28.3 C
Jakarta

Mutiara Jumat : Butuh Pengakuan

Baca Juga:

KEBUTUHAN diakui oleh orang lain, adalah kebutuhan dasar manusia. Konon ada beberapa sifat dasar manusia. Yang cenderung buruk, misalnya : Suka dipuji ( riya ), mudah tersinggung ( baper ), bakhil ( pelit ), pun sebaliknya. Rendah hati, istiqamah, pemurah adalah beberapa sifat baik yang ada pada diri manusia. Syetan belum “bermain” dalam diri kita, konon sifat yang saling berseberangan itu sudah bersemayam. Tinggal pengaruh mana yang dominan dalam diri yang akan berkembang. Itulah yang akan nampak, menjadi ciri kita.at
Maka tidak berlebihan jika dalam diri manusia, ada 2 kekuatan yang saling tarik-menarik, yakni fujuraha wa taqwaha. Sifat fujur, buruk dan taqwa. Siapapun memiliki dua sifat ini. K meeduanya saling berkelindan dalam diri dan jiwa, berperang. Mana yang menang. Saat kita beramal saleh, maka syetan akan masuk lewat berbagai pintu agar amal saleh kita yang baik itu akan menjadi rusak. Jika tidak rusak secara kasat mata, minimal rusak secara hati. Menjadikan diri kita, pelaku menjadi tidak ikhlas, atau kalau kita sudah berusaha ikhlas, maka syetan akan masuk melalui pintu ujub ( bangga diri, riya dalam hati ), yang  orang lain tidak tahu. Dalam hati menepuk dada, dengan mengatakan : Masjid ini, kampung ini, desa ini, sekolah ini, dsb, kalau tidak karena  aku, tidak akan pernah menjadi seperti ini. Pengorbananku sangat besar, sehingga bisa merubah semuanya.
Hati-hati dengan tipu daya syetan yang sangat halus dan menjerumuskan.  “Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”Makna: Allah udah kasih kita “software” buat tahu mana baik-buruk. Legislasi diri dengan memilih jalan takwa & berusaha menyuci jiwa tiap hari. Ruginya kalau kita biarkan diri tanpa aturan, jadinya dassaaha = dikotori hawa nafsu.
Agar tidak terjebak dalam amalan yang sia-sia. Miskin makna dan pahala, maka mari bersama kita muhasabah diri, apakah benar amal soleh yang kita lakukan semata kita persembahkan kepada Allah saja. Jika masih ada sedikit agar ( selalu ) diakui oleh orang lain, jika tidak maka kita akan kecewa. Segera kita mohon ampun.
Pertama. Pengakuan ( Legislasi ) orang lain, bisa membuat saja kita kecewa tapi terlena. Ada pepatah mengatakan : Dipuji tidak tinggi hati, tidak dihargai jalan sendiri. Memang tidak mudah. Kalau kerja kita, hanya kita persembahkan untuk pimpinan, maka giliran pimpinan tidak sedang ditempat, maka kualitas bekerja kita seadanya. Ada pimpinan, kita tidak dipuji, ujungnya sakit hati. Karena pimpinan juga manusia, mereka tentu tidak hanya memperhatikan kita saja. Mereka juga mempunyai keterbatasan. Yang tidak punya keterbatasan adalah Allah yang Maha Perkasa dan Bijaksana.
Kedua. Latih diri untuk selalu Sabar, Syukur dan Ridha. Mengapa perlu dilatih? Karena 3 instrumen itu tidak akan tiba-tiba melekat dalam tubuh kita, tanpa melalui latihan demi latihan yang ekstra. Sabar, Syukur dan Ridha, ibarat trisula senjata kita dalam menghadapi segala cuaca dan suasana. ( Sekian )

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!