31.8 C
Jakarta

Khutbah Jumat UMS: Merdeka dengan Iman dan Amanah

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Makna kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan. Kemerdekaan juga menuntut tanggung jawab untuk mengisinya dengan ilmu, integritas, karya, serta kepedulian kepada sesama.

 

Pesan tersebut disampaikan Direktur Sekolah Vokasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., dalam khutbah Salat Jumat di Masjid Fadhurohman UMS, Jumat (7/8/2026).

 

Salat Jumat yang berlangsung di Kampus I UMS tersebut diikuti civitas akademika UMS. Momentum menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia itu dimanfaatkan untuk mengajak jamaah merefleksikan kembali makna kemerdekaan dari perspektif iman dan tanggung jawab sosial.

 

Suranto menegaskan, kemerdekaan tidak semestinya dimaknai sebatas terbebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan juga berarti membebaskan diri dari perilaku yang merusak kehidupan bersama, seperti korupsi, keserakahan, dan hawa nafsu.

 

“Tugas generasi saat ini adalah mengisi kemerdekaan melalui ilmu, inovasi, kepedulian sosial, kasih sayang, dan karya nyata,” ujarnya dalam khutbah.

 

Kemerdekaan Harus Diisi dengan Karya

 

Suranto mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang para pendahulu bangsa. Kemerdekaan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan melalui pengorbanan, penderitaan, darah, air mata, hingga jiwa dan raga para pahlawan.

 

Karena itu, menghormati jasa para pejuang tidak cukup dilakukan dengan mengenang sejarah. Nilai-nilai perjuangan perlu diteruskan melalui tindakan nyata.

 

Bangsa yang besar, menurut dia, bukan hanya bangsa yang bangga terhadap sejarahnya, tetapi juga bangsa yang mampu belajar dari sejarah untuk membangun masa depan yang lebih bermartabat.

 

“Nilai perjuangan harus terus dihidupkan melalui karya, integritas, ilmu pengetahuan, serta pengabdian kepada masyarakat dan umat,” katanya.

 

Makna Angka 17 dalam Kemerdekaan dan Ibadah

 

Dalam khutbah tersebut, Suranto juga mengajak jamaah merenungkan makna angka 17 yang memiliki sejumlah keterkaitan dengan kehidupan kebangsaan dan keagamaan.

 

Tanggal 17 Agustus menjadi simbol kemerdekaan Indonesia. Sementara 17 Ramadan mengingatkan umat Islam pada momentum turunnya Al-Qur’an. Adapun 17 rakaat salat wajib setiap hari menjadi pengingat hubungan manusia dengan Allah SWT.

 

Ketiganya dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa kemerdekaan semestinya berjalan seiring dengan nilai agama, ibadah, kejujuran, disiplin, dan akhlak mulia.

 

“Jangan sampai kemerdekaan hanya dimaknai secara lahiriah, tetapi kehilangan nilai spiritual dan moral yang menjadi fondasi kehidupan,” pesan Suranto.

 

Jabatan Bukan Kemuliaan, Melainkan Amanah

 

Pesan khutbah juga diarahkan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari elemen penting dalam pembangunan bangsa.

 

Setiap orang, kata Suranto, memiliki tanggung jawab kepemimpinan sesuai amanah yang diterimanya. Karena itu, jabatan tidak semestinya dipandang sebagai sumber kemuliaan, melainkan sebagai amanah sekaligus ujian yang kelak dipertanggungjawabkan.

 

Kekuasaan dan jabatan hendaknya digunakan untuk mempermudah urusan masyarakat, menghadirkan keadilan, serta meningkatkan kesejahteraan.

 

Bukan sebaliknya, digunakan untuk memperkaya diri, mengejar kehormatan, atau memenuhi kepentingan pribadi.

 

Pesan tersebut menjadi relevan dalam mengisi kemerdekaan karena kualitas sebuah bangsa juga ditentukan oleh integritas orang-orang yang mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan amanah.

 

Merdeka dengan Menebar Kasih Sayang

 

Selain iman dan kepemimpinan yang amanah, Suranto mengajak jamaah menjadikan kehidupan sebagai kesempatan untuk menebarkan kasih sayang.

 

Menurut dia, kehidupan dunia bersifat sementara. Setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Karena itu, kesempatan hidup perlu diisi dengan amal yang memberikan manfaat bagi orang lain.

 

Senyum kepada sesama, ilmu yang bermanfaat, perkataan yang menguatkan, kepedulian sosial, hingga membantu orang yang membutuhkan merupakan bentuk investasi akhirat.

 

Kesadaran tersebut semakin penting seiring bertambahnya usia. Melemahnya fisik, berkurangnya penglihatan, dan berbagai keterbatasan tubuh seharusnya menjadi pengingat untuk memperkuat kesadaran spiritual dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

 

Suranto juga mengingatkan bahaya keserakahan yang dapat menjauhkan manusia dari kejujuran dan nilai kemanusiaan.

 

Ilmu dan Gelar Harus Berbuah Pengabdian

 

Di lingkungan perguruan tinggi, pesan tersebut juga diarahkan pada pentingnya menjadikan ilmu dan gelar akademik sebagai sarana memberikan manfaat.

 

Ilmu, kata Suranto, tidak cukup hanya menghasilkan prestasi akademik. Ilmu harus diwujudkan dalam kejujuran, kepedulian, amal, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Setelah manusia meninggal dunia, amal yang terus mengalir menjadi salah satu bekal yang paling berharga.

 

Karena itu, jamaah diajak membangun kehidupan dengan menjadikan iman sebagai landasan, ilmu sebagai penerang, kepemimpinan sebagai amanah, dan kasih sayang sebagai wujud nyata kemanusiaan.

 

Mengisi kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan hasil perjuangan para pahlawan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Merdeka dalam iman, bertanggung jawab dalam amanah, dan menebar kasih sayang menjadi pesan utama khutbah tersebut agar generasi hari ini mampu mengisi kemerdekaan dengan kehidupan yang bermanfaat bagi masyarakat, umat, dan kemanusiaan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!