30.9 C
Jakarta

60 Tahun Hari Aksara Internasional, Mendikdasmen Tegaskan Literasi adalah Kemampuan Membaca Kehidupan

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM  — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa literasi tidak lagi dapat dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, ancaman krisis lingkungan, serta kemunculan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), literasi harus berkembang menjadi kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.

Hal tersebut disampaikan Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam rangkaian Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang tahun ini sekaligus menandai 60 tahun sejak Hari Aksara Internasional pertama kali diperingati pada 1966 pada Selasa (8/9/2026).

Dalam sambutannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa perjalanan enam dekade Hari Aksara Internasional menjadi momentum untuk kembali mengingat pentingnya literasi sebagai fondasi martabat manusia, pendidikan sepanjang hayat, serta kemajuan bangsa dan negara. “Literasi hari ini memiliki makna yang semakin luas. Literasi tidak lagi cukup dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurut Mendikdasmen, masyarakat pada era saat ini harus memiliki kemampuan untuk memahami informasi secara kritis, berpikir reflektif terhadap berbagai konten yang dikonsumsi, terus belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan. “Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan peringatan Hari Aksara Internasional 2026 memiliki arti khusus karena menandai enam dekade sejak peringatan tersebut pertama kali digelar pada 1966. Perjalanan selama 60 tahun menunjukkan bahwa literasi tetap menjadi persoalan penting yang harus mendapatkan perhatian bersama.

Meskipun berbagai negara telah mengalami kemajuan dalam meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, diakui Mendikdasmen, masih terdapat jutaan orang yang belum memiliki kemampuan literasi dasar. Data UNESCO menunjukkan masih terdapat sekitar 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia yang belum memiliki keterampilan literasi dasar. Selain itu, sekitar empat dari 10 siswa di dunia disebut belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca pada akhir jenjang pendidikan dasar.

Bagi Abdul Mu’ti, angka tersebut bukan sekadar statistik. Data tersebut merupakan pengingat bahwa masih terdapat masyarakat yang belum memperoleh akses terhadap hak dasar untuk belajar, memahami informasi, mengembangkan diri, dan berpartisipasi secara bermartabat dalam kehidupan.

Karena itu, peringatan Hari Aksara Internasional 2026 tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi momentum refleksi sekaligus mendorong aksi nyata. Menurutnya, peringatan tahun ini perlu dimanfaatkan untuk melihat kembali capaian literasi selama 60 tahun, mendalami perubahan makna literasi di era digital dan AI, serta membangun agenda literasi yang relevan untuk masa depan.

Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera

Tahun ini UNESCO mengangkat tema global “Literacy for People, the Planet and Prosperity.” Indonesia kemudian mengadaptasi tema tersebut menjadi “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera.”

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa tiga unsur dalam tema tersebut memiliki makna yang saling berkaitan. “Sesama” menggambarkan upaya memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari kesempatan belajar. Literasi harus menjadi sarana untuk membangun masyarakat yang inklusif, memperkuat literasi kritis, serta membuka ruang dialog antargenerasi.

Setiap orang, termasuk kelompok yang berada di wilayah terpencil dan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan, harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.

Sementara itu, “semesta” mengandung pesan mengenai pentingnya literasi terhadap lingkungan. Masyarakat perlu memiliki kemampuan memahami berbagai persoalan lingkungan, termasuk perubahan iklim, konservasi, dan keberlanjutan. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk menjaga lingkungan.

Adapun “sejahtera” menekankan hubungan antara literasi dengan kualitas kehidupan. Literasi dapat menjadi fondasi bagi kecakapan hidup, literasi finansial, keterampilan digital, produktivitas, kemampuan bekerja dan berkarya, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Menurut Abdul Mu’ti, konsep 3S—Sesama, Semesta, dan Sejahtera— dapat menjadi rumah gerakan literasi yang ringkas, mudah diingat, dan kontekstual bagi satuan pendidikan, komunitas, maupun masyarakat luas.

Diakui Mendikdasmen Abdul Mu’ti, pembangunan masyarakat literat tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Diperlukan partisipasi seluruh elemen bangsa, mulai dari satuan pendidikan, keluarga, pemerintah daerah, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), sanggar kegiatan belajar (SKB), taman bacaan masyarakat, forum atau asosiasi pendidikan nonformal dan informal (PNFI), komunitas literasi, organisasi masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, media, hingga para pegiat pendidikan.

Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada para pegiat literasi yang selama ini bekerja di berbagai wilayah Indonesia.Baginya, para pegiat literasi merupakan garda terdepan dalam menghidupkan budaya belajar di tengah masyarakat, termasuk di pelosok desa, ruang belajar sederhana, dan berbagai wilayah yang memiliki keterbatasan sarana.

