25.6 C
Jakarta

Memprihatinkan, Islamophobia Masih Ada di Eropa Disaat Jumlah Muslim Meningkat

Must read

Hati-Hati, Sesak Nafas Tidak Selalu Covid-19, Bisa Juga Gejala Serangan Jantung

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 telah membuat sebagian besar masyarakat takut ke rumah sakit. Padahal untuk kasus-kasus penyakit jantung, risikonya amat besar jika menunda...

LAZISMU Gelar Survey Indeks Literasi Zakat Secara Online, Yuk Ikutan!

JAKARTA, MENARA62.COM – Lembaga zakat Muhammadiyah LAZISMU Pusat akan mengadakan survey online kepada warga Muhammadiyah untuk mengetahui tingkat pemahaman dan wawasan mengenai ilmu dan...

Masa Ta’aruf UNISA Sambut 1.535 Mahasiswa Baru

  YOGYAKARTA,MENARA62.COM-"Kepada calon pemimpin yang hebat melalui UNISA ini kami punya harapan yang sangat besar kepada mahasiswa baru untuk menjadi anak negeri yang punya kekuatan...

Tampilan Baru Vespa Primavera Sean Wotherspoon, Hadir di Indonesia.

JAKARTA  MENARA62.COM – Vespa Primavera Sean Wotherspoon resmi diluncurkan pertama untuk pasar otomotif Indonesia, Jumat (18/9/2020). Menurut Marco Nota Ia Diega, Presiden Direktur PT Piaggio...

JAKARTA, MENARA62.COM — Sekum PP Muhammadiyah Prof Abdul Multi, ketika membuka pengajian PP Muhammadiyah pada Jumat (11/9/2020) antara lain mengatakan, disaat pertumbuhan Islam di Eropa cukup pesat, ada yang memprihatinkan. Keprihatinan itu antara lain karena Islamophobia tetap ada.

Bahkan, Abdul Mu‘ti mengungkapkan, ada keprihatinan yang mendalam atas terjadinya pembakaran Al-Quran di negara yang selama ini menagungkan nilai demokratis.

Arief Hafaz Oegroseno, duta besar Indonesia untuk Jerman mengatakan, di semua negara Eropa, ada warga Muslimnya. Dan diperkirakan, peningkatan jumlah Muslim di Eropa, dengan atau tanpa migrasi, akan tetap meningkat. Konflik Syria, dan sejumlah negara Timur Tengah lainnya, berpengaruh terhadap peningkatan Muslim di Eropa.

“Angkanya sekitar 10 persen. Ini cukup  signifikan,” ujarnya.

Selain itu menurut Oegroseno, Muslim di Eropa, tingkat kelahirannya cukup tinggi dibandingkan warga Eropa. Ini tentu menyumbang pertumbuhan Muslim di Eropa dengan cukup tinggi.

Eropa, menurut Oegroseno, masing menganggap Islam dan Eropa. Keduanya dianggap berbeda dan terpisah. Ada nilai Eropa yang pada saat ini, bisa dijadikan basis pemahaman mengapa Islamophobia sangat kuat. Pertama, ada pemahaman Islam yang salah. Islam equal dengan Arab atau Timur Tengah. Islam itu equal dengan radikal.

“Meski kita tahu ini tidak betul. Ada jauh lebih banyak Muslim yang tinggal di luar wilayah Timur Tengah,” ujarnya.

Kedua, sejarah meninggalkan kesan, Roma menganggap invasi bangsa Arab, Moor terutama di Portugal dan Spanyol. Kondisi ini, hingga saat ini dianggap sebagai potensi ancaman terrorist attack.

Oegroseno mengungkapkan ada tiga hal yang bisa mendorong keberadaan Islamophobia. Pertama, people driven. Adanya pernyataan, ungkapan ataupun tuduhan dan tagline yang tidak menguntungkan bagi Islam. “Ungkapan ini cukup memprihatinkan, apalagi itu terjadi di negara yang sangat demokratis,” ujarnya.

Kedua, government driven, masih adanya diskriminasi bagi warga Muslim di Eropa yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Seperti yang terjadi di Belgia, ketika akan menyewa apartemen, dan dikatakan ada yang kosong, namun ketika didatangi oleh perempuan yang berjilbab, mereka membatalkannya. “Ini tidak saya dengar di Jerman, namun terjadi di negara Eropa lainnya,” ujarnya.

Selain itu, Oegroseno juga mengatakan, adanya pelarangan memakai jilbab di tempat tertentu. Ini juga berdampak pada meningkatnya Islamophobia.

Ketiga, media driven, sangat berpengaruh dalam menambah Islamophobia, baik media mainstream maupun media kuning.

Peran

Indonesia, khususnya Muhammadiyah menurut Oegroseno, bisa memberikan kontribusi bagi upaya membantu memberikan gambaran bahwa Islam tidak identik dengan Timur Tengah.

“Ada negara Islam yang demokratis. Islam hidup di negara yang menghargai wanita. Ada kepala negara wanita, anggota dewan wanita yang jumlahnya banyak, dan sebagainya,” ujarnya.

Muhammadiyah, secara khusus Oegroseno mengatakan, dapat membuka perwakilan Muhammadiyah di Eropa. Muhammadiyah juga dapat menjadi kontributor dalam penyusunan kurikulum di Eropa. “Membawa tokoh Muhammadiyah ke Eropa dan menghadiri pertemuan yang membahas tentang Islam,” ujarnya.

 

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Hati-Hati, Sesak Nafas Tidak Selalu Covid-19, Bisa Juga Gejala Serangan Jantung

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 telah membuat sebagian besar masyarakat takut ke rumah sakit. Padahal untuk kasus-kasus penyakit jantung, risikonya amat besar jika menunda...

LAZISMU Gelar Survey Indeks Literasi Zakat Secara Online, Yuk Ikutan!

JAKARTA, MENARA62.COM – Lembaga zakat Muhammadiyah LAZISMU Pusat akan mengadakan survey online kepada warga Muhammadiyah untuk mengetahui tingkat pemahaman dan wawasan mengenai ilmu dan...

Masa Ta’aruf UNISA Sambut 1.535 Mahasiswa Baru

  YOGYAKARTA,MENARA62.COM-"Kepada calon pemimpin yang hebat melalui UNISA ini kami punya harapan yang sangat besar kepada mahasiswa baru untuk menjadi anak negeri yang punya kekuatan...

Tampilan Baru Vespa Primavera Sean Wotherspoon, Hadir di Indonesia.

JAKARTA  MENARA62.COM – Vespa Primavera Sean Wotherspoon resmi diluncurkan pertama untuk pasar otomotif Indonesia, Jumat (18/9/2020). Menurut Marco Nota Ia Diega, Presiden Direktur PT Piaggio...

Sekelumit Kisah dari 75 Tahun Kereta Api Indonesia.

JAKARTA, MENARA62.COM – Hari Kereta Api Indonesia (KAI) diperingati setiap tanggal 28 September. Di usianya 75 tahun kini terus meningkatkan pelayanannya. Transportasi umum yang...