30.7 C
Jakarta

Nurlina Rahman, Sang Narator Di Balik Suksesnya Panggung Drama Kolosal LSB PWM DKI Jakarta “Dari Tanah Tinggi Matahari itu Bersinar”

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM DKI Jakarta bekerjasama dengan Grup Kembang Batavia Lenong Denes sukses menggelar pementasan Sandiwara Kolosal Orang Betawi yang berlangsung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada 27 November 2023. Drama kolosal yang membawa lakon “Dari Tanah Tinggi Matahari Itu Bersinar,”  tersebut digelar sebagai persembahan LSB PWM DKI Jakarta dalam rangka memeriahkan Milad ke-111 Muhammadiyah.

Menampilkan para akademisi sebagai tokoh cerita, drama kolosal tersebut juga  didukung oleh siswa SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru, siswa SD Muhammadiyah 6 Tebet Timur, siswa SD Muhammadiyah 24 Rawamangun, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) dan ibu-ibu Aisyiyah.

Drama kolosal Dari Tanah Tinggi Matahari Itu Bersinar, merupakan garapan apik dari tim yang dipimpin Prof. Dr. Agus Suradika, dengan manager Produksi Prof. Dr. Imam S. Bumiayu (Prof. Dr. M. Imamudin, M.M, M.Sc), Sutradara Tutur Denes, music oleh Gambang Kromong Dimas Pelangi & Goes Plus serta Guest Stars De’Baskom.

Drama kolosal diantar dengan baik oleh narator sekaligus MC Nurlina Rahman. Wakil Ketua LSB PWM DKI Jakarta tersebut dengan kepiawiannya menyusun kata demi kata dalam intonasi yang tepat telah mampu mengantarkan penampilan drama kolosal tampak sangat hidup bahkan mampu menyihir perhatian penonton dengan sempurna.

“Ini adalah kisah perjuangan Kyai Ahmad Dahlan yang memiliki pandangan jauh kedepan untuk membangun kaum pribumi menjadi pribadi insan kamil yang berpegang teguh kepada Rabbnya untuk meluruskan ajaran Islam dari segala kesyirikan, kemalasan, kebodohan, dan penyimpangan aqidah yang dibuat oleh kaum abangan,” demikian Nurlina membuka panggung.

Bermula dari Kauman, ia mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, agar kelak mereka terbebas dari kebutaan, ketulian, serta kebisuan dalam memahami Kalam Allah yang dibantu oleh saudaranya yakni HM. Sangidu. Dan ketika pencerahan itu datang, maka HM Sangidu menyarankan sang Kyai membuat organisasi yang diberi nama Muhammadiyah agar pemurnian Alquran bisa menyeluruh ke tanah Jawa.

Dalam narasi selanjutnya, Nurlina Rahman menyampaikan bahwa masa pergerakan Muhammadiyah memasuki kota Betawi pada 1923, sebuah kota Dimana hegemoni dan heterogensi kultural berkembang pesat. ‘Dengan dukungan teman-teman dari Boedi Utomo, maka berpijaklah pergerakan Muhammadiyah di Batavia yang dimulai dari Tanah Tinggi,” Nurlina melanjutkan.

Nurlina Rahma, sang narator dan MC drama kolosal Dari Tanah Tinggi Matahari Itu Bersinar

Ternyata di setiap wilayah dan di setiap kampung yang didatangi tidaklah sama jenis karakter dan tabiat manusianya. Kota Batavia ternyata lebih kompleks permasalahannya ketimbang daerah lainnya. Setiap pencerahan yang diberikan oleh Sang Kyai di tanah Betawi selalu mendapat pertentangan bahkan perlawanan dari masyarakatnya hingga timbul fitnah di sana-sini. Tetapi bagi seorang Ahmad Dahlan, ini adalah jihad fisabilillah dalam memerangi orang-orang yg mengaku Islam namun perbuatannya selalu fasik. Dengan kesantunan dan bukti nyata yg dibuat oleh Sang Kyai dan seluruh pengurus pergerakan, maka pelan-pelan isu dan fitnah itu tertepis seiring perkembangan zaman.

“Dan lihatlah kini, berapa banyak masjid-masjid yg telah berdiri. Berapa banyak sekolah sekolah serta rumah sakit yang telah berdiri. Dan berapa banyak jumlah panti yang sudah berdiri untuk mengurusi para fakir, anak terlantar serta yatim piatu? Semua telah berdiri dalam membantu masyarakat kota Betawi yang kini disebut kota Jakarta! Dan kini sinaran Organisasi Muhammadiyah, menyinari ummat di kota besar ini, serta orang kini berbondong-bondong masuk agama Allah dengan gembira dan terlindungi di bawah naungan organisasi Persyarikatan Muhammadiyah!,” tutup Nurlina mengakhiri panggung drama kolosal.

