27.1 C
Jakarta

Peningkatan Kualitas SDM bidang Teknik Perlu Terus Dikembangkan

Baca Juga:

WASHINGTON DC, MENARA62.COM – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington D.C. melalui Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) menggelar Serial Webinar Bincang Karya (Bianka) ke-14 dengan tema sumber daya manusia bidang teknik/ rekayasa. Webinar ini digelar kerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTNI).

Atdikbud RI di Washington D.C., Popy Rufaidah, mengungkapkan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia bidang teknik, sebagai salah satu bidang yang terus dikembangkan Pemerintah Indonesia.

“Webinar ini bertujuan mendorong peningkatan kerja sama riset dan pendidikan antara Indonesia dan Amerika Serikat pada bidang studi teknik. Harapannya, mahasiswa Indonesia bisa makin semangat untuk bersaing sehat mendapatkan kesempatan studi di berbagai kampus terkemuka di Amerika Serikat,” tutur Atdikbud Popy pada pelaksanaan webinar, Selasa (12/10).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama LPDP, Andin Hadiyanto, mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia sangat mendorong putra-putri terbaiknya untuk melanjutkan studi ke berbagai universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Ketua MRPTNI, Jamal Wiwoho, pada kesempatan terpisah mengatakan bahwa Bianka yang dikolaborasikan bersama KBRI Washington DC, LPDP dan MRPTNI telah dilaksanakan sejak 2020. “Saya harap, webinar ini bisa memberikan informasi seluas-luasnya bagi generasi yang akan melanjutkan studi master dan doktoral di perguruan tinggi AS dengan beasiswa. Selain itu, harapannya webinar ini bisa meningkatkan kolaborasi riset dan pendidikan antar perguruan tinggi di Indonesia dan AS,” tutur Jamal.

Terdapat tiga narasumber dari universitas ternama di Amerika Serikat yang hadir memaparkan beragam informasi program master, potensi kerja sama riset dan pendidikan, serta promosi beasiswa program doktor, yaitu: Profesor Teknik Energi, Direktur Program Pasca Sarjana, Pennsylvania State University, Mort Webster; Profesor dan Associate Director, Program Magister Teknik, Cornell University, Departemen Ilmu dan Teknik Material, Alexander Deyhim; dan Direktur Penerimaan dan Pendaftaran, Cornell Tech, Cornell University, Joseph Korevec.

“Para narasumber memberikan penjelasan komprehensif mengenai berbagai program bidang teknik yang ditawarkan, termasuk persyaratan, proses penerimaan, serta berbagai potensi kerja sama penelitian yang mungkin terlaksana,” terang Atdikbud Popy.

Hadir pula dalam webinar ini, tiga mahasiswa program master asal Indonesia, yaitu: Hanif F. Yoga, Mumtaziah Faaz, dan Novan Zakkia. “Ketiga mahasiswa Indonesia tersebut merupakan penerima beasiswa LPDP dan berbagai pemikiran untuk potensi riset dipaparkan dalam webinar kali ini,” imbuh Popy.

Hanif yang merupakan Mahassiwa Program Master Departemen Teknik Energi dan Mineral, Pennsylvania State University, memaparkan gagasan tentang pengelolaan gas karbondioksida. “Setidaknya ada tiga hal yang menjadi fokus utama, yakni berapa banyak dan berapa lama karbondioksida yang dapat disimpan, serta apakah karbondioksida dapat naik ke permukaan. Tapi lebih penting dari itu, bagaimana melihat hal ini dari sisi ekonomi,” terang Hanif dalam presentasinya. Penelitian ini, diterangkan Hanif, juga merupakan proyek kolaborasi antara Pennsylvania State University dan the National Energy Technology Laboratory, Departemen Energi, Amerika Serikat.

Sementara itu, perkembangan penggunaan baterai litium yang semakin tinggi seiring pesatnya perkembangan teknologi, termasuk di bidang otomotif Amerika Serikat, menarik perhatian Mahasiswa Magister Teknik, Cornell University, Mumtaziah Faaz.

“Penelitian menunjukkan bahwa kobalt dan litium banyak terkandung di lautan. Ini potensi luar biasa, mengingat sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari lautan. Tantangannya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan sumber daya alam ini sebaik mungkin dengan tidak merusak lingkungan,” tegas Mumtaziah.

Mumtaziah, dalam paparannya, mencoba menguji dua cara menambang litium dan kobalt yang berada di lautan yaitu dengan penggunaan ekspos UVC dan modifikasi material permukaan.

Sementara itu, Kandidat Magister Teknik Elektro dan Komputer, Cornell Tech, Cornell University, Novan Zakkia, berbagi pengalaman dan kesibukannya sebagai mahasiswa internasional. Diakui Novan, cita-citanya untuk menciptakan inovasi luar biasa mendorongnya untuk belajar di negara yang punya beragam kampus teknik terkemuka, yakni Amerika Serikat.

“Fokus saya ada pada efisiensi penggunaan energi untuk gedung-gedung komersil. Dalam prototipe proyek saya, ditemukan bahwa pemilik gedung tidak tahu menahu mengenai bagaimana cara membuat konsumsi energi menjadi efisien. Adanya kesenjangan antara pemilik gedung dengan ahli inilah yang mendasari saya dan tim untuk mencari solusinya,” terang Novan.

“Bersama tim, saya membuat sebuah platform yang dapat menghubungkan pemilik gedung dengan pemangku kebijakan atau ahli untuk bersama mengatasi problem ini,” tutur Novan. Dalam hal ini, dilanjutkan dia, data science dan machine learning akan menjadi bagian penting.

“Tantangannya adalah setiap gedung memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada perbedaan data tentang berapa energi yang dikonsumsi, serta teknologi macam apa yang digunakan dalam gedung tersebut,” jelas Novan.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!