26.3 C
Jakarta

Hasil Kajian IDI, Ilmu Pengetahuan Kunci Penting Selesaikan Pandemi Covid-19

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Science atau ilmu pengetahuan menjadi kunci penting untuk menyelesaikan pandemi Covid-19. Menurut Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih, negara dengan latar belakang politik apapun, akan mengikuti science terbaru untuk menyelesaikan pandemi.

“Sejauh ini banyak sekali opini dan spekulasi yang malahan menjauhkan dari penanganan pandemi yang benar terutama dari sudut pandang politik. Kini saatnya kita kembali ke ilmu pengetahuan yang benar,” kata Daeng pada keterangan persnya Setahun Pandemi Covid-19, Rabu (10/3/2021).

Menurutnya ada dua kemungkinan yang bakal terjadi terkait pandemi Covid-19 ini. Bisa jadi pandemi segera berakhir, atau akan terus berlangsung dengan mutasi-mutasi virusnya yang bermunculan. Dua kemungkinan itu bisa terjadi, namun yang terpenting adalah negara dapat segera membuat sistem yang kebal pandemi, sehingga mutasi-mutasi yang terjadi bukan lagi menjadi ketakutan atau ancaman dan pembangunan kesejaterahan umum dapat terus berjalan.

Mengutip pendapat Petersen et al (2020), kelumpuhan ekonomi berdampak langsung terhadap peningkatan infeksi dan kematian, sehingga kedua system harus dipulihkan secara bersamaan.  Kebijakan memulihkan dua sistem tersebut lanjut Daeng  dapat melindungi negara dari bencana kerusakan ekonomi, masyarakat dan kelumpuhan negara.

Perhentian aktivitas hidup tidak hanya menggangu rutinitas ekonomi, juga menyebabkan stress kronis, yang dalam jangka panjang, menimbulkan gangguan imunitas, endokrin dan sistim syaraf (Dahmen et al., 2018; Juruena et al., 2020), terjadi pelepasan mediator inflamasi di otak sehingga bila terinfeksi COVID-19 cenderung menjadi berat (Brenhouse and Schwarz, 2016), hingga gangguan sistemik (Jiang et al., 2018), menjadi presdisposisi terjadinya gangguan ansietas,  depresi dan menjadi rentan terhadap infeksi COVID-19 (Calcia et al., 2016; Ibi et al., 2008; Veenema, 2009).

Dari semua mitigasi negara-negara yang berhasil, lanjut Daeng, tampak jelas bila kerjasama masyarakat sangat perlu. Negara-negara yang berhasil cepat menjaga kestabilan dan memutus mata rantai pandemi seperti China, HongKong, Taiwan dan Vietnam selain berpengalaman dalam menghadapi pandemi, seperti SARS-CoV-1 di tahun 2003, tampak jelas bila masyarakat disiplin dan mampu bekerja sama,  dan ini adalah hal penentu.

Karena itu Daeng memandang pemerintah harus benar-benar mengkaji profil COVID-19 saat ini, agar usaha mitigasi penyebaran COVID-19 yang telah diterapkan menjadi efisien dan efektif. Bila berbagai pendekatan ternyata tidak ada perbaikan, perlu segera dipikirkan metode lain sebelum terlalu terlambat dan negara tereliminasi oleh virus. Perlu dibuat sistem perlindungan satu langkah di depan serangan virus (one-step ahead).

Fakta penting pandemi Covid-19

PB IDI mengumpulkan beberapa data penting yang masyarakat harus mengetahui agar dapat menjaga diri sebaik mungkin. Data-data tersevut antara lain pertama, bahwa saat ini kita menghadapi virus baru, dengan sifat yang berbeda dengan virus yang pernah ada, dengan kecepatan mutasi yang cepat.

“Belum lama ini pemerintah mengumumkan varian B.117 dan di dunia telah terdapat varian baru lagi yang berkembang ditemukan di Ingris yakni N439K,” jelas Daeng.

Varian N439K ini yang sudah lebih di 30 negara  ternyata lebih “smart” dari varian sebelumnya, karena ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat, dan tidak dikenali oleh polyclonal antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi, (Thomson et al., 2021).

Kedua, diperoleh fakta bahwa penularan virus Covid-19 dapat melalui aerosol, sehingga yang paling sulit adalah mengendalikan orang-orang yang asimtomatis.  WHO mengigatkan dunia bahwa penyebaran SARS-CoV-2 adalah transmisi airborne (melalui droplet udara) microdroplets (5µm). Transmisi aerosol tidak mesti batuk atau bersin, bernafas normal dapat menularkan namun ketika bernafas dan berbicara pun dapat mengeluarkan virus. Penyebaran dalam bentuk droplets (batuk, bersin, nafas dan berbicara) berukuran >5 μm akan mengendap di lantai, sedangkan ukuran <0.8 – 10 μm  tetap ada di udara hingga 1-3 jam (virus bisa hidup).

Ukuran aerosols virus terbanyak (0.5 hingga 5 μm) adalah ukuran paling lazim terhirup nafas (Zuo et al., 2020). Penularan dapat terjadi tanpa disadari karena data global 1 dari 3 orang bisa bersifat asimptomatik / pre-symptomatik (tidak bergejala, tetapi mempunyai kemampuan menyebarkan virus sama dengan orang terinfeksi yang bergejala).

Apabila ada seseorang yang terinfeksi baik bergejala maupun tidak bergejala, secara tidak disadari menghembuskan nafas pun dapat menyebarkan virus. Dilaporkan, saat orang terinfeksi akan menyebarkan virus hingga 1.03×105 dan 2.25×107 RNA SARS-CoV-2 viruses per jam (n=14), ke dalam ruangan (26.9%, n=52) (Ma et al., 2020). Dengan rata-rata penularan terjadi  35% dari droplet (terutama jarak dekat), 57% dari inhalasi (microdroplet), dan hanya 8.2% dari kontak (Jones, 2020).

