26 C
Jakarta

Muhammadiyah Akan Susun Fikih Informasi

Baca Juga:

MENARA62.COM – Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sedang menyiapkan fikih jurnalistik / informasi dalam upaya memberikan pedoman kepada masyarakat dalam menggunakan media.

“Sekarang kebutuhan akan fikih jurnalistik atau fikih informasi itu dirasakan makin mendesak dengan perkembangan media belakangan, termasuk merebaknya hoax dan penyalahgunaan media sosial,” kata Edy Kuscahyanto, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, dalam Dialog Pers bertema Memerangi Hoax dan Penyalahgunaan Medsos, Perlukah Fikih Jurnalistik, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng, Jakarta, Selasa (21/2/2017)

Edy menyatakan, penyusunan fikih jurnalistik atau fikih informasi sudah menjadi program Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah sejak tahun lalu. Namun, prosesnya tidak sederhana sehingga sampai sekarang belum selesai. Dia berharap tahun ini selesai.

Menurut dia, dailog pers yang digelar dalam memaknai Hari Pers 2017 itu merupakan rangkaian dari upaya menyusun fikih jurnalistik atau fikih informasi. Setelah ini, akan dilakukan workshop dan diskusi lagi dengan sejumlah pakar, akademisi, dan praktisi.

Dialog pers kali ini menampilkan tiga narasumber, yakni Guru Besar Ilmu Komunikasi UI Ibnu Hamad, pakar media sosial Rulli Nasrullah, dan Direktur Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat Usman Yatim.

Ibnu Hamad mengatakan bahwa isi media merupakan wacara (discourse) dan tempat perterungan berbagai kepentingan. Dari perpektif news as discourse, menurut dia, ada tantangan sekaligus peluang untuk menyusun  fikih baru jurnalistik: membebaskan informasi (postingan) dari dimensi-dimensi yang menciderai isi informasi itu sendiri.

“Paradigma baru fikih jurnalistik adalah menggeser paradigma kebebasan ekspresi ke pembebasan informasi,” kata dia.

Rulli Nasrullah mengungkapkan bahwa media sosial telah membuat banyak orang menjadi tidak normal. “Apa-apa diposting di media sosial. Suami istri memposting masalah rumah tangga di facebook. Bahkan, ada yang memposting ke facebook temannya yang meninggal. Untung yang meninggal tidak menjawab,” kata dia sambil tertawa.

Menurut dia, merebaknya berita bohong atau hoax terjadi karena beberapa alasan, yakni bisnis, logika waktu cepat, FOMO (Fear of Missing Out), literasi media, dan fandom (fans). “Yang baru ramai, seorang wartawan senior ikut menyebar hoax itu fenomena FOMO, takut tidak update,” ujarnya.

Usman Yatim menekankan perlunya jurnalistik verifikasi sebagai upaya memerangi hoax, sebab banyak orang melakukan copy-paste pesan dan menyebarkan begitu saja. “Mestinya kita memverifikasi informasi yang kita terima, apalagi kalau mau menyebarkannya,” kata dia.

 

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!