JAKARTA, MENARA62.COM — Solidaritas untuk penyintas gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalir. Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu telah melayani 7.225 penyintas, sementara penghimpunan dana kemanusiaan mencapai Rp6,09 miliar hingga 3 September 2026.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang melanda tujuh kabupaten di NTT pada 15 Agustus 2026 membuat Muhammadiyah segera memobilisasi sumber daya dari berbagai daerah.
Respons kemanusiaan diawali dengan pendirian Pos Koordinasi Wilayah di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Pos ini menjadi pusat perencanaan, koordinasi, sekaligus evaluasi berbagai layanan bagi masyarakat terdampak.
Hingga saat ini, Muhammadiyah telah mendirikan tujuh Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten terdampak serta 10 Pos Pelayanan untuk memperluas jangkauan bantuan.
7.225 Penyintas Mendapat Layanan Kesehatan
Respons Muhammadiyah dijalankan melalui tiga klaster utama, yakni layanan kesehatan, nonkesehatan, dan logistik.
Pada sektor kesehatan, Muhammadiyah mengerahkan Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile. EMT Type-1 Fixed yang terdiri atas 50 personel mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Tim EMT Muhammadiyah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Sementara itu, EMT Mobile dikerahkan untuk menjangkau lokasi-lokasi pengungsian yang tidak terjangkau layanan kesehatan tetap. Tim tersebut melibatkan tenaga medis dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia.
Hingga 3 September 2026, layanan kesehatan Muhammadiyah telah menangani 7.225 penyintas yang tercatat dalam layanan EMT. Mereka terdiri atas 85 bayi, 229 balita, 266 anak, 150 remaja, 2.173 dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia.
Dari pemeriksaan di rumah sakit lapangan, sejumlah keluhan dan diagnosis paling banyak ditemukan pada penyintas. Infeksi saluran pernapasan tercatat sebanyak 437 kasus, disusul nyeri otot dan pegal-pegal 372 kasus, hipertensi 233 kasus, rasa tidak nyaman atau nyeri di sekitar perut 186 kasus, serta sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk sebanyak 153 kasus.
Dapur Umum hingga Layanan Psikososial
Tak hanya kesehatan, Muhammadiyah juga memberikan layanan pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan psikososial.
Dapur umum yang didirikan telah melayani 1.750 jiwa. Muhammadiyah juga membangun fasilitas sanitasi dan air bersih di dua titik serta memberikan layanan psikososial kepada 1.773 jiwa.
Dukungan logistik turut digerakkan untuk membantu penyintas memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan yang didistribusikan antara lain mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng RendangMu, serta terpal sepanjang 500 meter.
Tim EMT Mobile dari Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga memberikan dukungan berupa logistik dan obat-obatan selama menjalankan pelayanan di lapangan.
Lazismu Himpun Rp6,09 Miliar
Di balik keberlanjutan respons tersebut, dukungan masyarakat melalui Lazismu terus mengalir. Melalui Program Indonesia Siaga, Lazismu berhasil menghimpun Rp6.099.163.820 hingga 3 September 2026.
Penggalangan dana tersebut diperkuat dengan Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tertanggal 20 Agustus 2026. Surat tersebut menginstruksikan masjid-masjid Muhammadiyah melakukan penggalangan infak Salat Jumat untuk membantu korban gempa NTT.
Penggalangan infak dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Dari total dana yang terhimpun, Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah di NTT.
Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang bekerja di tengah situasi bencana. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur dan jamaah Salat Jumat yang mempercayakan bantuan melalui Lazismu.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan. Tentu kami juga berterima kasih kepada para donatur dan jamaah Salat Jumat atas kepercayaannya, sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan,” ujar Barry, Jumat (4/9/2026).
Respons Berlanjut hingga Rehabilitasi
Lazismu memastikan Program Indonesia Siaga di NTT akan terus dipantau dan dievaluasi. Dana yang dihimpun dari masyarakat akan dioptimalkan untuk mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak.
Respons tersebut tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Lazismu menargetkan dukungan dapat berlanjut hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, sekaligus membangun ketangguhan masyarakat NTT dalam menghadapi bencana.
“Insyaallah, dukungan ini akan terus dilanjutkan untuk membangun ketangguhan masyarakat dan membantu penyintas bangkit dari dampak bencana,” imbuh Barry.
Masyarakat masih dapat berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan Muhammadiyah untuk penyintas gempa NTT melalui donasi.lazismu.org/bantuanbencana.
Perkembangan respons kemanusiaan juga dapat dipantau melalui lazismu.org/dashboardresponntt. (*)

