27.3 C
Jakarta

Pengarusutamaan Media Massa Muhammadiyah

Baca Juga:

Mohamad Fadhilah Zein
Mohamad Fadhilah Zeinhttp://menara62.com/
Jurnalis, Produser, Ghost Writer, Youtuber, Kolumnis. For further communication contact fadil_zein@yahoo.com

Apakah media massa yang bernaung di Muhammadiyah bisa menjadi arus utama? Mampu menggalang opini publik dan memengaruhi para pembuat kebijakan publik? Media arus utama identik dengan kekuatan modal. Di Indonesia, media-media besar dikuasai elit partai politik. Berbagai kritik terhadap afiliasi media massa terhadap partai politik hanya angin lalu. Jurnalisme pun kehilangan arah karena keberpihakan media massa terhadap pemilik modal. Media massa pun menjadi sebuah industri layaknya pabrik yang memproduksi informasi yang kemasannya penuh dengan kepentingan-kepentingan.

Realitas ini melahirkan media-media alternatif untuk mengimbangi dominasi media arus utama. Media online berbasis forum (citizen journalism) marak dan tersebar di jagat maya. Sosial media adalah fakta tak terbantahkan bagaimana wacana tidak lagi didominasi pihak-pihak tertentu. Apa yang trending di twitter, misalnya, ditindaklanjuti oleh media massa sebagai upaya klarifikasi dan verifikasi.

Sulitnya memisahkan kepentingan pemodal dan partai politik pada media yang menjadi afiliasi adalah problematika jurnalisme di Indonesia. Lahirnya media-media alternatif belum bisa mengimbangi media arus utama. Selain kepayahan dalam modal, media-media alternatif tidak memiliki infrastruktur dan SDM yang kokoh. Meski begitu, apakah media alternatif ini sulit mengukir prestasi? Jawabnya adalah tidak.

Media yang bersandar pada dana charity atau sumbangan tidak berarti media tersebut tidak bisa mengukir prestasi. Pulitzer yang merupakan penghargaan tertinggi bagi jurnalis, diterima oleh pengelola media online propublica.org pada 13 April 2010. Penghargaan tertinggi diberikan karena situs ini dinilai mampu mengimplementasikan etika jurnalisme yang baik dan pemberitaannya pun dianggap sangat baik.

Propublica.org menjadi pembicaraan bagi pengamat pers karena dia dianggap sebagai model media online yang tidak tergantung pada pemodal. Propublica bisa menjadi contoh dalam dunia jurnalistik di era digital, yang idealis dan hanya mengandalkan trafik pembaca untuk menarik iklan yang datang. Prestasi meraih Pulitzer Award karena situs online ini menurunkan berita investigasi tentang kematian kontroversial yang terjadi di rumah sakit New Orleans saat terjadi badai Katrina.

Cerita mengenai dilema seorang dokter yang harus mengambil keputusan tepat saat pasiennya terjebak banjir di Memorial Medical Centre. Juri menilai berita tersebut sangat menarik dan menjadikan Propublica sebagai media online pertama sepanjang sejarah yang meraih penghargaan Pulitzer.

Berita ini ditulis Sheri Fink dari Propublica bekerja sama dengan New York Times Magazine. Fink mampu mengelaborasi keadaan rumah sakit saat badai Katrina melanda Amerika Serikat. Tulisan berjudul The Deadly Choices at Memorial ini diunggah pada 27 Agustus 2009.

Muhammadiyah dan Media Massa

Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dengan media massa. Spirit media massa yang dikelola Muhammadiyah adalah semangat perlawanan. Hal itu bisa dilihat sejak organisasi ini berdiri dan bagaimana melawan penjajahan.  Haji Fachrodin sebagai tokoh pers di Muhammadiyah pernah mengungkapkan pentingnya media massa sebagai alat pergerakan. Pada 1919, Fachrodin menerbitkan koran “Srie Diponegoro.” Beberapa tahun kemudian, dia melahirkan Bintang Islam dengan posisi dirinya sendiri sebagai pemimpin redaksi.

Suara Muhammadiyah yang menjadi majalah resmi Muhammadiyah masih eksis hingga saat ini, lahir berkat tangan dinginnya. Kualitasnya di bidang tulis menulis melahirkan sebuah buku fenomenal “Kawan-Lawan-Kawan”.

Dalam Benteng Muhammadiyah, Fachroddin mengungkapkan pemikiran-pemikiran tentang media massa. Menurutnya, menulis merupakan anugerah yang harus diasah dan penulisnya harus dipenuhi dengan idealisme. Bakatnya tampak sejak aktivitasnya mengikuti pengajian modernis Ahmad Dahlan di Langgar Kidul. Bakat tersebut semakin terasah ketika ia belajar jurnalistik kepada Mas Marco Kartodikromo.

Fachrodin tercatat sebagai tokoh penting pers di masa pergerakan. Ia terlibat sejak awal penerbitan surat kabar Medan-Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917) bersama Haji Misbach (Solo). Fachroedin juga pernah tercatat sebagai pimpinan redaksi surat kabar mingguan Srie Diponegoro, kontributor di surat kabar Doenia Bergerak (1919), redaktur Pambrita CSI (1920), Soewara Moehammadijah (1920), Bintang Islam (1923), Tjamboek (1925), Soengoeting Moehammadijah, Pertimbangan (1924).

Karena tulisan-tulisannya yang tajam dan tidak jarang membuat pemerintah kolonial “kebakaran jenggot”, Fachrodin sering keluar masuk penjara karena delik pers. Selain di dunia pers, Fachrodin juga cukup banyak menulis buku, salah satunya yang terkenal adalah buku Marganing Koemawoela.

Untuk menjadikan media massa yang dikelola Muhammadiyah menjadi arus utama tentu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan tekad, kerja keras, loyalitas terhadap idealisme, konsistensi dan semangat perlawanan. Seperti semangat Haji Fachrodin yang menunjukkan bagaimana menulis mampu mengubah kehidupannya pribadi dan menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang bermartabat dan dihormati.

Media Muhammadiyah adalah yang paling berani dalam melawan kezaliman dan kolonialisme Belanda. Organisasi Islam lainnya pun melakukan hal yang sama. Masa kejayaan media massa Islam pernah terjadi ketika Hamka melahirkan Al-Munir yang terbit di Sumatera Barat, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Malaysia. Majalah ini menjadi alat perjuangan umat untuk menghalau dominasi penjajahan Belanda saat itu. Tentunya, hal ini semua bisa menjadi inspirasi bagi Muhammadiyah saat ini untuk melahirkan kembali semangat perlawanan melalui media massa. (*)

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!