaran luhur agama tidak boleh retak dengan tindakan sebab akan merusak kepercayaan.

Haedar menegaskan bahwa kegersangan teladan di tubuh bangsa ini harus diteduhkan, dan tugas para elit setiap level adalah menjadi oase keteladanan untuk menghilangkan dahaga. Maka keteladanan otentik bersumber dari Nabi Muhammad sebagai barometernya.

“Jika peran suasana itu dijalankan, maka kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan,” pinta Haedar. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!