Pada keadaan ruangan yang tertutup, dimana udara berputar-putar, atau transmisi pada ruang konferensi dengan udara AC yang berputar-putar maka berpotensi menjadi masalah (Kumar and Morawska, 2019). Oleh karena itu sistem ventilasi pada umumnya saat ini adalah dengan menggunakan AC central, dengan sirkulasi udara yang buruk dan kurang cahaya ultraviolet, maka virus SARS-CoV-2 dapat bertahan hidup hingga 3 jam dalam ruangan (Van Doremalen et al., 2020). Faktor lain seperti iklim, cuaca, suhu, kelembaban dan sinar matahari juga mempengaruhi penyebarannya (Chen et al., 2020; Coccia et al. 2020.

Ketiga, pemakaian masker yang sesuai (masker bedah, N95, KN 94, KF 94) dapat melindungi hingga 90% penularan dan tertular. Penggunaan masker yang baik dan benar sangat penting, meskipun ada resiko hingga 10% keluarnya droplet dan microdroplet dengan pemakaian masker dalam jangka waktu yang lama, walau kadang benar, namun ini sangat bermakna dalam menurunkan transmisi (Yim et al., 2020, O’Hearn et al., 2020, O’Hearn et al., 2020).

Kasus penggunaan masker di tempat umum menjadi wajib, mengingat bahwa rata-rata laporan menunjukkan 1 dalam 3 orang terinfeksi tidak bergejala. Bahkan dari kumpulan laporan-laporan berbagai negara menunjukkan antara 5% hingga 80% orang yang dites positif SARS-CoV-2 mungkin tidak menunjukkan gejala (Heneghan, et al, 2020) dan hal menjadi penyulit dalam pengendalian karena tidak mungkin setiap hari semua orang di test.

Kempat, kemampuan pembentukan antibody pun ternyata bersifat individual baik pasca terinfeksi maupun pasca imunisasi, maka selain vaksinasi COVID-19 ketaatan terhadap protokol kesehatan dan upaya menurunkan viral load  sangat diperlukan utk mengakhiri pandemi .

Kelima, kebugaran dan tidak stress merupakan kunci utama, orang yang sehat dan bugar ketika terinfeksi sekalipun cenderung tidak bergejala (asimtomatik) atau gejala ringan dan orang yang memiliki penyakit baik di ketahui atau tidak, beresiko mengalami badai sitokine yang membawa ke fase berat hingga kritis dengan progesivitas yang kadang sulit ditebak. Beberapa penelitian membuktikan mengkonsumsi vitamin D3 5.000 IU dan Vitamin C dapat mecegah terinfeksi dan keparahan ketika terinfeksi COVID-19 secara bermakna (Bradley et al., 2020).

Oleh karena itu IDI mengimbau kepada masyarakat untuk selalu memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat dan bugar. Mereka yang memiliki komorbid harus teratur berobat dan terkontrol, dan bagi masyarakat yang belum mengetahui status kesehatannya upayakan semaksimal mungkin skrining komorbid.

“Kita semua membutuhkan percaya diri dan keyakinan bahwa tubuh kita mampu mengatasi dengan baik jika terinfeksi, hal ini menjadikan aktivitas menjadi prima dan terhindar dari stress,” jelas Daeng.

Selain itu, kita juga harus memastikan bahwa masker yang dipakai  adalah  masker yang melindungi memiliki lapisan anti virus yang benar dan ada ijin edar.

Menurut Daeng, untuk mencegah penularan Covid-19, tidak cukup hanya 3M, tetapi membutuhkan upaya lain berupa semua ruangan atau tempat umum baik tempat usaha, perkantoran, sekolah, tempat ibadah dan lainnya agar membuka jendela, ventilasi terbuka sangat penting untuk menghilangkan viral load diudara yang keluar dari orang -orang yang asimtomatik. WHO menganjurkan untuk membuka jendela dalam ruangan yang tertutup Jika ruangan yang tidak bisa membuka jendela harus mengunakan pembersih udara (air purifier) yang dapat menyaring dan membunuh virus 99,9%. Sehingga kegiatan sekolah, kantor, tempat usaha dapat kembali aktif.

Dan untuk program vaksinasi tentu harus didampingi oleh pengetatan protokol kesehatan yang update.

Data menunjukkan satu tahun pandemi, Indonesia menempati urutan pertama di Asia untuk jumlah harian kematian dan persentasi harian kematian (mortalis). Kondisi ini harus menjadi perhatian khusus,  ada apa sebenarnya yang terjadi di negara kita saat ini? Apakah karena jumlah pemeriksaan kita kurang, sehingga saat dibandingkan, mortalitas menjadi tinggi? Atau apakah saat ini saturasi penderita COVID-19 kita sudah sangat tinggi, namun tidak semua terdeteksi? Apakah pengetahuan masyarakat kita yang kurang, sehingga terlambat untuk berobat dan banyak yang terlambat? Atau apakah tata laksana Rumah Sakit kita yang kurang maksimal, tidak menerapkan tata laksana yang sudah seharusnya? Atau apakah strain virus di Indonesia menjadi ganas?. Angka kematian adalah indikator penting untuk menilai keberhasilan penanganan suatu penyakit dan update mitigasi sesuai dengan kondisi dan perubahan adalah juga hal penting yang harus dilakukan.

“Jika pengaturan keempat hal tersebut sudah dilakukan, maka kegiatan ekonomi dapat berjalan dengan baik dan memiliki resiko rendah dalam transmisi virus bahkan dapat memutus mata rantai penularan,” tutup Daeng.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!