29.5 C
Jakarta

Membangun Ketangguhan Masyarakat Di Tengah Bencana Pandemi Covid-19

Must read

Sudah Lebih dari 568 Formasi Ribu Guru Diusulkan Pemda Melalui Skema ASN PPPK

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemerintah daerah (pemda) telah mengajukan usulan sebanyak 568.238 formasi guru melalui skema Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja...

Mudahkan Masyarakat Berinfak, Bank BPD DIY Luncurkan Launching Infak Melalui QRIS

SLEMAN, MENARA62.COM- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bekerjasama dengan Bank BPD DIY Cabang Sleman meluncurkan Infak Masjid melalui QRIS Bank BPD DIY, Kamis (4/3/2021). Launching...

Muhammadiyah Kalimantan Timur Bantu Bangun Huntap Di Hulu Sungai Tengah

  Balikpapan, MENARA62.COM- Muhammadiyah Kalimantan Timur mengirimkan bantuan material untuk pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak banjir di Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu...

Reses di Cempaka Putih, Ismail Serap Aspirasi Warga

JAKARTA, MENARA62.COM– Anggota Komisi B, DPRD DKI Jakarta, Ismail, melaksanakan pertemuan dengan warga dalam rangka reses masa sidang pertama tahun 2021, di...

Oleh: Farida Hidayati, S.Psi.Msi )*

BENCANA memiliki lingkup yang luas, tidak terbatas pada bencana yang diakibatkan oleh alam. Situasi yang kita hadapi saat inipun yakni pandemi Covid-19  dapat disebut sebagai bencana. Hal ini meruntut pada istilah bencana itu sendiri yakni sebagai gangguan yang memiliki  peningkatan persoalan yang luas dan mengakibatkan kerugian terhadap kehidupan masyarakat, baik secara fisik, material, ekonomi atau lingkungan serta melebihi kemampuan masyarakat untuk mengatasi. Pandemi Covid-19 memenuhi semua persyaratan tersebut karena pandemi Covid-19 banyak menimbulkan kerugian, tidak hanya nyawa, namun hampir seluruh aspek kehidupan terkena dampaknya. Itu mengapa pandemi Covid-19 dikategorikan sebagai bencana.

Seperti halnya bencana lainnya, pandemi Covid-19 juga memiliki potensi risiko sangat signifikan. Hampir setahun pandemi melanda tanah air, semua tatanan kehidupan berubah. Secara fisik, sosial dan psikologis, orang tidak bisa lagi melakukan berbagai hal seperti rutinitas biasa. Perubahan kondisi sosial ini membuat masyarakat terguncang. Dan jika tidak segera dikendalikan maka bisa berdampak pada kematian yang lebih banyak dengan biaya sosial dan ekonomi yang semakin tinggi. Pada titik ini, perlu dipikirkan untuk membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana.

Ketangguhan Masyarakat

Pola pandemi Covid-19 sebenarnya  hampir sama dengan karakteristik pandemi sebelumnya, seperti SARS dan MERS. Pengendaliannya sama-sama membutuhkan pembatasan interaksi fisik selama berbulan-bulan, sehingga banyak dampak yang tidak mungkin dihindari, baik dari segi  kesehatan, sosial dan ekonomi. Tapi seberapa lama orang akan dapat bertahan dengan mengisolasi di “pulau pribadi” dengan persediaan darurat yang dirasa cukup?

Bagi kebanyakan masyarakat, mengisolasi diri tidak menjadi solusi yang efektif bahkan boleh dikata tidak realistis. Sekalipun untuk individu yang makmur dan sehat dengan keterampilan praktis dan kecenderungan anti-sosial yang mungkin bisa bahagia dan sehat dalam isolasi. Namun kebanyakan orang membutuhkan interaksi, memiliki ketergantungan dengan pihak lain dan tanggung jawab, termasuk pekerjaan, pengasuhan, dan kebutuhan pribadi yang memerlukan akses ke layanan dan aktifitas. Orang-orang akan bosan dan stress dengan model penanganan isolasi.