Nurlina yang juga menjabat Wakil Dekan 1 FISIP UHAMKA berhasil mengantar fase demi fase potongan panggung drama hingga membentuk puzzle yang sempurna. Maka dari awal hingga akhir penampilan drama kolosal, penonton yang memenuhi ruang teater besar TIM mengikuti dengan seksama.

Gelorakan Seni

Penampilan drama kolosal dibagi dalam dua sesi, yakni sesi pertama pada siang hari dan sesi kedua pada malam hari. Pada sesi siang hari, sambutan disampaikan oleh Ketua Majelis Dikdasmen PWM DKI Jakarta, Dr. Tadjudin Nur dan Ketua Lembaga Seni Budaya PWM DKI Prof Dr. M. Imamudin, MM. M.Sc.

Lalu sesi malam hari, sambutan disampaikan Ketua PWM DKI Dr. Akhmad H Abu Bakar, MM dan Ketua LSB PP Muh Dr. Edi Sukardi M.Pd.

Dalam keterangannya, Ketua LSB PP Muhammadiyah Dr. Edi Sukardi mengatakan dalam sejarah pergerakan Muhammadiyah, tokoh pendiri KH Ahmad Dahlan pernah datang ke Jakarta. Peristiwa yang terjadi tahun 1923 tersebut menjadi tonggak bersejarah berkembangnya Muhammadiyah di tanah Betawi.

“Selaku pimpinan Muhammadiyah bidang seni budaya, kami sangat mendukung program ini menjadi bagian pengembangan seni budaya ke wilayah-wilayah Muhammadiyah, terus sampai ke daerah untuk kita kembangkan seni budaya di lingkungan Muhammadiyah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PWM DKI Jakarta Ahmad Abu Bakar menjelaskan drama kolosal yang mengangkat kehidupan dan perjuangan KH Ahmad Dahlan ini menjadi suatu pelajaran dan pengetahuan. Di sisi lain kisah perjuangan KH Ahmad Dahlan memang harus dipahami oleh seluruh warga Muhammadiyah di DKI Jakarta yang nantinya bisa menjadi dakwah Muhammadiyah.

Penampilan ibu-ibu Aisyiyah dalam drama kolosal Dari Tanah Tinggi Matahari Itu Bersinar

“Drama kolosal ini sangat menarik, baru tampil sekali dan menjadi awal. Dan insya Allah bisa kita rencanakan, kita laksanakan setiap tahun sehingga benar-benar paham dan familiar lebih luas dalam memahami Muhammadiyah,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PWM DKI Jakarta, Prof Agus Suradika mengatakan PWM DKI Jakarta dalam program kerja 202-27 salah satunya menggelaorakan semangat berkesenian. Ia mengakui ada pandangan sebagian masyarakat, seolah kesenian adalah barang haram.

“Tetapi kemudian keputusan tarjih menjadikan seni asalnya mubah dan itu fitrah manusia yang harus disalurkan. Maka Muhammadiyah melalui LSB menggelorakan semangat berkesenian dalam kaitanya dengan dakwah kultural,” kata Agus.

Menurutnya memperkenalkan Muhammadiyah lewat buku tentu bagus. Tetapi memperkenalkan Muhammadiyah lewat seni, tradisi lenong atau sandiwara itu semakin mempermudah masyarakat warga Muhammadiyah untuk memahami bagaimana historis Muhammadiyah di tanah Betawi.

“Kami para pimpinan saat mengecek naskah alur cerita darama kolosal ini, semakin memahami oh begini rupanya perjuangan Kyai Dahlan di Tanah Betawi,” jelasnya.

Setelah KH Ahmad Dahlan, ke depan PWM DKI Jakarta akan mencari tokoh-tokoh Muhammadiyah lain yang akan dikenalkan kepada masyarakat seperti Ki Bagus Hadikusumo atau tokoh lainnya. “Muhammadiyah menjadi besar begini tidak datang ujug-ujug kata orang Betawi bilang. Tetapi ada perjuangan panjang yang dilalui Muhammadiyah,” ujarnya.

Sementara itu Ketua PWM DKI Jakarta peruode 2015-2022 Ahmad Miskam mengaku sangat menikmati pertunjukan seni ini dimana sesuatu yang sebenarnya berat bisa disampaikan dengan ringan, menghibur dan menyenangkan sehingga amat mudah dipahami, masyarakat luas.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!