30.4 C
Jakarta

Ibuku Pahlawanku

Baca Juga:

 

Oleh: JATIM, M.A *)

 

SURABAYA, MENARA62.COM – Sengaja menulis judul itu pada moment Hari Ibu ini, karena Ibu adalah segalanya bagiku melebihi seorang pahlawan yang  aku kenal selama ini.  Beliaulah pahlawan sejati yang menjadi pelita hidupku. Dua kata yang perlu kita kritisi yakni ibu dan pahlawan, adakah korelasi kedua kata tersebut? Namun terlebih dahulu kita perlu merumuskan. Kata ibu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Kata pahlawan artinya  orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam  membela kebenaran.

Sepintas seolah-olah tidak ada korelasi, namun kalau kita  renungkan dan berbicara lebih jauh di lubuk hati yang teramat dalam, maka seakan kita disadarkan oleh sebuah lamunan, bukankah seorang  pahlawan  lahir dari rahim  seorang ibu, bukankah seorang pahlawan mulai proses persalinan, kemudian  dirawat, dibesarkan dan dididik dengan nilai-nilai kehidupan  dengan sejuta asa, cinta dan belaian kasih sayang tiada tara juga tidak terlepas dari ketulusan dan kelembutan seorang ibu?

Bukankah seorang pahlawan lahir dari produk sentuhan seorang ibu dan tidak berlebihan sekiranya kita sebut bahwa ibu adalah. Pahlawan di atas pahlawan karena melihat esensi peran dan segala pengorbanannya , tentu seorang ibu yang memiliki jatidiri, karena   secara empiris tentu kita sepakat bahwa tidak ada orang yang paling berjasa di dunia ini selain/ melebihi seorang  ibu. Karena ibulah yang melahirkan kita, yang memelihara dengan penuh kasih sayang, yang mendidik dengan penuh kelembutan, yang membesarkan dengan penuh kesabaran dan ketulusan dengan mengorbankan segalanya walaupun nyawa taruhannya ,  Maka pantaslah Ketika salah seorang sahabat Nabi bertanya, Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? Baginda Nabi menjawab ummuka(ibumu) kemudian sahabat Nabi bertanya lagi kemudian siapa lagi Ya Rosul? Nabi pun menjawab  yang sama ummuka(ibumu) sampai tiga kali, kemudian abuuka (bapakmu). HR. Bukhari dan Muslim.

Banyak  pesan  moral yang perlu kita cermati dan kita renungkan dalam hidup ini, agar kita selalu hormat dan patuh kepada kedua orang tua kita, agar kita tidak mudah melupakannya, walau air susu ibu tidak bisa ditukar dengan dunia seisinya, segala pengorbanan ibu tidak bisa ditukar dengan jutaan rupiah, ibu tidak minta apa apa, tidak butuh apa apa dari putra putrinya, hanya satu harapan orang tua/Ibu yaitu agar kelak menjadi anak baik, sholih sholihah, rajin beribadah dan bermanfaat untuk orang lain.

Keberhasilan seorang anak dengan setumpuk gelar, segudang harta dan pangkat kedudukan yang tinggi, itu bukan semata mata karena  usahanya sendiri, tetapi tidak terlepas dari doa ibu yang selalu memohon dengan tetesan butiran air mata  mengetuk pintu langit agar dikabulkan doa untuk  anaknya , tetapi terkadang ironis mendengarnya, karena sudah lemah, tua renta tidak berbanding lurus dengan segala jasa dan pengorbanannya, ia diperlakukan layaknya seperti pembantu, ia tega dan sampai kata kasar dan menyakitkan serta tidak sedikit orang tua diusir dan ditempatkan dipanti jompo laksana air susu dibalas dengan air tuba. Padahal  anak yang durhaka menurut kacamata agama, Allah.Swt murkah dan baunya syurga saja tidak akan didapatkan.

Wallahu a’lamu bisshowab.  Semoga bermanfaat, Aamiin Allahumma aamiin.

*)Kepala SD Muhammadiyah 29 FDS Surabaya

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!