Hal yang membedakan pandemi Covid-19 dengan wabah SARS atau MERS adalah rangkaian dari imbas pandemi. Daya tular yang tinggi pada Covid-19, mengakibatkan serangkaian masalah yang jauh lebih komplek dan saling terkait. Mulai dari penyakit dan kematian, sistem pelayanan kesehatan, pembatasan perjalanan, anjuran untuk tetap tinggal di rumah dan isolasi, ketakutan dan kebingungan, tekanan mental dan fisik. Belum lagi dampak ekonomi dengan hilangnya pendapatan individu dan PHK, bisnis yang terpaksa gulung tikar, perkembangan ekonomi nasional dan global yang mengalami penurunan secara drastis.

Berbeda dengan kebanyakan bencana lainnya, pandemi Covid-19 mengancam jiwa manusia (tetapi tidak pada infrastruktur), jangka waktu yang lebih lama dan berdampak luas terhadap sosial – ekonomi masyarakat. Karena itu mitigasinya harus lebih difokuskan untuk melindungi orang dan memberikan keamanan ekonomi, dengan sedikit kebutuhan untuk perlindungan dan perbaikan infrastruktur.  Intinya bagaimana membuat masyarakat menjadi tangguh dalam menghadapi bencana.

“Ketangguhan masyarakat” merupakan kemampuan komunitas atau masyarakat yang terpapar dalam menghadapi dan pulih kembali dari dampak bahaya secara efisien. Untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat, dibutuhkan respon yang efektif termasuk pengendalian penularan, dukungan fisik dan mental untuk orang-orang yang terisolasi, dan keterjangkauan terhadap akses pelayanan publik.  Koordinasi aktif antara profesional tanggap bencana, pejabat pemerintah, dan akademisi menjadi kunci penguatan terbentuknya ketangguhan masyarakat. Prioritas lainnya adalah penguataan kerjasama dan kelembagaan antar pemerintah daerah dengan melibatkan sektor swasta.

Elemen ketangguhan masyarakat

Upaya membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi situasi bencana, secara umum dapat dilakukan melalui sembilan elemen yang meliputi;

(1) Pengetahuan lokal.  Pengetahuan yang baik mengenai kondisi masyarakat sekitar sangat membantu mengurangi dalam menentukan langkah-langkah penanganan sehingga dapat mengurangi risiko dan dampak bencana. Pendidikan, pengalaman, pengetahuan faktual dan informasi spesifik mengenai pandemi Covid-19, seperti bagaimana pencegahan, penularan dan penanganan dan isu-isu lain yang yang terkait dengan Covid-19. Informasi dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat menjadi modal untuk ketangguhan masyarakat, maka hendaknya masyarakat bisa memilih informasi yang benar dan menghindari informasi yang salah. Sekolah memiliki peran yang besar dalam elemen ini, informasi dan pengetahuan bahkan pelatihan dapat dilaksanakan melalui proses pembelajaran.

(2) Jaringan dan hubungan komunitas. Salah satu efek positif pada komunitas dan anggotanya dapat terjadi selama krisis. Hal ini terjadi karena persamaan situasi, sehingga menguatkan kebersamaan untuk mengatasi permasalahan secara bersama-sama. Masyarakat dengan sumber daya yang dimiliki seperti kemampuan memecahkan masalah, kekompakan anggota, memiliki kader seperti posyandu, menjadi aset yang dapat diberdayakan untuk mengelola dan secara adaptif dalam menanggapi tuntutan yang luar biasa dalam situasi yang tidak terduga.

Program yang diinisiasi oleh Pemprov Jawa Tengah, yaitu “Jogo Tonggo”, dapat menjadi contoh bagaimana membangun jejaring pengaman sosial sekaligus jejaring pengaman ekonomi melalui kearifan lokal. Program ini membangun kesadaran masyarakat secara menyeluruh dengan melibatkan Puskesmas, PKK, Dasa Wisma, Karang Taruna untuk saling peduli, saling menjaga, dan saling memberi rasa aman antar anggota masyarakat. Para relawan “Jogo Tonggo” ini juga dilibatkan untuk membantu proses 3T; tracing (pelacakan), testing (pengetesan), dan treatment (perawatan) pasien Covid-19 .