“Kalian adalah garda terdepan yang menghidupkan literasi di tengah masyarakat, di pelosok desa, di ruang belajar sederhana, dan di tengah segala keterbatasan yang ada,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Ia berharap semangat tersebut terus diperkuat melalui kegiatan literasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan literasi, tidak harus selalu berskala besar. Yang lebih penting adalah kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan melibatkan warga belajar, keluarga, serta komunitas.

September 2026 Momentum Bulan Literasi

Peringatan Hari Aksara Internasional tahun ini juga diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan berbagai kegiatan literasi sepanjang September 2026. Mendikdasmen Abdul Mu’ti mendorong agar kegiatan literasi dilaksanakan secara nyata di berbagai daerah dan komunitas.

Kegiatan dapat dirancang secara sederhana, tetapi harus memiliki keterkaitan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, literasi tidak menjadi kegiatan yang hanya berlangsung di ruang kelas atau pada momentum tertentu, melainkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran yang mendalam, kontekstual, reflektif, dan menggembirakan. Pembelajaran tidak cukup hanya membuat peserta didik memahami kata atau teks, tetapi harus mendorong mereka memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Karena itu, kemampuan membaca perlu diikuti kemampuan mendengar, menulis, berpikir, merefleksikan pengalaman, serta mengambil tindakan.

Perubahan teknologi menjadi salah satu alasan mengapa konsep literasi perlu terus diperluas. Abdul Mu’ti menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial memberikan peluang baru bagi masyarakat untuk belajar dan memperoleh informasi.

Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menilai informasi, membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan, serta menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

Dengan semakin mudahnya masyarakat memperoleh informasi melalui perangkat digital, kemampuan membaca secara kritis menjadi semakin penting.

Literasi pada akhirnya bukan hanya kemampuan mengakses informasi, tetapi kemampuan memahami konteks, menilai kebenaran informasi, dan menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan. Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah berkembangnya AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, audio, dan berbagai bentuk informasi dalam waktu singkat.

Ia juga menegaskan bahwa penguatan literasi memiliki hubungan erat dengan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Penguatan literasi sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing sebagaimana menjadi bagian dari Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Literasi menjadi salah satu fondasi penting bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Bangsa yang literat bukan hanya bangsa yang mampu membaca dan menulis, tetapi bangsa yang mampu memahami persoalan, berpikir kritis, beradaptasi terhadap perubahan, peduli terhadap lingkungan, serta menggunakan pengetahuan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Dalam konteks pendidikan, pembelajaran mendalam menjadi penting agar peserta didik tidak sekadar menghafal informasi. Peserta didik perlu memahami sesuatu secara lebih mendalam, belajar dengan gembira, melakukan refleksi, dan menghubungkan pengetahuan dengan realitas kehidupan.

Dari Membaca Menuju Perubahan 

Peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional 2026 akhirnya menegaskan satu pesan utama: literasi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan manusia. Abdul Mu’ti mengajak seluruh peserta dan masyarakat Indonesia untuk menjadi manusia-manusia yang literat, bukan hanya dalam arti memiliki kemampuan aksara, tetapi juga memiliki berbagai bentuk literasi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Literasi harus mampu membuat manusia memahami sesama, menjaga semesta, dan menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera. “Marilah kita jadikan literasi bukan hanya kemampuan untuk membaca kata, tetapi kemampuan untuk membaca kehidupan dan mengubahnya menjadi lebih baik,” tegas Abdul Mu’ti.

Ia juga mengajak agar peringatan Hari Aksara Internasional tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Enam dekade perjalanan Hari Aksara Internasional harus menjadi pijakan untuk membangun gerakan literasi yang lebih inklusif, kontekstual, adaptif, dan berkelanjutan.

“Dari membaca, masyarakat diharapkan mampu memahami. Dari memahami, tumbuh kepedulian. Dari kepedulian, lahir gerakan. Dan dari gerakan tersebut, diharapkan tercipta masyarakat Indonesia yang semakin berdaya, berpengetahuan, peduli terhadap lingkungan, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan hidup lebih Sejahtera,” ujar Mendikdasmen.

Literasi Harus Mengubah Kehidupan

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menyampaikan bahwa peringatan Hari Aksara Internasional bukan hanya bertujuan mengenang perjalanan panjang pengentasan buta aksara. Peringatan tersebut juga menjadi momentum untuk melihat bagaimana makna literasi terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Dirjen Tatang menggambarkan bagaimana kemampuan membaca dapat mengubah kehidupan seseorang. Ia memberikan ilustrasi tentang seorang ibu di pelosok negeri yang selama bertahun-tahun kesulitan membaca surat, memahami informasi, hingga mengisi formulir sehingga harus meminta bantuan orang lain.

Ketika akhirnya mampu membaca, perubahan yang terjadi dalam hidupnya tidak berhenti pada kemampuan mengenali huruf. “Ia dapat membaca pesan dari anaknya, memahami petunjuk penggunaan obat, membaca informasi mengenai harga hasil kebun, mengurus berbagai keperluannya sendiri, dan perlahan memiliki rasa percaya diri,” katanya.

