29.6 C
Jakarta

Kerja Keras

Baca Juga:

“Maka apabila shalat telah selesai ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (Q.S. Al-Jumu’ah: 10)

Sebuah pelajaran penting dan sangat berharga yang penulis dapatkan dari seorang entrepreneur sejati, yang juga seorang santri Alumni Babakan Ciwaringin Cirebon. Ia merupakan salah satu putra terbaik yang dimiliki Kabupaten Brebes, yaitu Dr (HC) H Muhadi Setabudi (CEO sekaligus Owner PT Dedy Jaya Lambang Perkasa). Pelajaran itu dibagikan saat Muhadi berbagi kiat sukses pada acara ramah tamah usai menjadi Khatib sekaligus Imam Shalat Jumat di Masjid Besar Attaqwa Bulakamba. Kiat itu tentang pentingya kerja keras.

Muhadi berkali-kali menegaskan, untuk menjadi orang sukses itu tidak boleh malas, tidak boleh cengeng, pantang putus asa, harus kerja keras.

Penulis sangat sepakat dengan pandangan dan prinsip hidup itu. Islam pun mengajarkan hal yang sama.

Ayat yang penulis kutip di awal tulisan ini menegaskan, kita diperintahkan untuk mencari rezeki demi kelangsungan hidup di muka bumi. Tentu, rezeki tidak akan datang sendiri. Rezeki tidak menghampiri kita tanpa ada usaha untuk memperolehnya. Allah tidak akan menurunkan hujan emas dan perak dari langit. Untuk itu, perintah bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki, mengandaikan sebuah usaha maksimal, kerja keras disertai ketekunan dan sikap tawakkal kepada Allah SWT.

Etos kerja

Islam sangat menjunjung tinggi etos kerja. Bahkan dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW pernah menegaskan, “Sesunggunya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardlu”. (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Jika demikian kenyataannya, kerja keras mencari rezeki merupakan kewajiban seorang Muslim setelah ibadah fardlu. Masihkah kita merasa menjadi Muslim sejati, Muslim yang baik, ketika dalam jiwa  masih tersimpan sikap malas, tidak mau berusaha menjemput rezeki Allah yang demikian luasnya?

Selayaknya, ketika ibadah fardlu telah ditunaikan, kita tempa diri dengan cucuran keringat karena bekerja keras. Hanya dengan cara inilah, kita bisa bangga dan menunjukkan diri sebagai seorang Muslim sejati. Seorang Muslim yang sanggup menghadapi hidup dengan penuh semangat juang yang tinggi. Seorang Muslim yang meyakini rezeki Allah sangat berlimpah, dan disediakan bagi siapa saja yang mau berusaha menggapainya dengan bimbingan-Nya.

Kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain menunjukkan jiwa serta kepribadian seorang Muslim, juga merupakan salah satu cara untuk menghapus dosa-dosa kita. Rasulullah SAW bersabda, “barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja pada siang hari, maka pada malam harinya ia diampuni Allah.” (HR. Ahmad)

Dengan demikian jelaslah, tidak ada ruang bagi sikap malas dalam ajaran Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, mencari karunia Allah di muka bumi ini dengan sikap gagah, sabar dan pantang menyerah. Di sinilah letak ‘izzah (kehormatan, harga diri sekaligus jati diri) seorang Muslim.

Sedangkan sikap berpangku tangan, selalu mengharapkan bantuan orang lain, pasrah terhadap keadaan, tidak berusaha merubah ke arah yang lebih baik menunjukkan kerendah dirian serta kehinaan seseorang.

Ruang Inspirasi, Sabtu, 20 Agustus 2022.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!