(3) Komunikasi. Jaringan komunikasi yang kuat sangat penting untuk membangun ketangguhan masyarakat.  Di zaman digital ini, penggunaan media sosial sangat membantu untuk tersampaikannya informasi dengan cepat pesan penting dan darurat. Pemerintah dalam menyampaikan pesan perlu mempertimbangkan norma-norma komunitas dan rentang keyakinan individu untuk memastikan bahwa pesan tersebut memenuhi harapan anggota masyarakat dan ditempatkan dalam konteks sosial yang sesuai untuk membantu masyarakat.

(4) Kesehatan. Layanan kesehatan menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana Covid-19 ini.  Peningkatan layanan kesehatan melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas di tingkat rumah sakit dan fasilitas untuk menangani pasien secara massal. Di samping itu penting juga untuk menjaga kesehatan mental suatu komunitas, karena dengan  lamanya situasi pandemi Covid-19 ini, kemungkinan akan muncul stresor sekunder yang lebih kronis yang mengakibatkan berbagai gangguan termasuk gangguan stres pascatrauma, kecemasan dan depresi pada sebagian kecil individu yang signifikan.

(5) Pemerintahan dan kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan aspek yang penting dalam pengelolaan situasi krisis, pemimpin harus terus melakukan updating informasi untuk dapat mengambil tindakan yang sesuai dengan situasi yang berkembang. Satu hal yang penting untuk ditekankan adalah bagaimana  perilaku dan pola pikir yang dapat mencegah reaksi yang berlebihan terhadap krisis dan bagaimana menghadapi tantangan ke depan.  Tidak hanya  perencanaan penanganan yang matang, namun penting juga dalam membangun komunikasi  yang  baik  dan juga kerjasama dengan berbagai pihak. Hal ini terlihat dalam upaya pemerintah melakukan  sosialisasi dan edukasi ke masyarakat mengenai vaksinasi Covid-19. Dalam pelaksanaan program, pemerintah menggandeng sejumlah penjabat, tokoh, artis, dan influencer sebagai role model untuk  mendapatkan kesempatan disuntik pada tahap awal ini. Ini dilakukan sebagai upaya persuasif pemerintah untuk meyakinkan masyarakat terhadap efektifitas vaksin dalam memutus rantai penyebaran covid-19.

(6) Sumberdaya. Kecepatan pulihnya kondisi masyarakat dalam menghadapi situasi krisis banyak dipengaruhi ketersediaan sumber daya yang ada. Peran pemerintah daerah dalam memenuhi ketersediaan sumber daya personel, materiil, prosedur, hingga anggaran yang dimiliki untuk pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Pemerintah daerah harus memperkuat pengadaan infrastruktur kesehatan dan juga perhatian untuk keselamatan dan kesejahteraan tenaga kesehatannya. Pemerintah daerah harus memperhatikan kecukupan kebutuhan untuk test, tracing, treatment dan isolasi.  Di samping itu juga penting bagi pemerintah daerah mengalokasikan bantuan dan support untuk masyarakat miskin yang terdampak langsung oleh Covid-19.  Bantuan pemerintah tidak berarti melemahkan modal sosial masyarakat, namun lebih menunjukkan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.

(7) Investasi ekonomi. Indikator ketangguhan masyarakat dapat dilihat melalui pertumbuhan ekonomi paska krisis. Pada situasi pandemi ini, perekonomian global mengalami goncangan yang luar biasa, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Tingginya angka kejadian PHK dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang dikarenakan banyak pelaku usaha yang menutup usahanya karena mengalami krisis. Berbagai langkah ditempuh untuk tetap dapat survive di tengah krisis, dengan tindakan-tindakan penghematan  dan juga membuka peluang usaha baru. Apabila seluruh individu dan entitas usaha dapat melewati masa krisis, tetap survive, maka perekonomian nasional akan cepat pulih sehingga masyarakat akan membangun kehidupnnya dengan lebih baik.

