PC IMM Sukoharjo: Ibu Bisa Mendidik Generasi dan Berkiprah di Publik

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Peran ibu sebagai pendidik pertama bagi anak tidak berarti perempuan harus berhenti belajar dan membatasi diri di ruang domestik. Perempuan tetap dapat mengembangkan kapasitas diri, berkiprah di dunia akademik, serta berkontribusi dalam kebijakan publik dengan dukungan keluarga dan pembagian tanggung jawab yang adil.

 

Pesan tersebut mengemuka dalam Talkshow Immawati yang digelar Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Sukoharjo bertajuk “Metamorfosis Peran Ibu: Dari Ruang Domestik Menuju Kontribusi Akademik dan Kebijakan Publik” di Ruang Amphitheater Fakultas Agama Islam, Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Sabtu (17/10/2026).

 

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Erni Zuhriyati, S.S., S.IP., M.A., Lenny Ratih Agustin, S.T., M.M., dan Yenny Prastiwi, Ph.D. Ketiganya membahas transformasi peran perempuan dalam keluarga, dunia akademik, dan ruang publik.

 

Ketua Umum PC IMM Sukoharjo, Azhar Ardiansyah Al Aziz, dalam sambutannya menyoroti berbagai persoalan pengasuhan anak di lingkungan keluarga. Menurutnya, peran orang tua memiliki pengaruh besar terhadap proses pendidikan dan perkembangan anak.

 

“Pendidikan anak tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab orang tua dan kualitas relasi yang dibangun di dalam keluarga,” ungkapnya, Senin (19/10/2026).

 

Perwakilan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PD NA), Mariana, S.Psi., turut menekankan pentingnya kebahagiaan perempuan dalam menjalankan berbagai peran kehidupan.

 

Menurutnya, perempuan perlu memperoleh ruang untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri tanpa kehilangan kesempatan menjalankan tanggung jawab dalam keluarga maupun masyarakat.

 

Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Salmah Orbayinah, melalui tayangan video mengajak peserta merefleksikan amanah mendidik generasi. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut bukan hanya berada di pundak ibu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.

 

Ibu Adalah Sekolah Pertama bagi Anak

 

Narasumber pertama, Erni Zuhriyati, mengangkat ungkapan penyair Mesir Hafiz Ibrahim, “Al-ummu madrasatul ula”, yang berarti ibu adalah sekolah pertama bagi anak.

 

Menurut Erni, ungkapan tersebut tidak hanya menegaskan pentingnya peran ibu dalam pendidikan anak, tetapi juga mengingatkan bahwa seorang perempuan perlu terus belajar agar mampu menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dengan baik.

 

“Seorang ibu perlu membangun rasa aman dan kepercayaan dalam diri anak. Rumah menjadi tempat anak memperoleh pelajaran awal, mulai dari mengenal Allah melalui doa dan keteladanan hingga mempelajari akhlak melalui tutur kata serta perilaku orang tua,” jelasnya.

 

Erni juga mengaitkan pendidikan keluarga dengan Surah At-Tahrim ayat 6 yang mengingatkan orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya. Menurutnya, pendidikan anak tidak cukup diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keimanan, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

 

Ia merujuk pada nasihat Luqman kepada anaknya untuk menekankan tiga nilai penting dalam pendidikan, yaitu tauhid dan keimanan, ibadah yang disertai kesabaran serta kepedulian sosial, dan akhlak yang tercermin dalam sikap rendah hati.

 

Di tengah perkembangan teknologi digital, Erni menilai perempuan juga perlu memiliki literasi digital yang memadai. Ibu perlu memahami cara menjaga privasi anak, mendampingi penggunaan teknologi, serta membangun karakter anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

Karena itu, peran ibu sebagai madrasah pertama perlu diiringi dengan kemauan untuk terus belajar, bersikap kritis, dan mengikuti perkembangan zaman.

