JAKARTA, MENARA62.COM — Forum Madani Malindo (Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia) merupakan forum dialog strategis yang mempertemukan para tokoh lintas bidang, pakar, intelektual, ulama, dan cendekiawan Muslim dari Indonesia dan Malaysia. Forum ini tidak hanya bertujuan memperkuat kerja sama di bidang keilmuan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengkaji gagasan, konsep, dan wawasan tentang negara madani sebagai bagian dari upaya membangun kebangkitan peradaban Islam di Asia Tenggara.
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr. Amirsyah Tambunan, mengatakan bahwa pembangunan peradaban tidak semata-mata diukur dari kemajuan material, tetapi juga dari kualitas keadaban masyarakat yang lahir dari kecerdasan, ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi sosial, serta akhlak dan sopan santun.
“Peradaban pada hakikatnya merupakan tahap kemajuan keadaban, baik lahir maupun batin, yang lahir dari kecerdasan, ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi sosial, dan nilai-nilai luhur yang berkembang dalam suatu masyarakat atau bangsa,” ujar Amirsyah, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, konsep peradaban memiliki keterkaitan erat dengan kata adab, yang bermakna norma, aturan, tata krama, sopan santun, serta nilai moral dan budi pekerti yang luhur. Karena itu, pembangunan peradaban harus berjalan seiring dengan penguatan karakter, etika, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai agama.
Forum Madani Malindo diprakarsai oleh Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Indonesia, yang digagas oleh pendirinya, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, bersama Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM).
Din Syamsuddin menegaskan pentingnya membangun silaturahmi antartokoh serumpun melalui pertukaran gagasan dan kerja nyata. Hubungan tersebut dapat diwujudkan melalui silatul fikri atau silaturahmi pemikiran dan silatul amal atau kerja sama dalam aksi nyata.
Menurut Din, terdapat keinginan kuat untuk menjadikan Indonesia dan Malaysia sebagai motor penggerak kemajuan umat Islam di tingkat global. Kedua negara memiliki posisi strategis dalam membangun kerja sama intelektual, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan keislaman untuk memperkuat peradaban Islam di kawasan.
“Indonesia dan Malaysia memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak kemajuan umat Islam global. Karena itu, persahabatan dan kerja sama masyarakat sipil kedua negara harus terus diperkuat,” ujarnya.
Dialog Madani Malindo II yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Jakarta, Indonesia, merupakan kelanjutan dari Madani Malindo I yang digelar pada 21–24 Agustus 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Pelaksanaan Madani Malindo II diarahkan untuk semakin memperkokoh paksi ilmu dan strategi pembangunan peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Forum ini juga diharapkan dapat melahirkan gagasan-gagasan strategis yang dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat dan memperkuat hubungan Indonesia-Malaysia.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., serta jajaran tokoh organisasi kemasyarakatan Islam tingkat nasional dan para cendekiawan dari Indonesia dan Malaysia.
Amirsyah berharap semangat persahabatan dan persaudaraan yang dibangun melalui Madani Malindo tidak berhenti pada forum dialog, tetapi dapat dilanjutkan melalui kerja sama konkret di tengah masyarakat.
“Persahabatan Indonesia dan Malaysia harus terus dirawat melalui dialog, pertukaran gagasan, dan kerja nyata. Masyarakat sipil memiliki peran penting untuk memperkuat hubungan kedua negara sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi kebangkitan peradaban Islam di Asia Tenggara,” pungkasnya.