Dari ilustrasi tersebut, Tatang menekankan bahwa literasi pada hakikatnya merupakan kemampuan membaca kehidupan.

Lebih lanjut, Dirjen Tatang mengatakan tantangan literasi saat ini jauh lebih luas. Masyarakat harus mampu membaca informasi, memilah informasi yang benar dan menyesatkan, berpikir kritis, menggunakan teknologi dan AI secara bijak, mengambil keputusan, serta terus belajar sepanjang hayat.

“Ukuran keberhasilan literasi bukan seberapa meriah kita memperingatinya, tetapi seberapa banyak kehidupan yang berubah karenanya,” kata Dirjen Tatang.

Ia pun mengajak masyarakat menjadikan September 2026 sebagai momentum untuk bergerak dari membaca menuju memahami, dari memahami menuju peduli, dari peduli menuju bergerak, dan dari gerakan tersebut diharapkan lahir kesejahteraan.

UNESCO: Kemajuan Literasi Global Belum Jangkau Semua Orang

Sementara itu, Mr. Santosh Khatri, Chief of Education UNESCO untuk kawasan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Timor-Leste, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional. Menurut Khatri, selama enam dekade Hari Aksara Internasional telah mengingatkan dunia bahwa literasi merupakan hak manusia sekaligus fondasi penting untuk belajar, berpartisipasi dalam masyarakat, memperoleh martabat, dan menikmati berbagai hak lainnya.

Ia menyebut dunia telah mengalami kemajuan signifikan. Tingkat literasi orang dewasa secara global kini telah mencapai lebih dari 88 persen, dibandingkan sekitar 65 persen pada 1975.

Namun, kemajuan tersebut belum menjangkau seluruh masyarakat. Pada 2024, masih terdapat sekitar 739 juta orang dewasa yang belum memiliki kemampuan literasi dasar dan sekitar dua pertiganya merupakan perempuan. Khatri menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa literasi masih menjadi tantangan yang membutuhkan komitmen berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Khatri juga menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai kemajuan penting dalam literasi dasar. Menurut data yang disampaikannya, hampir 97 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas telah memiliki kemampuan literasi pada 2024.

Namun, ia mengingatkan bahwa angka literasi dasar tidak memberikan gambaran lengkap mengenai kualitas kemampuan literasi masyarakat. Kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berpartisipasi dalam masyarakat, dan belajar sepanjang hayat juga harus menjadi perhatian.

Ia mencontohkan hasil PISA yang menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kemampuan membaca peserta didik Indonesia dengan rata-rata negara OECD. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan kemampuan memahami bacaan sejak kelas-kelas awal.

Menurut Khatri, keberagaman Indonesia juga mengharuskan pembelajaran dilakukan secara kontekstual dengan memperhatikan bahasa, budaya, masyarakat, kehidupan, dan lingkungan peserta didik. Ekosistem pembelajaran pun tidak hanya berada di sekolah. Keluarga, komunitas, tempat kerja, serta berbagai ruang pembelajaran lainnya memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi.

Khatri menjelaskan bahwa tema global “Literacy for People, the Planet and Prosperity” melihat literasi melalui tiga dimensi yang saling terhubung. Pertama, people atau manusia. Literasi memungkinkan seseorang berpartisipasi dalam masyarakat, memahami hak, berkomunikasi, serta mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Kedua, planet atau planet/semesta. Literasi membantu masyarakat memahami berbagai tantangan lingkungan, seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, sekaligus mendorong pengetahuan tersebut menjadi tindakan.

Ketiga, prosperity atau kesejahteraan. Literasi membantu seseorang mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk belajar, bekerja, membangun kehidupan, dan mendapatkan peluang ekonomi.

Ketiga dimensi tersebut, menurut Khatri, saling berkaitan. Literasi memungkinkan seseorang untuk berpartisipasi, beradaptasi, dan berkontribusi sehingga pada akhirnya dapat membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif, damai, dan berkembang.

Momentum 60 tahun Hari Aksara Internasional juga dinilai sebagai kesempatan untuk melihat kembali perjalanan literasi, memahami tantangan yang berkembang, sekaligus menatap agenda masa depan. UNESCO mendorong penguatan agenda literasi dan keterampilan setelah 2030.

Upaya tersebut membutuhkan kerja bersama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas masyarakat, sektor swasta, organisasi internasional, hingga para pembelajar.

Teknologi digital dan AI juga perlu dimanfaatkan untuk memperluas inklusi dan kesempatan belajar, dengan tetap memperhatikan keamanan dan tanggung jawab dalam penggunaannya.

Bagi UNESCO, literasi harus tetap menjadi bagian penting dari pembelajaran sepanjang hayat. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca kata, tetapi juga kemampuan memahami dunia dan memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kepercayaan diri untuk ikut membentuk masa depan yang lebih baik.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!