30 C
Jakarta

Hilangnya Jejak Muhammadiyah dalam Buku Sejarah, MUI: Menulis Sejarah Harus Obyektif!

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Salah satu media online nasional telah memuat secara viral pandangan Kevin W. Fogg, sejarawan asal University of North Carolina at Chapel Hill Amerika Serikat, telah menemukan sejumlah bukti terkait peranan ormas seperti Muhammadiyah di beberapa buku telah hilang dalam sejarah Nasional Indonesia. Kevin mengaku, cukup kaget dengan hal itu mengingat peran Muhammadiyah dalam sejarah nasional begitu besar, tapi entah kenapa tidak ditemukan data yang cukup terkait peranan Ormas Islam ini.

Momentum Kongres Sejarah Muhammadiyah yang digelar pada 27-28 November 2021 telah menjadi perhatian serius persyarikatan Muhammadiyah untuk melakukan penulisan sejarah dengan berkolaborasi bersama pemangku kepentingan agar tidak terulang temuan kelangkaan sejarah Muhammadiyah.

Kevin yang merupakan peneliti studi sejarah di Kawasan Asia Tenggara menuturkan, salah satu yang tampak adalah soal peranan Muhammadiyah yang hanya sedikit tercatat dalam sejarah nasional. Padahal, kata Kevin, eksistensi perjuangan umat Islam di masa kolonial yang gigih melakukan perlawanan tidak bisa dianggap enteng.

Presiden Soekarno Kader Muhammadiyah

Secara langsung maupun tidak langsung, kata Sekjen MUI Amirsyah Tambunan bahwa ormas islam pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI) seperti Muhamamdiyah, NU dan ormas lain punya peran penting dalam dinamika kolonialisme di Indonesia, sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah.

Muhammadiyah dilahirkan pada tanggal 18 November 1912 oleh KH Ahmad Dahlan dan Kiyai Hasyim Asyari pendiri NU 1926 telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Ki Bagus Hadikusumo juga turut aktif merumuskan Pancasila. Seperti kita ketahui bahwa Syarikat Islam lebih awal berdiri (1905), Muhammadiyah, NU jauh lebih tua dari Republik Indonesia yang baru diproklamirkan 17 Agustus 1945.

Kevin sebagai penulis buku Spirit Islam pada Masa Revolusi Indonesia itu juga mengingatkan terkait peranan Muhammadiyah dalam sejarah nasional akan hilang jika tidak dilakukan penulisan oleh para ahli.

Oleh sebab itu Amirsyah Tambunan mengajak berbagai pihak agar penulisan sejarah bangsa Indonesia segera diikhtiarkan, karena sejarah mempunyai peran penting dan strategis sebagai dasar untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. “Penulisannya tentulah harus objektif dan sesuai fakta,” kata Amirsyah.

Sekali lagi ia menegaskan agar penulisan sejarah bangsa Indonesia dilakukan lebih objektif, sehingga tidak menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. “Jika terus pro kontra dikhawatirkan dapat memperlemah persatuan dan kesatuan bangsa serta dapat mempengaruhi keberlangsungan dan keselamatan bangsa dan negara Indonesia,” pesannya.

Maka dari itu, MUI telah menyampaikan sikap bahwa buku Kamus Sejarah Indonesia (KSI) sempat beredar KSI dalam dua versi: jilid I ‘Nation Formation’ periode 1900-1950 dan jilid II ‘Nation Building’ 1951-1998. Pemrakarsanya disebut-sebut Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)yang sempat menjadi pro kontra harus ditarik dari peredaran dan direvisi ulang dengan mengakomodir sejumlah Ormas Islam dalam kepanitiaan penulisan sejarah. Tujuannya adalah agar tokoh-tokoh dan Ormas Islam lainnya yang telah memiliki kontribusi besar untuk NKRI dapat di jadikan modal dasar dalam memajukan pradaban bangsa saat ini dan yang akan datang.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!