(8) Kesiapan. Kesiapan dalam menghadapi situasi krisis perlu melibatkan para pemangku kepentingan masyarakat dalam perencanaan, langkah-langkah pencegahan, dan kesiapsiagaan keseluruhan dimaksudkan untuk memungkinkan tanggapan dan pemulihan berkelanjutan oleh masyarakat, dan untuk mengurangi dampak negatif di masyarakat.

(9) Pola Mental. Sikap, perasaan dan pandangan dalam menghadapi ketidakpastian yang terjadi akibat dampak bencana atau masa sesudah krisis. Ketidakpastian menyebabkan munculnya kecemasan di masa depan bagi keluarga, hingga kekhawatiran tentang dampak jangka panjang pada masyarakat, ketidakpastian secara individu dan kelompok. Oleh karena itu, pandangan mental suatu komunitas adalah penting dalam membentuk kemauan dan kemampuan anggota masyarakat untuk melanjutkan tatanan hidup dalam menghadapi ketidakpastian.

Dengan memperhatikan sembilan elemen ketangguhan masyarakat kita dapat mengembangkan program dengan target sesuai tingkatnya. Pada tingkat pribadi, intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran pentingnya tindakan-tindakan pencegahan melalui informasi dan edukasi. Di tingkat komunitas, kita perlu mendorong keterlibatan aktif (partisipasi komunitas) dan mengembangkan kemampuan komunitas untuk menyelesaikan masalah kolektif. Sementara di tingkat kelembagaan, dapat menjalankan fungsinya sebagai regulator dengan penerbitan peraturan-peraturan.

Di samping itu, lembaga dapat berperan sebagai dinamisator yang menggerakkan partisipasi masyarakat jika terjadi kendala. Lembaga juga bisa menjalankan peran sebagai fasilitator untuk mengadakan pendampingan, pelatihan dan penigkatan keterampilan. Sehingga jika semua elemen bekerja dan efektif maka situasi pandemi ini dapat dilewati dengan baik. “Negara yang tangguh tercipta dari masyarakat yang tangguh.”

*Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Psikologi, FK UNS, Staf Pusat Studi Bencana dan Mahasiswa S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -

Latest article

Sudah Lebih dari 568 Formasi Ribu Guru Diusulkan Pemda Melalui Skema ASN PPPK

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemerintah daerah (pemda) telah mengajukan usulan sebanyak 568.238 formasi guru melalui skema Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja...

Mudahkan Masyarakat Berinfak, Bank BPD DIY Luncurkan Launching Infak Melalui QRIS

SLEMAN, MENARA62.COM- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bekerjasama dengan Bank BPD DIY Cabang Sleman meluncurkan Infak Masjid melalui QRIS Bank BPD DIY, Kamis (4/3/2021). Launching...

Muhammadiyah Kalimantan Timur Bantu Bangun Huntap Di Hulu Sungai Tengah

  Balikpapan, MENARA62.COM- Muhammadiyah Kalimantan Timur mengirimkan bantuan material untuk pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak banjir di Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu...

Reses di Cempaka Putih, Ismail Serap Aspirasi Warga

JAKARTA, MENARA62.COM– Anggota Komisi B, DPRD DKI Jakarta, Ismail, melaksanakan pertemuan dengan warga dalam rangka reses masa sidang pertama tahun 2021, di...

Menparekraf Optimis Pariwisata Indonesia Tahun 2021 Akan Bangkit Kembali

JAKARTA, MENARA62.COM - Optimistis kebangkitan sektor kepariwisataan dan ekonomi kreatif makin menguat seiring program vaksinasi covid-19 dan berbagai kebijakan pemerintah terkait sektor pariwisata. Dalam...