 

Pekerjaan Rumah Tangga Bukan Tanggung Jawab Ibu Semata

 

Narasumber kedua, Lenny Ratih Agustin, menyoroti perubahan peran perempuan dalam kehidupan masyarakat. Perempuan kini semakin banyak terlibat dalam dunia kerja, akademik, dan politik. Namun, keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan domestik belum selalu menunjukkan keseimbangan yang sama.

 

Kondisi tersebut, menurut Lenny, menunjukkan pentingnya membangun kemitraan yang sehat antara suami dan istri, terutama dalam pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga.

 

“Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun kerja sama yang baik antara suami dan istri. Pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga tidak semestinya dipandang sebagai tanggung jawab perempuan semata, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan komunikasi, pengertian, dan pembagian peran yang adil,” tuturnya.

 

Ia menegaskan bahwa kontribusi perempuan di ruang publik tidak harus dipertentangkan dengan perannya dalam keluarga. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila pasangan saling mendukung dan memiliki kesadaran bersama dalam menjalankan tanggung jawab rumah tangga.

 

Pembagian peran yang adil juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung perempuan untuk berkembang, melanjutkan pendidikan, meniti karier, dan berkontribusi bagi masyarakat.

 

Empat Kunci Menjalani Peran sebagai Ibu dan Perempuan Karier

 

Sementara itu, Yenny Prastiwi, Ph.D., membahas tantangan perempuan yang menjalani beragam peran sekaligus, seperti menjadi dosen, istri, dan ibu. Setiap peran memiliki tuntutan dan ritme berbeda sehingga diperlukan pengelolaan waktu, energi, serta tanggung jawab secara bijaksana.

 

Yenny memaparkan empat hal yang dapat mendukung perempuan dalam menjalani berbagai peran tersebut, yakni mengutamakan kualitas, memperoleh dukungan pasangan, membangun komunikasi yang jujur, dan menerapkan manajemen waktu.

 

“Keempat hal tersebut menjadi penting agar perempuan dapat menjalankan tanggung jawabnya tanpa mengabaikan kebutuhan diri sendiri maupun hubungan dengan keluarga,” paparnya.

 

Menurutnya, dukungan pasangan dan komunikasi terbuka membantu keluarga menghadapi tantangan pengasuhan serta tuntutan pekerjaan secara bersama-sama.

 

Pendekatan tersebut juga menegaskan bahwa keberhasilan perempuan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya tanggung jawab yang dapat ditangani, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas hubungan keluarga dan memperhatikan kebutuhan diri sendiri.

 

IMMawati Dorong Perempuan Terus Bertumbuh

 

Melalui talkshow ini, PC IMM Sukoharjo melalui bidang IMMawati menegaskan pentingnya memperluas pemahaman tentang peran perempuan di tengah perubahan sosial.

 

Menjadi ibu sebagai madrasah pertama bukan berarti perempuan harus berhenti belajar setelah memasuki kehidupan berkeluarga. Sebaliknya, perempuan perlu terus bertumbuh, memperluas wawasan, dan meningkatkan kapasitas diri agar mampu mendidik generasi sekaligus memberikan kontribusi di dunia akademik dan ruang publik.

 

Diskusi tersebut juga menempatkan keluarga sebagai ruang kolaborasi yang membutuhkan keterlibatan ayah dan ibu. Dukungan pasangan, komunikasi terbuka, serta pembagian tanggung jawab yang adil menjadi unsur penting agar perempuan dapat menjalankan berbagai perannya secara seimbang.

 

Dengan demikian, transformasi peran ibu tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan ruang domestik, melainkan memperluas kesempatan perempuan untuk berkembang tanpa mengabaikan pendidikan anak dan kehidupan keluarga.

 

Melalui kegiatan ini, PC IMM Sukoharjo berharap perempuan, khususnya kader IMMawati, semakin memahami pentingnya pendidikan, kemandirian, dan aktualisasi diri dalam membangun keluarga sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!